Friday, March 27, 2009



Aku Cemburu..........................???????????????

Tuesday, March 24, 2009

Menanti Bintang Jatuh di Ujung Senja


Dari Cerita Seorang Teman

Bilah-bilah papan tak rapat, saban hujan, plastik hitam berdebu tak mampu menahan rintik mengguyur tubuh layu itu. Dingin pegunungan Gleu Pucok, Kecamatan Geumpang, Pidie, disergapnya hanya dengan sehelai kain. Sejak empat tahun silam, hanya sehelai sarung menutup tubuhnya.

Di atas dipan berukuran 3x3 meter, Nyak Rahsia, 62 tahun, menghabiskan sisa usia. Segala rutinitas dilakoni di sembilan baris papan, dari makan hingga ‘buang air.’ Hanya selembar tikar alasnya merebahkan badan dan kepala ditindih di bantal kumuh ‘telanjang’.

Di rumah reot, persis kaki bukit, di ujung jalan setapak Desa Pulolhoih ia menanti belas kasih. Rufdat, salah seorang family jauhnya meminjamkan dapur rumahnya untuk ditinggali Nyak Rahsia, hingga memberinya makan.

Sejak empat tahun silam, sebelah tubuhnya tak lagi berfungsi. Sementara lengan dan pungungnya, nyaris tak disisakan jamur. Sejak sulit bergerak, Nyak Rahsia tak lagi bekerja. Sebelumnya, apapun dikerjakannya demi sesuap nasi.

“Inoe Loen hana ek le kukerja, kiban nasib si dara loen, nye loen mete soe tem hiroe anuek loen? (Sekarang saya tidak lagi mampu bekerja, bagaimana ya dengan nasib anak saya, kalau saya meninggal siapa yang mau peduli nasib anak saya),” ucapnya dengan mata berkaca.

Anaknya, Nyak Puleh, 35 tahun juga dirudung malang. Sejak lahir, ia lumpuh layu dan tuna rungu. Walau demikian Nyan Rahsia sangat menyayangi anaknya itu. Nyak Rahsia terus punya keinginan sembuh dari penyakitnya, dan bisa mencari nafkah dan melihat anaknya bahagia.

Kini dua insan tersebut hanya mengharap iba tetangga untuk isi perut, hal yang paling pantang Nyak Rahsia lakukan semasa dia sehat. Dulu dia rela melakukan apa saja demi membahagiakan anak semata wayangnya itu.

Walau kini sama-sama tergolek di tempat tidur, Nyak Rahsia tidak mau makan sebelum anaknya makan terlebih dahulu.

“Saya sebisa mungkin berusaha membahagiakan anak saya,” kata Nyak Rahsia dengan suara berat, dalam bahasa Aceh. Menurut dia, sejak suaminya M. Daud meninggal 9 tahun lalu, dia menjadi orang tua tunggal menghidupi anak dan dirinya.

Hari ini, serbuan hawa dingin kembali menerpa kulit kerutnya. Sedingin nasib yang kini ia rasakan.

***
Nyak Rahsia dan M. Daud menikah 40 tahun lalu, tak ada pesta mewah yang digelar, namun acara sakral tersebut masih di kenang Nyak Rahsia. Tapi kebahagian tampak jelas dari rona kedua pengantin baru tersebut. Namun acara sakral tersebut masih di kenang Nyak Rahsia. “Pelaminan dilaksanakan pada malam hari, di terangi lampu strongkeng, dan debus,” Kata dia mengenang.

Walau tak punya penghasilan tetap, dan bekerja sebagai buruh tani mereka berhajat punya anak banyak sebagai mana keluarga lain di kampung tersebut. “Setahun, dua tahun sampai 6 tahun, belum ada tanda-tanda saya mengandung,” kata Rahsia.

Memasuki tahun ke tujuh perkawinannya, Rahsia merasa kehadiran jabang bayi di perutnya, itu pula yang memicu Rahsia dan Suaminya terus memacu kerja menyimpan bekal menyambut buah hatinya.

Kebahagiaan sesaat sempat dirasakan saat kehadiran bayi perempuan pertama yang telah lama di nanti, namun sejak lahir Bayi tersebut sering sakit-sakitan dan menderita panas secara mendadak, “Sejak lahir dia sering sakit-sakitan,” kata Rahsia yang kemudian sepakat memberi nama anaknya dengan Nyak Puleh (Sembuh).

