Thursday, December 25, 2008

Hari ini, empat tahun yang lalu...


26 Desember 2008
Hari ini.. empat tahun yang lalu….
Aku baru terbangun dari tidur, tangan masih mengucek mata, waktu itu 26 desember 2004, hari minggu. Minggu pagi ini memang agak telat bangun. Semalaman ndak bisa tidur, mataku baru bisa terlelap pukul 5.30 wib pagi.

Sedang asyik mengucek mata, getaran mulai terasa, sedikit demi sedikit dan semakin kencang. Aku tak menyangka itu gempa, aku sibuk memegangi kaca lemari buku ku. Aku berpikir pastilah ada truk besar lewat di depan rumah. Tapi aku salah. Itu adalah gempa, awal dari segala kehancuran.

Turun dari lantai dua rumahku, aku sibuk mencari mamak, yang akhirnya kami temui dia terduduk lemas tak berdaya di bawah pohon belimbing di belakang rumahku.

Masih tak percaya, aku pun sibuk menelpon kantor ku elshinta di jakarta untuk membuat live report tentang gempa besar 8,9 scala richter ini.
Masih berbicara di telpon, gempa datang lagi dan lebih kencang, membuat barang-barang disekitarku berjatuhan. Akupun meninggalkan telpon tanpa basa basi. Keluar rumah, sambil menggendong mamakku. Tiba-tiba lautan manusia tumpah ruah dijalan, katanya air laut naik. Kutoleh ke belakang, 100 meter dibelakangku air menghitam sudah mendekat.
Sedemikian penderitaan yang kami lewati, alhamdulillah, aku masih ditemani oleh orang-orang yang kusayang, orangtua dan adik-adikku. Aku yakin, aku tak sanggup jika ditinggal mereka, dan Tuhanpun yakin kalau aku tak sanggup hidup sendiri tanpa mereka.

Ini yang terus aku syukuri.

Hari ini... 26 Desember 2008, pagi ini aku lewati jalan dimana empat tahun lalu kami pernah berlari menyelamatkan diri disana. Aku terpekur.. tak terasa waktu cepat berlalu. Sedikit INGATAN dariNYA, sudah ku rasakan.. dan mudah-mudahan harus terus menjadi ingatan dalam diriku, bahwa HIDUPKU ADALAH MILIKNYA.

Mengenang musibah empat tahun lalu bukan berarti harus meratapinya lagi. Kesedihan itu tak mungkin lekang dari hati dan ingatanku. Tapi jalan didepanku masih panjang. Ada banyak hal yang harus dilakukan selain dari hanya meratapi masa lalu.

Petuah bijak berikut ini, selalu aku ingat, dengar dan baca, jika aku mulai merasa sedih:

” ada banyak hal yang bermanfaat yang sebenarnya bisa kita lakukan. Namun akhirnya menjadi sia-sia karena 2 hal, pertama : meratapi masa lalu, keduanya : khawatir akan masa depan. Ada yang meratapi masa lalu sampai lupa bagaimana caranya tersenyum. Airmatanya kering sia-sia karena menangisi waktu yang tidak pernah kembali. Gairah hidupnya hilang, bahkan hanya sekedar untuk membuka tirai kamar dipagi hari. Tidak ada kata lain yang meluncur dari bibirnya, kecuali : jika saja, andaikan, apabila, kalau saja, dan lain sebagainya. Dan kata yang sebenarnya tidak mengembalikannya ke masa lampau. Hati yang membeku akan sulit merasakan keindahan dan ketenangan. Menyesali masa lalu tidak membuat kenangan buruk menjadi indah. Untuk kesalahan yang pernah kita lakukan, ALLAH tidak pernah menuntut kita untuk tidak pernah melakukannya. Namun Allah meminta agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi.
Orang yang baik, bukanlah yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan orang yang tidak melakukan kesalahan yang sama...”

