Friday, January 4, 2019



Memodernkan Kuliner Endatu di Gampong Pande Banda Aceh

BANDA ACEH – Dengan cekatan Rosmiati menata minuman dengan warna cukup menarik, kombinasi putih dan ungu pada gelas berkaki panjang. Kemudian ia menyusun dengan rapi dan indah buah nipah baik yang masih utuh maupun yang sudah dikupas. Minuman yang dipamerkan Rosmiati memang minuman hasil kreasinya dari buah nipah.
Rosmiati mengaku senang bisa menampilkan kreasinya dengan buah nipah. “Sebelumnya saya belum tahu caranya bikin minuman seperti ini, tahunya makan buah nipah begitu saja,” ujar Rosmiati.
Nama buah Nipah pastilah tidak asing, walau buah ini jarang menjadi konsumsi orang kebanyakan. Namun, buah yang mirip dengan kolang kaling ini ternyata bisa menjadi kuliner yang menyegarkan dan menyehatkan.
Buah mungil berwarna bening ini bisa diolah menjadi aneka juz dan es buah.
Dalam kehidupan sehari-hari nipah adalah sejenis palem yang tumbuh di lingkungan hutan bakau atau daerah pasang-surut dekat tepi laut. Nipah memiliki nama latin nypa fruticans wurmb, dan diketahui sebagai satu-satunya anggota marga nypa. Tumbuhan ini merupakan satu-satunya jenis palma dari wilayah mangrove. Fosil serbuk sari palma ini diketahui berasal dari sekitar 70 juta tahun yang silam.
Adalah Gampong (desa) Pande di Banda Aceh, Aceh, Indonesia. Konon disini produksi nipah berlimpah, karena pohonnya tumbuh dengan marak dirawa-rawa. Tapi pasca tsunami melanda aceh dan merusak tatanan kehidupan Gampong Pande, pemberdayaan buah nipah pun mulai luntur bahkan nyaris hilang.
“ Karena 90 persen warga Gampong Pande meninggal saat tsunami lalu, maka tidak ada generasi yang bisa meneruskan keahlian untuk mengolah nipah menjadi aneka kuliner disini, padahal dulu di Gampong Pande ini dikenal dengan nipahnya terutama diambil daunnya sebagai pembungkus tembakau dan dijadikan rokok,” jelas Amiruddin, Kepala Desa Gampong Pande.
Dibantu oleh Community Urbanisme Warga ICAOS Uniiversitas Syiah Kuala Banda Aceh, kini warga Gampong Pande Banda Aceh diajak kembali menghadirkan nipah sebagai komoditas unggulan di kampung tersebut.
Dan untuk mengenalkan kembali aneka olahan buah nipah warga mengadakan festival minum nipah. Disini buah nipah disajikan dalam aneka bentuk minuman jus dan es buah rasanya..???? Hmmmm… yummy.
Program Creator Urbanisme Warga, Pratitou Arafat, mengatakan pihaknya mencoba kembali membangun kreatifitas dari warga Gampong Pande untuk bisa meningkatkan perekonomian keluarga.
“Kalau dulu pernah Berjaya, kenapa kini tidak kita bangkitkan kembali, warga hanya diminta untuk menggali kembali bagaimana mengolah buah nipah, karena disini potensinya besar, makanya kami membantu warga untuk bisa membangkitkan kembali potensi ini,” katanya.
Selain itu, sebut Arafat, Pemerintah Kota Banda Aceh juga merancang Gampong Pande sebagai satu dari banyaknya destinasi wisata, khususnya wisata sejarah, di Banda Aceh, karena disini banyak peninggalan nisan bersejarah bukti awal berdirinya Kota Banda Aceh. “ kalau sudah menjadi destinasi wisata, pastinya harus didukung oleh kuliner yang unik dan menarik serta rasanya juga enak, nah dengan tujuan itu juga kami mencoba membangkitkan kembali warga untuk menghadirkan kembali kuliner buah nipah ini,” jelas Arafat.
antusiasme warga dalam kegiatan ini cukup bagus, setiap pengunjung bisa menikmati aneka juz dari buah nipah. “Rasanya asik dan unik, segar untuk dinikmati,” kata Qanita seorang pengunjung Nipah Festival.
Dari pohon nipah, warga tak hanya bisa menikmati buahnya saja, namun warga juga bisa mendapat manfaat dari daun nipah, misalnya untuk membuat atap bangunan, atau bahkan yang sering kali digunakan adalah sebagai pembalut tembakau yang dijadikan rokok.