***
Kini Nyak Rahsia dan Nyak Puleh menunggu uluran tangan untuk menyambung hidup, Triliunan dana segar yang diprogramkan pemerintah untuk rakyat miskin belum ada yang di jatahkan padanya. “Jangankan pejabat kabupaten, pejabat Camat dan Lurah saja tidak pernah datang menjenguk Nyak Rahsia dan anaknya,”terang Rufdat

Selain itu, Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) juga tak menyentuh diri mereka, padahal Nyak Rahsia punya keinginan agar tetap sehat, untuk mengurusi anak semata wayangnya yang cacat mental sejak lahir. “Tak pernah ada petugas pukesmas yang datang kemari,”jelas Rufdat.

Bagi-bagi Sembako, Baju, Sarung, yang kerap dilakukan caleg belakangan ini juga tak pernah menjamah dirinya, “Padahal banyak caleg yang, yang sudah bergerilya di dekat rumahnya, namun tak pernah sampai ke rumah Janda itu,” kata seorang pemuda Pulolhoih.
****************************

Kalau saudara/i mau menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu beban mereka. Silakan sumbangannya diantar ke kantor AJI Banda Aceh
Jl Angsa No 23, Desa Batoh, Luengbata Banda Aceh
Telp : 0651-637708
Via Sdr. Munar atau Maisara.

Monday, March 23, 2009

Akhir Episode Sanger Bag 2

Sanger…
Minuman penuh kenangan ini, yang aku pesan.
Seiring datangnya secangkir sanger, sebegitu pula mengalir semua kenangan yang pernah singgah dihari-hari aku sebelumnya. Menerobos gerbang waktu 1503.
Entah apa rencana Tuhan, untuk ku tahun ini. Mencoba-coba menebak, tapi takut kualat ah..

Wednesday, March 18, 2009

Akhir Episode Sanger

Waktu memang tidak pernah bisa dihentikan
apatah lagi oleh manusia se kecil kita
kajian hidup yang kita bahas di warung kuphie
sudah tiba di penghujung..
dan kajian itu harus segera kita akhiri
karena kita harus menjalani kehidupan itu..
tapi apa kesimpulannya?

apakah kita harus berhenti berharap?
karena kita harus bangun dari tidur dan menghentikan mimpi indah ini?

bagimana kalau aku merasa nyaman saat bermimpi
apakah aku harus terus bermimpi..?
atau bangun sejenak, bengong
lalu tidur lagi, untuk melanjutkan mimpi tadi..

jati diri kita terus berlari, dan kitapun harus mengejarnya
mungkin siklus perputaran itu tetap sama
bak matahari berputar mengelilingi bumi..
hanya saja, suasana perputaran itu yang berbeda
kadang berjumpa dengan sanger yang manis
atau kadang berjumpa dengan kopi yang pahit..
ha ha ha..

benar juga katamu
simpan saja di palung hati yang dalam
bangun dan lanjutkan aktifitas
nanti ketika malam tiba
kita lanjutkan lagi mimpi indah itu

barangkali itu kesimpulan yang tepat
untuk kajian kita kali ini

Ketambe..
nantikan aku untuk kajian hidup episode berikutnya..

Tuesday, March 17, 2009

Kenangan 2 Gelas Sanger


Ya....
sanger itu akan selalu ada. meski cuma disimpan dikenangan..
aromanya pasti akan selalu bisa dinikmati kapan aja....
selama kita masih mau menyimpannya dilorong hati..
simpan sensasinya dengan rapi dihati... rawat agar tak ada kesempatan melupakan... dan silakan nikmati itu setiap saat, everytime when u need that
everytime when u miss that.

Dari 2 gelas sanger itu, malam itu, aku tahu, bahwa hidup tak selalu seperti yang kita inginkan.
Tidak setiap keinginan bisa kita miliki. Dan, menikmati sensasi kesedihan itulah yang selalu dinamakan jalan hidup...
Tak bisa memiliki, bukan berarti terlambat atau kalah...
Nikmati sajalah.. hingga kesedihan menjadi sebuah kenyamanan.

Monday, March 16, 2009

Kado Ultah dari Mas Dwie Guntoro :

happy b'day

Happy birthday for you today,
You’re kind and clever I must say.
With moments worth a million hugs,
Talks, with coffee in those mugs.

