Dari Cerita Seorang TemanBilah-bilah papan tak rapat, saban hujan, plastik hitam berdebu tak mampu menahan rintik mengguyur tubuh layu itu. Dingin pegunungan Gleu Pucok, Kecamatan Geumpang, Pidie, disergapnya hanya dengan sehelai kain. Sejak empat tahun silam, hanya sehelai sarung menutup tubuhnya.
Di atas dipan berukuran 3x3 meter, Nyak Rahsia, 62 tahun, menghabiskan sisa usia. Segala rutinitas dilakoni di sembilan baris papan, dari makan hingga ‘buang air.’ Hanya selembar tikar alasnya merebahkan badan dan kepala ditindih di bantal kumuh ‘telanjang’.
Di rumah reot, persis kaki bukit, di ujung jalan setapak Desa Pulolhoih ia menanti belas kasih. Rufdat, salah seorang family jauhnya meminjamkan dapur rumahnya untuk ditinggali Nyak Rahsia, hingga memberinya makan.
Sejak empat tahun silam, sebelah tubuhnya tak lagi berfungsi. Sementara lengan dan pungungnya, nyaris tak disisakan jamur. Sejak sulit bergerak, Nyak Rahsia tak lagi bekerja. Sebelumnya, apapun dikerjakannya demi sesuap nasi.
“Inoe Loen hana ek le kukerja, kiban nasib si dara loen, nye loen mete soe tem hiroe anuek loen? (Sekarang saya tidak lagi mampu bekerja, bagaimana ya dengan nasib anak saya, kalau saya meninggal siapa yang mau peduli nasib anak saya),” ucapnya dengan mata berkaca.
Anaknya, Nyak Puleh, 35 tahun juga dirudung malang. Sejak lahir, ia lumpuh layu dan tuna rungu. Walau demikian Nyan Rahsia sangat menyayangi anaknya itu. Nyak Rahsia terus punya keinginan sembuh dari penyakitnya, dan bisa mencari nafkah dan melihat anaknya bahagia.
Kini dua insan tersebut hanya mengharap iba tetangga untuk isi perut, hal yang paling pantang Nyak Rahsia lakukan semasa dia sehat. Dulu dia rela melakukan apa saja demi membahagiakan anak semata wayangnya itu.
Walau kini sama-sama tergolek di tempat tidur, Nyak Rahsia tidak mau makan sebelum anaknya makan terlebih dahulu.
“Saya sebisa mungkin berusaha membahagiakan anak saya,” kata Nyak Rahsia dengan suara berat, dalam bahasa Aceh. Menurut dia, sejak suaminya M. Daud meninggal 9 tahun lalu, dia menjadi orang tua tunggal menghidupi anak dan dirinya.
Hari ini, serbuan hawa dingin kembali menerpa kulit kerutnya. Sedingin nasib yang kini ia rasakan.
***
Nyak Rahsia dan M. Daud menikah 40 tahun lalu, tak ada pesta mewah yang digelar, namun acara sakral tersebut masih di kenang Nyak Rahsia. Tapi kebahagian tampak jelas dari rona kedua pengantin baru tersebut. Namun acara sakral tersebut masih di kenang Nyak Rahsia. “Pelaminan dilaksanakan pada malam hari, di terangi lampu strongkeng, dan debus,” Kata dia mengenang.
Walau tak punya penghasilan tetap, dan bekerja sebagai buruh tani mereka berhajat punya anak banyak sebagai mana keluarga lain di kampung tersebut. “Setahun, dua tahun sampai 6 tahun, belum ada tanda-tanda saya mengandung,” kata Rahsia.
Memasuki tahun ke tujuh perkawinannya, Rahsia merasa kehadiran jabang bayi di perutnya, itu pula yang memicu Rahsia dan Suaminya terus memacu kerja menyimpan bekal menyambut buah hatinya.
Kebahagiaan sesaat sempat dirasakan saat kehadiran bayi perempuan pertama yang telah lama di nanti, namun sejak lahir Bayi tersebut sering sakit-sakitan dan menderita panas secara mendadak, “Sejak lahir dia sering sakit-sakitan,” kata Rahsia yang kemudian sepakat memberi nama anaknya dengan Nyak Puleh (Sembuh).
***
Kini Nyak Rahsia dan Nyak Puleh menunggu uluran tangan untuk menyambung hidup, Triliunan dana segar yang diprogramkan pemerintah untuk rakyat miskin belum ada yang di jatahkan padanya. “Jangankan pejabat kabupaten, pejabat Camat dan Lurah saja tidak pernah datang menjenguk Nyak Rahsia dan anaknya,”terang Rufdat
Selain itu, Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) juga tak menyentuh diri mereka, padahal Nyak Rahsia punya keinginan agar tetap sehat, untuk mengurusi anak semata wayangnya yang cacat mental sejak lahir. “Tak pernah ada petugas pukesmas yang datang kemari,”jelas Rufdat.
Bagi-bagi Sembako, Baju, Sarung, yang kerap dilakukan caleg belakangan ini juga tak pernah menjamah dirinya, “Padahal banyak caleg yang, yang sudah bergerilya di dekat rumahnya, namun tak pernah sampai ke rumah Janda itu,” kata seorang pemuda Pulolhoih.
****************************
Kalau saudara/i mau menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu beban mereka. Silakan sumbangannya diantar ke kantor AJI Banda Aceh
Jl Angsa No 23, Desa Batoh, Luengbata Banda Aceh
Telp : 0651-637708
Via Sdr. Munar atau Maisara.