Wednesday, November 16, 2016

Perginya Sang Panutan

Sosok Misterius ini pergi dengan rahasianya


Bagi saya, dia tetap sebagai sosok yang misterius. Meski sudah berteman lebih dari 10 tahun, dia selalu mampu menyembunyikan sesuatu yang menurutnya itu bersifat pribadi dan tidak harus diketahui oleh orang lain.
Bahkan laki-laki yang lebih suka memakai sandal ketimbang sepatu ini, cenderung lebih suka berkomunikasi secara tulisan (via sms, whatsapp, atau bahkan BBM) kepada seseorang yang ditujunya, jika ia ingin menyampaikan sesuatu hal yang serius.
Namanya Fakhrurradzie Muhammad Gade. Dikenal luas sebagai pemimpin redaksi media online www.acehkita.com. Situs berita yang digawanginya jatuh bangun.
Awal mengenalnya tidak terlalu istimewa. Saat itu sekitar tahun 2003. Saya mengenalnya melalui dua teman jurnalis lainnya yakni Hotli Simanjuntak (Koresponden tha Jakarta post—saat ini ) dan Nani Afrida (Reporter the Jakarta post—saat ini). Keduanya adalah jurnalis yang menulis dan memotret untuk Acehkita.com. Dan kemudian juga memberikan saya kesempatan untuk bergabung di redaksi yang sama. Saat itu saya mendapat kode nama AK-42.  Dan saya bangga dengan angka tersebut.
Saat gempa dan tsunami melanda Aceh, Radzie (pastinya dengan embel-embel Bang, begitu saya memanggilnya) memutuskan untuk pulang ke Aceh, tepatnya ke Banda Aceh. Setiba di Banda Aceh. yang dilakukannya adalah memastikan semua kontributor acehkita.com selamat dan sehat.  Kemudian dia juga sempat bekerja di Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh di bagian humas dan komunikasi, hingga kemudian badan ini tutup lalu Radzie aktif terus mengelola website tersebut.
Sambil mengelola dan sesekali saya juga mengisi laman di situs acehkita.com, Radzie dan beberapa teman menerbitkan majalah bulanan AcehKini. Banyak hal yang kami rekam disana. Hanya bertahan setahun lebih, majalah itu kemudian tutup karena ketiadaan biaya operasional. Sebelumnya semua biaya operasional dikeluarkan dari kantongnya sendiri dan urunan dari beberapa teman seperti Yuswardi Ali Suud, dan Bang Nurdin Hasan, serta beberapa teman lainnya. Satu hal yang membanggakan kami bahwa tulisan di Majalah AcehKini pernah menjadi finalis pada kompetisi Mochtar Lubis Award. Sebuah ajang penghargaan jurnalistik di Indonesia.
Hari-hari saya dan dia, berjalan sebagaimana adanya, banyak peliputan yang kami jalani bersama. Banyak aktifitas yang kami kerjakan bersama, terutama aneka aktifitas di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh dan saat mengelola Muharram Journalism College (MJC).
Jujur, selama berteman dan menjalani aktifitas bersama tak banyak hal yang saya tahu tentang dirinya, selain saya berusaha membaca sendiri karakter dan siapa sosok Radzie sebenarnya.
Saya menggarisbawahi bahwa ia adalah sosok jurnalis yang sangat menjunjung tinggi idealisme, berwawasan, karena dia selalu meng-upgrade kemampuan dan pemahaman jurnalisme seiring dengan perkembangan yang ada. Hingga kemudian, dia juga memfokuskan dirinya sebagai jurnalis yang juga sebagai blogger. Ketertarikannya pada dunia maya membuat dirinya menjadi lumayan piawai untuk bergelut jurnalisme online dan media sosial.
Di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh, Radzie adalah sosok yang boleh dikatakan khatam mengutak atik media online dan media sosial, selain ada sosok lainnya yakni Taufik Mubarak, yang sama-sama juga mengelola Acehkita.com
Setiap ada pelatihan jurnalistik, maka materi media online dan sosial media menjadi santapannya.
Tahun 2015, saya mulai melihat ada banyak perubahan pada fisiknya. Mengelola usaha laundry yang didirikannya, menjadi seorang jurnalis, mengerjakan beberapa project penulisan buku, dan bekerja sebagai humas dan PR yang dikontrak per-event adalah kesibukannya saat itu. Perubahan pada fisiknya, salahs atunya dalah penurunan berat badan yang drastis, menurut saya kala itu disebabkan oleh begitu banyaknya aktifitas yang dialkoni. Hingga kemudian kami mendapatinya harus dirawat dirumah sakit. Dan saat itulah kami diberi tahu kalau dia memang sakit.
Jika ada laki-laki memiliki sifat peduli, penyayang dan tegas di dalam keseharian saya, maka dia adalah Radzie. Setelah dia memutuskan untuk berdomisli di Banda Aceh, anak bungsu dalam keluarganya ini kemudian menjadi penopang dan panutan bagi hampir semua keponakannya.
Beberapa ponakannya diboyong ke Banda Aceh untuk melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi. Dan saat itu juga dia mulai menjadi penjaga sekaligus orangtua bagi para keponakan. Mulai dari mengantar dan menjemput keponakan ke kampus, hingga meminjamkan laptop agar sang ponakan lancar mengerjakan tugas kampus. Dan kini, seorang keponakannya bernama Agus Setyadi, sukses mengikuti jejak sang Cecek (Paman) menjadi seorang jurnalis muda yang aktif dan rajin.
Lagi-lagi, saya membaca bahwa Radzie tak hanya menjadi seorang paman bagi para keponakannya, namun juga menjadi panutan dalam keseharian mereka.
Sehari sebelum kepergiannya, saya memang tak bersamanya, seperti dua, tiga, bahkan sepekan sebelumnya kami ada di Sekretariat AJI Kota Banda Aceh. Beberapa pekerjaan saya membuat kami tak bertatap muka pada hari Kamis, 10 November 2016. Hingga pada kamis sorenya saya datang ke sekretariat, kemudian saya mendapat kabar kalau lelaki dengan nama kecil Imran ini, kembali dirawat di rumah sakit.
Bersama staf sekretariat AJI Banda Aceh, Kak Maisara, kami memutuskan untuk membezuk Radzie pada hari sabtu dikeesokan harinya. Tapi Takdir Allah berkata lain. Allah memanggilnya pada Jumat 12 November 2012 pukul 23.30 wib.
Kabar duka ini bak petir disiang bolong. Hanya berselang 30 menit saya tiba dirumah sekembalinya dari Markas AJI Banda Aceh, kabar itu justru saya dapat dari seorang teman jurnalis di Takengon bernama Iwan Bahagia. Dia menanyakan kenapa banyak teman di grup messanger Whatrsapp AJI Indonesia menyampaikan ucapan belasungkawa atas kepergian Bang Radzie.
Saya terhenyak, menyesalkan gadget saya yang berulah dan henk, sehingga tak membaca pesan-pesan duka yang sudah ramai di pada semua layanan messanger. Saya menelpon Reza Fahlevi (Jurnalis Analisa di AJI Banda Aceh) untuk memastikan kabar tersebut. “Iya, Bang Radzie sudah pergi dan kami juga baru tahu dan baru tiba di rumah sakit,” itu kata Reza.
Tanpa bertanya panjang lagi, saya langsung menuju Rumah Sakit Pertamedika, dan saya tak bisa menahan kesedihan saya. Rasa kehilangan begitu mendalam bagi saya.
Hmmm…. Kehilangan ini harus kami lewati, kesedihan ini harus kami rasakan. Menghadirkan lagi sosok Radzie dalam kehidupan saya dan teman-teman itu adalah hal yang tak mungkin. Tapi “warisan-warisan” berupa ilmu, sikap, sifat itulah yang kini harus dijaga dan dipertahankan, sehingga  ia terus abadi bersama kami, bersama dunia jurnalisme di Aceh.
Satu mimpinya yang terus melekat di benak saya, bahwa ia memiliki keinginan kuat untuk mendirikan sebuah media cetak di Aceh, yang memiliki nama besar. “ Selain memberikan informasi juga mencerdaskan masyarakat,” katanya.
Apapun itu, dia tetap sosok misterius bagi saya, se-misterius dia merahasiakan detil kehidupan pribadinya kepada semua orang hingga akhir hayatnya. Dalam senyumnya, hanya dia yang tahu apa yang diinginkannya.
Selamat jalan Bang Radzie, purnama ini kami mendoakanmu, begitu juga pada purnama-purnama selanjutnya. Doa itu akan terus mengalir, seperti halnya apa-apa yang sudah engkau bagikan pada semua teman, kerabat dan sejawat bahkan anggota keluarga, seperti air, akan terus mengalir dan memberi makna bagi kehidupan yang engkau tinggalkan. ***** (Yayan)