Untuk semua orang yang saya cintai, terutama keluarga dirumah , ayah, ibu dan adik-adikku : SAYA SAYANG KALIAN SEMUA..

Saturday, December 20, 2008

Have No Idea


Hari terus beranjak menuju petang. Mataharipun sudah tak terlihat garang. Tapi aku masih belum merasakan hikmah hidup hari ini.

Yang kurasakan hanya duri-duri kekecewaan dan kesedihan. Huuhhhh.. aku paling sebel jika merasakan hal seperti ini. Padahal ada kerjaan penting yang harus ku kerjakan dan harus diselesaikan.

Aku menyesal memulai hari ini dengan pertengkaran dan air mata. Karena dua hal itu membuat aku bad mood...

Tuhan...

Yakinkan aku, kalau ini adalah hari terbaik yang aku jalani..

Aku bukan tak percaya pada-Mu. Tapi... kenapa aku masih merasakan kekecewaan dan kesedihan?

Hmm.......

Saturday, May 24, 2008

Me and My Camera


Me and My Camera : From Nothing to Something

Sunday, February 10, 2008

OPINI

ARSIP :

Opini

*Jurnalis "Warung Kopi" *

*(Refleksi HPN 2008)*

Daspriani Y Zamzami

JURNALIS bukanlah bankir atau advokat yang memerlukan kantor dan ruang

kerja mentereng untuk melaksanakan aktivitasnya. Ini setidaknya,

terlihat dari aktivitas keseharian para jurnalis (wartawan) di Banda

Aceh. Mereka, terutama para koresponden dari berbagai media di luar

daerah, lebih memilih warung kopi sebagai tempat mangkalnya.

Di warung kopi itu, biasanya, mereka mulai dari saling berbagi isu,

merancang rencana liputan, hingga membuat (mengetik) berita. Seperti

terlihat di satu warung kopi di Jalan SA Mahmudsyah, Banda Aceh, setiap

pagi kelompok jurnalis ini berkumpul sambil ngopi kerap mendiskusikan

topik-topik hangat, baik yang terjadi di tingkat lokal, nasional, maupun

dunia internasional.

Dengan bermodalkan sebuah komputer jinjing (laptop) dan telepon genggam

(handphone), mereka bisa melaksanakan semua aktivitas jurnalistiknya di

warung kopi itu. Mereka adalah pekerja pers dari berbagai media, baik

cetak, dan elektronik. Ada juga yang bekerja sebagai freelance dan

mengirimkan hasil karya jurnalistiknya ke beberapa media daerah,

nasional maupun asing.

Sebagian mereka mengaku memilih profesi jurnalis karena panggilan

(keinginan) hati nuraninya. Mereka yang termasuk kelompok ini melihat

kerja pers lebih menantang dan punya rasa tanggungjawab moral

kemanusiaan yang tinggi. Namun, sebagian lainnya hanya sebagai

penyaluran hobby menulisnya. Juga ada yang hanya ikut-ikutan karena tak

punya kerja lain.

Para jurnalis warkop ini sering membikin kaget. Karena tidak pernah

terlintas hanya dalam hitungan menit, berbagai isu dan informasi mereka

serap dan sebarkan sehingga diketahui masyarakat dari belahan dunia

lainnya. Bahkan, bagi jurnalis elektronik bisa melaporkan sebuah

kejadian pada saat yang sama.´

Aceh, provinsi yang sarat dengan kecamuk dan geliat ini, dulu bukanlah

apa-apa. Tapi setelah Aceh mendunia lewat berbagai informasi yang

dituliskan sang jurnalis melalui berbagi media, kini, semua belahan

dunia mulai mengenalnya. Dengan kekuatannya mengolah dan menyebarluaskan

informasi, masing-masing media telah memainkan peranan penting dalam

mengungkap berbagai sisi dari kehidupan Aceh.