Your heart and values seem so right,
We share our views without a fight.
Our memories live with eyes so true,
Adventures grow in a life’s canoe.

I wish you more than words can say,
That you will never, cease to play.
Happy birthday for today,
I’m here for you, on this special day.

Saturday, March 14, 2009

Selamat Datang di Hari Baru Hidup ...


Misteri Lorong Waktu itu Sudah Kita Pecahkan

Dear…
Tengah malam. Tepatnya pukul 00.00 wib. Angin malam tidak terlalu berhembus kencang. Dan malam ini sudah masuk tanggal 15 Maret 2009. Tanggal keramat dalam hidupku. (Tepatnya hidup kita). Tanggal ini yang menjadi gerbang waktu perantara aku hadir di dunia fana ini.
Hari dimana tepat bertambah usia ku yang ke...... (ah sebaiknya aku tidak usah menyebutkan angkanya, apalah arti angka-angka itu).

Luar biasa tahun ini, tak ada perayaan dan peringatan ulang tahun yang seperti tahun sebelumnya. Bahkan tidak ada ucapan selamat juga dari orang-orang tercinta disekeliling ku. Menyedihkan memang...
Tapi, yaaa sudahlah. Aku tak menganggap mereka tak peduli kepadaku. Tapi kalaupun dugaan ku itu benar, ya sudahlah. Toh selama ini kondisi itu juga yang aku hadapi, jadi aku berusaha membiasakan diriku untuk sendiri.

Aku tak ingin ada air mata di hari bahagiaku ini.

Makin malam, rex peunayong tidak bertambah dingin (hanya nyamuk aja yang bertambah banyak). Aku masih ingin disitu, menikmati relung-relung waktu yang berjalan perlahan menyusup jiwa, satu persatu aliran darahku disusupinya, dan akhirnya tiba juga di hati.
Ada yang lain disana, ada rasa... dan ketika menyentuh jantung, maka jantungku mulai berdegub kencang. Aku terus menikmati itu. Senyum terus mengembang (tepatnya terus ku kembangkan, meski sepi terus mendesak mendominasi suasana).

Ketika aliran waktu kembali menyentuh hati, bibir pun mulai mengucapkan banyak harap. Dilangit tak ada bintang, tapi dengan penuh keyakinan, aku terus melantunkan harap-harap ku. Berharap hari baru ku terus saja menjadi indah. Berharap hari baru ku terus saja berisi senyum dan tak ingin berisi duka. Berharap hari baru ku terus saja dipenuhi wangi bunga. Berharap hari baru ku terus saja berisi kecintaan dan kasih sayang, berisi damai, walau aku tahu, semua ini tak mungkin kurasakan selama waktu yang aku inginkan.

Tuhan, terimakasih untuk kesempatan yang Kau berikan di hari baru ini. Nafas yang masih kau alirkan dalam jiwa ku hari ini. Udara yang masih Kau izinkan untuk ku hirup. Kalau boleh aku meminta, izinkan aku bisa berlama-lama menatap mentari Mu, menghitung bintang Mu untuk mewujudkan harapanku, menatap wajah dan senyum orang-orang yang kucintai lebih dari waktu yang Kau berikan (yang sekarang tersisa sedikit lagi ini).

Dan..... Tuhan kalau boleh aku meminta (aku selalu berharap Kau memenuhi permintaan ku yang satu ini, sebelum waktu menghadap Mu itu tiba—sedikit lagi ya..?) Izin kan Aku untuk bisa menjadikan dia - seorang hambaMu- menjadi teman hidupku, meski sebentaaaaaaaaaar saja.
Makasih Tuhan....

Makasih juga untuk Indigo Man, yang udah bersedia menemani ku diperjalanan malam, dihari baru (kita), membantu ku menyusun kembali harapan-harapan. Walau kita sama-sama tahu, itu cuma mimpi. Tapi kita pura-pura tidak tahu saja, dan ditengah kesepian misteri 1503, kita lewati itu bersama.
Jangan kita tiup api lilin yang ada dihadapan kita, aku takut waktu akan berhenti mendadak dan tak lagi memberi kita kesempatan. Kita biarkan saja dia menyala, hingga mencapai titik sumbu terakhir... kita biarkan saja... kita biarkan saja...
HAPPY BIRTHDAY UNTUK KITA....!