NB : Tulisan ini dimuat pada Surat Kabar Mingguan Berita Merdeka Edisi 16-20 Nov 2016, dan sudah mendapatkan suntingan dari redaksi SKM-BM, termasuk judulnya. Di SKM Berita Merdeka dimuat dengan Judul : Perginya Sang Panutan. Terimakasih untuk SKM Berita Merdeka, khususnya Bang Mohsa El Ramadan, yang sudah memuat tulisan ini.








Wednesday, January 20, 2016

Senjakala Sebuah Hati

Kamu yakin tidak tahu, atau bersikap pura-pura tidak tahu, sebagaimana yang sering kamu peragakan bahwa sebelumnya kita menyimpan asa yang sama, keinginan menjalani hidup yang sama, tapi itu bubar semua…

Bisa saja ini sebuah ketegaan, hanya aku semu dari mu yang mengatakan tak mampu dan pasrah, tapi tak pernah melawan, kini kamu tertawa diatas lara ku ….

Aku bukan lagi sayapmu seperti yang engkau gadang-gadangkan sebelumnya…

Kini aku berusaha untuk memahami bahwa rama-rama yang bersayap itu telah terlepas dari rumah kepompongnya dan terbang menjauh tanpa mau melihat rumah kepompong yang ditinggalkannya, yang sejenak kemudian jatuh berkeping dirubung semut dan dihentak angin…


#Ebong