ARSIP :
Opini
*Jurnalis "Warung Kopi" *
*(Refleksi HPN 2008)*
Daspriani Y Zamzami
JURNALIS bukanlah bankir atau advokat yang memerlukan kantor dan ruang
kerja mentereng untuk melaksanakan aktivitasnya. Ini setidaknya,
terlihat dari aktivitas keseharian para jurnalis (wartawan) di Banda
Aceh. Mereka, terutama para koresponden dari berbagai media di luar
daerah, lebih memilih warung kopi sebagai tempat mangkalnya.
Di warung kopi itu, biasanya, mereka mulai dari saling berbagi isu,
merancang rencana liputan, hingga membuat (mengetik) berita. Seperti
terlihat di satu warung kopi di Jalan SA Mahmudsyah, Banda Aceh, setiap
pagi kelompok jurnalis ini berkumpul sambil ngopi kerap mendiskusikan
topik-topik hangat, baik yang terjadi di tingkat lokal, nasional, maupun
dunia internasional.
Dengan bermodalkan sebuah komputer jinjing (laptop) dan telepon genggam
(handphone), mereka bisa melaksanakan semua aktivitas jurnalistiknya di
warung kopi itu. Mereka adalah pekerja pers dari berbagai media, baik
cetak, dan elektronik. Ada juga yang bekerja sebagai freelance dan
mengirimkan hasil karya jurnalistiknya ke beberapa media daerah,
nasional maupun asing.
Sebagian mereka mengaku memilih profesi jurnalis karena panggilan
(keinginan) hati nuraninya. Mereka yang termasuk kelompok ini melihat
kerja pers lebih menantang dan punya rasa tanggungjawab moral
kemanusiaan yang tinggi. Namun, sebagian lainnya hanya sebagai
penyaluran hobby menulisnya. Juga ada yang hanya ikut-ikutan karena tak
punya kerja lain.
Para jurnalis warkop ini sering membikin kaget. Karena tidak pernah
terlintas hanya dalam hitungan menit, berbagai isu dan informasi mereka
serap dan sebarkan sehingga diketahui masyarakat dari belahan dunia
lainnya. Bahkan, bagi jurnalis elektronik bisa melaporkan sebuah
kejadian pada saat yang sama.´
Aceh, provinsi yang sarat dengan kecamuk dan geliat ini, dulu bukanlah
apa-apa. Tapi setelah Aceh mendunia lewat berbagai informasi yang
dituliskan sang jurnalis melalui berbagi media, kini, semua belahan
dunia mulai mengenalnya. Dengan kekuatannya mengolah dan menyebarluaskan
informasi, masing-masing media telah memainkan peranan penting dalam
mengungkap berbagai sisi dari kehidupan Aceh.
Meski memiliki kekuatan besar, tak bisa disangkal pula, menjadi seorang
jurnalis tidak bisa dihindari dari tingginya risiko yang ada di
lapangan. Beragam teror dan intimidasi sering dialami pekerja pers dalam
menjalani tugas dan profesinya, jika pemberitaannya membuat pihak lain
terganggu. Sebaliknya, tidak jarang pula pekerja pers dicap partisan
bahkan dianggap memihak bila memberitakan sesuatu secara berimbang,
mengkorfirmasi semua sisi dari laporannya. Dilematisnya profesi jurnalis
tersebut, sehingga tidak sedikit kaum wartawan menjadi korban. Hampir
dua dasawarsa terakhir, tidak kurang dari 1.000 jurnalis dan insan
pekerja media tewas terbunuh dalam menjalani tugas dan profesinya.
Menjadi jurnalis memang penuh resiko. Itu salah satu sebab, komunitas
pekerja pers, khususnys di Aceh masih minim. Selain konflik, musibah
tsunami juga telah merenggut puluhan jiwa pekerja pers di Aceh.
Pascabencana yang memasuki kebebasan pers, namun jumlah pekerja pers
khususnya di Banda Aceh, terutama dari kalangan muda, belum signifikan
dengan pertumbuhan media.
Minimnya kaderisasi pekerja pers, misal, terlihat ketika peluncuran
sebuah media baru yang berlangsung di salah satu ruang hotel berbintang,
Kamis (7/2) lalu. Semangat terlihat menggunung, karena media ini diharap
bisa meraih tempat di hati masyarakat Aceh. Akan tetapi pemandangan yang
nampak saat pelucuran dilakukan, tidak satupun wajah-wajah pekerja pers
baru dan muda hadir pada acara itu. Miris memang, tapi itulah kenyataannya.
Diakui atau tidak beberapa lembaga pers yang ada di Aceh termasuk
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang merupakan lembaga pers terbesar
di Indonesia, ternyata masih belum mampu melakukan pengkaderan kepada
kaum muda untuk bisa didik sebagai tenaga jurnalis yang profesional.
Begitu pula beberapa lembaga lainnya, seperti Aliansi Jurnalis
Independen (AJI), Ikatan Jurnalis televisi Indonesia (IJTI) dan beberapa
lembaga lainnya yang berskala lokal, seperti Persatuan Wartawan Aceh (PWA).
Di era yang semakin global, dimana masyarakat membutuhkan berbagai
informasi dalam waktu cepat, seharusnya diimbangi dengan kuantitas dan
kualitas kaum jurnalis yang dituntut siaga 24 jam. Namun kenapa dunia
pers itu kurang diminati. Salah satunya karena kesejahtraan yang
diterima belum memadai secara normal.
Tampaknya moment memperingati Hari Pers Nasional tahun 2008 ini,
fenomena miris atas kesejahtraan pekerja pers, sdah harus dipikirkan
setiap perusahaan pers. Karena fakta meskipun era reformasi sudah lebih
10 tahun, namun persoalan kesejahteraan pekerja pers masih memprihatinkan.
Begitu pun, bukan karena alasan kesejahteraan mengurung niat tidak
menjadi jurnalis, khususnya di Aceh. Sebab semakin banyak kaum muda yang
memilih profesi jurnalis ini, semakin kuat peran kita mencerdaskan
masyarakat. Para jurnalis di Aceh tidak hanya mampu menjadikan warung
kopi sebagai tempat mangkalnya, tapi berharap suatu saat nanti akan bisa
duduk di hotel berbintang untuk berbagi isu, merancang liputan dan
mengirimkan karya jurnalistik ke medianya masing-masing. Selamat Hari
Pers Nasional.
*) Penulis adalah seorang pekerja pers di Banda Aceh.
Pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia : 09 Febr 2008
http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaopini&opinid=1443
3 comments:
hai, mantap teunan....
Gue jadi tertarik belajar tentang jurnalis, kontak aku agar bisa lebih dekat
Semoga pers di masa depan semakin bisa membuat masyarakat pintar dan kritis :-)
Post a Comment