Meski memiliki kekuatan besar, tak bisa disangkal pula, menjadi seorang

jurnalis tidak bisa dihindari dari tingginya risiko yang ada di

lapangan. Beragam teror dan intimidasi sering dialami pekerja pers dalam

menjalani tugas dan profesinya, jika pemberitaannya membuat pihak lain

terganggu. Sebaliknya, tidak jarang pula pekerja pers dicap partisan

bahkan dianggap memihak bila memberitakan sesuatu secara berimbang,

mengkorfirmasi semua sisi dari laporannya. Dilematisnya profesi jurnalis

tersebut, sehingga tidak sedikit kaum wartawan menjadi korban. Hampir

dua dasawarsa terakhir, tidak kurang dari 1.000 jurnalis dan insan

pekerja media tewas terbunuh dalam menjalani tugas dan profesinya.

Menjadi jurnalis memang penuh resiko. Itu salah satu sebab, komunitas

pekerja pers, khususnys di Aceh masih minim. Selain konflik, musibah

tsunami juga telah merenggut puluhan jiwa pekerja pers di Aceh.

Pascabencana yang memasuki kebebasan pers, namun jumlah pekerja pers

khususnya di Banda Aceh, terutama dari kalangan muda, belum signifikan

dengan pertumbuhan media.

Minimnya kaderisasi pekerja pers, misal, terlihat ketika peluncuran

sebuah media baru yang berlangsung di salah satu ruang hotel berbintang,

Kamis (7/2) lalu. Semangat terlihat menggunung, karena media ini diharap

bisa meraih tempat di hati masyarakat Aceh. Akan tetapi pemandangan yang

nampak saat pelucuran dilakukan, tidak satupun wajah-wajah pekerja pers

baru dan muda hadir pada acara itu. Miris memang, tapi itulah kenyataannya.

Diakui atau tidak beberapa lembaga pers yang ada di Aceh termasuk

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang merupakan lembaga pers terbesar

di Indonesia, ternyata masih belum mampu melakukan pengkaderan kepada

kaum muda untuk bisa didik sebagai tenaga jurnalis yang profesional.

Begitu pula beberapa lembaga lainnya, seperti Aliansi Jurnalis

Independen (AJI), Ikatan Jurnalis televisi Indonesia (IJTI) dan beberapa

lembaga lainnya yang berskala lokal, seperti Persatuan Wartawan Aceh (PWA).

Di era yang semakin global, dimana masyarakat membutuhkan berbagai

informasi dalam waktu cepat, seharusnya diimbangi dengan kuantitas dan

kualitas kaum jurnalis yang dituntut siaga 24 jam. Namun kenapa dunia

pers itu kurang diminati. Salah satunya karena kesejahtraan yang

diterima belum memadai secara normal.

Tampaknya moment memperingati Hari Pers Nasional tahun 2008 ini,

fenomena miris atas kesejahtraan pekerja pers, sdah harus dipikirkan

setiap perusahaan pers. Karena fakta meskipun era reformasi sudah lebih

10 tahun, namun persoalan kesejahteraan pekerja pers masih memprihatinkan.

Begitu pun, bukan karena alasan kesejahteraan mengurung niat tidak

menjadi jurnalis, khususnya di Aceh. Sebab semakin banyak kaum muda yang

memilih profesi jurnalis ini, semakin kuat peran kita mencerdaskan

masyarakat. Para jurnalis di Aceh tidak hanya mampu menjadikan warung

kopi sebagai tempat mangkalnya, tapi berharap suatu saat nanti akan bisa

duduk di hotel berbintang untuk berbagi isu, merancang liputan dan

mengirimkan karya jurnalistik ke medianya masing-masing. Selamat Hari

Pers Nasional.



*) Penulis adalah seorang pekerja pers di Banda Aceh.

Pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia : 09 Febr 2008

http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaopini&opinid=1443

Tuesday, January 1, 2008

Geurutee disaat Senja


daerah Aceh, tanoh lon sayang, nibak teumpatnyan, lon udeep matee
tanoh keuneubah, endatu moyang, lampoh deungon blang, luah bukon lee...