Sunday, February 10, 2008

OPINI

ARSIP :

Opini

*Jurnalis "Warung Kopi" *

*(Refleksi HPN 2008)*

Daspriani Y Zamzami

JURNALIS bukanlah bankir atau advokat yang memerlukan kantor dan ruang

kerja mentereng untuk melaksanakan aktivitasnya. Ini setidaknya,

terlihat dari aktivitas keseharian para jurnalis (wartawan) di Banda

Aceh. Mereka, terutama para koresponden dari berbagai media di luar

daerah, lebih memilih warung kopi sebagai tempat mangkalnya.

Di warung kopi itu, biasanya, mereka mulai dari saling berbagi isu,

merancang rencana liputan, hingga membuat (mengetik) berita. Seperti

terlihat di satu warung kopi di Jalan SA Mahmudsyah, Banda Aceh, setiap

pagi kelompok jurnalis ini berkumpul sambil ngopi kerap mendiskusikan

topik-topik hangat, baik yang terjadi di tingkat lokal, nasional, maupun

dunia internasional.

Dengan bermodalkan sebuah komputer jinjing (laptop) dan telepon genggam

(handphone), mereka bisa melaksanakan semua aktivitas jurnalistiknya di

warung kopi itu. Mereka adalah pekerja pers dari berbagai media, baik

cetak, dan elektronik. Ada juga yang bekerja sebagai freelance dan

mengirimkan hasil karya jurnalistiknya ke beberapa media daerah,

nasional maupun asing.

Sebagian mereka mengaku memilih profesi jurnalis karena panggilan

(keinginan) hati nuraninya. Mereka yang termasuk kelompok ini melihat

kerja pers lebih menantang dan punya rasa tanggungjawab moral

kemanusiaan yang tinggi. Namun, sebagian lainnya hanya sebagai

penyaluran hobby menulisnya. Juga ada yang hanya ikut-ikutan karena tak

punya kerja lain.

Para jurnalis warkop ini sering membikin kaget. Karena tidak pernah

terlintas hanya dalam hitungan menit, berbagai isu dan informasi mereka

serap dan sebarkan sehingga diketahui masyarakat dari belahan dunia

lainnya. Bahkan, bagi jurnalis elektronik bisa melaporkan sebuah

kejadian pada saat yang sama.´

Aceh, provinsi yang sarat dengan kecamuk dan geliat ini, dulu bukanlah

apa-apa. Tapi setelah Aceh mendunia lewat berbagai informasi yang

dituliskan sang jurnalis melalui berbagi media, kini, semua belahan

dunia mulai mengenalnya. Dengan kekuatannya mengolah dan menyebarluaskan

informasi, masing-masing media telah memainkan peranan penting dalam

mengungkap berbagai sisi dari kehidupan Aceh.

Meski memiliki kekuatan besar, tak bisa disangkal pula, menjadi seorang

jurnalis tidak bisa dihindari dari tingginya risiko yang ada di

lapangan. Beragam teror dan intimidasi sering dialami pekerja pers dalam

menjalani tugas dan profesinya, jika pemberitaannya membuat pihak lain

terganggu. Sebaliknya, tidak jarang pula pekerja pers dicap partisan

bahkan dianggap memihak bila memberitakan sesuatu secara berimbang,

mengkorfirmasi semua sisi dari laporannya. Dilematisnya profesi jurnalis

tersebut, sehingga tidak sedikit kaum wartawan menjadi korban. Hampir

dua dasawarsa terakhir, tidak kurang dari 1.000 jurnalis dan insan

pekerja media tewas terbunuh dalam menjalani tugas dan profesinya.

Menjadi jurnalis memang penuh resiko. Itu salah satu sebab, komunitas

pekerja pers, khususnys di Aceh masih minim. Selain konflik, musibah

tsunami juga telah merenggut puluhan jiwa pekerja pers di Aceh.

Pascabencana yang memasuki kebebasan pers, namun jumlah pekerja pers

khususnya di Banda Aceh, terutama dari kalangan muda, belum signifikan

dengan pertumbuhan media.

Minimnya kaderisasi pekerja pers, misal, terlihat ketika peluncuran

sebuah media baru yang berlangsung di salah satu ruang hotel berbintang,

Kamis (7/2) lalu. Semangat terlihat menggunung, karena media ini diharap

bisa meraih tempat di hati masyarakat Aceh. Akan tetapi pemandangan yang

nampak saat pelucuran dilakukan, tidak satupun wajah-wajah pekerja pers

baru dan muda hadir pada acara itu. Miris memang, tapi itulah kenyataannya.

Diakui atau tidak beberapa lembaga pers yang ada di Aceh termasuk

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang merupakan lembaga pers terbesar

di Indonesia, ternyata masih belum mampu melakukan pengkaderan kepada

kaum muda untuk bisa didik sebagai tenaga jurnalis yang profesional.

Begitu pula beberapa lembaga lainnya, seperti Aliansi Jurnalis

Independen (AJI), Ikatan Jurnalis televisi Indonesia (IJTI) dan beberapa

lembaga lainnya yang berskala lokal, seperti Persatuan Wartawan Aceh (PWA).

Di era yang semakin global, dimana masyarakat membutuhkan berbagai

informasi dalam waktu cepat, seharusnya diimbangi dengan kuantitas dan

kualitas kaum jurnalis yang dituntut siaga 24 jam. Namun kenapa dunia

pers itu kurang diminati. Salah satunya karena kesejahtraan yang

diterima belum memadai secara normal.

Tampaknya moment memperingati Hari Pers Nasional tahun 2008 ini,

fenomena miris atas kesejahtraan pekerja pers, sdah harus dipikirkan

setiap perusahaan pers. Karena fakta meskipun era reformasi sudah lebih

10 tahun, namun persoalan kesejahteraan pekerja pers masih memprihatinkan.

Begitu pun, bukan karena alasan kesejahteraan mengurung niat tidak

menjadi jurnalis, khususnya di Aceh. Sebab semakin banyak kaum muda yang

memilih profesi jurnalis ini, semakin kuat peran kita mencerdaskan

masyarakat. Para jurnalis di Aceh tidak hanya mampu menjadikan warung

kopi sebagai tempat mangkalnya, tapi berharap suatu saat nanti akan bisa

duduk di hotel berbintang untuk berbagi isu, merancang liputan dan

mengirimkan karya jurnalistik ke medianya masing-masing. Selamat Hari

Pers Nasional.



*) Penulis adalah seorang pekerja pers di Banda Aceh.

Pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia : 09 Febr 2008

http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaopini&opinid=1443

3 comments:

munawardismail said...

hai, mantap teunan....

aceh_subulussalam said...

Gue jadi tertarik belajar tentang jurnalis, kontak aku agar bisa lebih dekat

KSS said...

Semoga pers di masa depan semakin bisa membuat masyarakat pintar dan kritis :-)