Amiruddin, Kepala Desa (Keuchik) Gampong Pande berharap dengan bangkitnya lagi nipah di Gampong Pande bisa meningkatkan perekonomian warga gampong.*****


Wednesday, November 16, 2016

Perginya Sang Panutan

Sosok Misterius ini pergi dengan rahasianya


Bagi saya, dia tetap sebagai sosok yang misterius. Meski sudah berteman lebih dari 10 tahun, dia selalu mampu menyembunyikan sesuatu yang menurutnya itu bersifat pribadi dan tidak harus diketahui oleh orang lain.
Bahkan laki-laki yang lebih suka memakai sandal ketimbang sepatu ini, cenderung lebih suka berkomunikasi secara tulisan (via sms, whatsapp, atau bahkan BBM) kepada seseorang yang ditujunya, jika ia ingin menyampaikan sesuatu hal yang serius.
Namanya Fakhrurradzie Muhammad Gade. Dikenal luas sebagai pemimpin redaksi media online www.acehkita.com. Situs berita yang digawanginya jatuh bangun.
Awal mengenalnya tidak terlalu istimewa. Saat itu sekitar tahun 2003. Saya mengenalnya melalui dua teman jurnalis lainnya yakni Hotli Simanjuntak (Koresponden tha Jakarta post—saat ini ) dan Nani Afrida (Reporter the Jakarta post—saat ini). Keduanya adalah jurnalis yang menulis dan memotret untuk Acehkita.com. Dan kemudian juga memberikan saya kesempatan untuk bergabung di redaksi yang sama. Saat itu saya mendapat kode nama AK-42.  Dan saya bangga dengan angka tersebut.
Saat gempa dan tsunami melanda Aceh, Radzie (pastinya dengan embel-embel Bang, begitu saya memanggilnya) memutuskan untuk pulang ke Aceh, tepatnya ke Banda Aceh. Setiba di Banda Aceh. yang dilakukannya adalah memastikan semua kontributor acehkita.com selamat dan sehat.  Kemudian dia juga sempat bekerja di Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh di bagian humas dan komunikasi, hingga kemudian badan ini tutup lalu Radzie aktif terus mengelola website tersebut.
Sambil mengelola dan sesekali saya juga mengisi laman di situs acehkita.com, Radzie dan beberapa teman menerbitkan majalah bulanan AcehKini. Banyak hal yang kami rekam disana. Hanya bertahan setahun lebih, majalah itu kemudian tutup karena ketiadaan biaya operasional. Sebelumnya semua biaya operasional dikeluarkan dari kantongnya sendiri dan urunan dari beberapa teman seperti Yuswardi Ali Suud, dan Bang Nurdin Hasan, serta beberapa teman lainnya. Satu hal yang membanggakan kami bahwa tulisan di Majalah AcehKini pernah menjadi finalis pada kompetisi Mochtar Lubis Award. Sebuah ajang penghargaan jurnalistik di Indonesia.
Hari-hari saya dan dia, berjalan sebagaimana adanya, banyak peliputan yang kami jalani bersama. Banyak aktifitas yang kami kerjakan bersama, terutama aneka aktifitas di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh dan saat mengelola Muharram Journalism College (MJC).
Jujur, selama berteman dan menjalani aktifitas bersama tak banyak hal yang saya tahu tentang dirinya, selain saya berusaha membaca sendiri karakter dan siapa sosok Radzie sebenarnya.
Saya menggarisbawahi bahwa ia adalah sosok jurnalis yang sangat menjunjung tinggi idealisme, berwawasan, karena dia selalu meng-upgrade kemampuan dan pemahaman jurnalisme seiring dengan perkembangan yang ada. Hingga kemudian, dia juga memfokuskan dirinya sebagai jurnalis yang juga sebagai blogger. Ketertarikannya pada dunia maya membuat dirinya menjadi lumayan piawai untuk bergelut jurnalisme online dan media sosial.
Di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh, Radzie adalah sosok yang boleh dikatakan khatam mengutak atik media online dan media sosial, selain ada sosok lainnya yakni Taufik Mubarak, yang sama-sama juga mengelola Acehkita.com
Setiap ada pelatihan jurnalistik, maka materi media online dan sosial media menjadi santapannya.
Tahun 2015, saya mulai melihat ada banyak perubahan pada fisiknya. Mengelola usaha laundry yang didirikannya, menjadi seorang jurnalis, mengerjakan beberapa project penulisan buku, dan bekerja sebagai humas dan PR yang dikontrak per-event adalah kesibukannya saat itu. Perubahan pada fisiknya, salahs atunya dalah penurunan berat badan yang drastis, menurut saya kala itu disebabkan oleh begitu banyaknya aktifitas yang dialkoni. Hingga kemudian kami mendapatinya harus dirawat dirumah sakit. Dan saat itulah kami diberi tahu kalau dia memang sakit.
Jika ada laki-laki memiliki sifat peduli, penyayang dan tegas di dalam keseharian saya, maka dia adalah Radzie. Setelah dia memutuskan untuk berdomisli di Banda Aceh, anak bungsu dalam keluarganya ini kemudian menjadi penopang dan panutan bagi hampir semua keponakannya.
Beberapa ponakannya diboyong ke Banda Aceh untuk melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi. Dan saat itu juga dia mulai menjadi penjaga sekaligus orangtua bagi para keponakan. Mulai dari mengantar dan menjemput keponakan ke kampus, hingga meminjamkan laptop agar sang ponakan lancar mengerjakan tugas kampus. Dan kini, seorang keponakannya bernama Agus Setyadi, sukses mengikuti jejak sang Cecek (Paman) menjadi seorang jurnalis muda yang aktif dan rajin.
Lagi-lagi, saya membaca bahwa Radzie tak hanya menjadi seorang paman bagi para keponakannya, namun juga menjadi panutan dalam keseharian mereka.
Sehari sebelum kepergiannya, saya memang tak bersamanya, seperti dua, tiga, bahkan sepekan sebelumnya kami ada di Sekretariat AJI Kota Banda Aceh. Beberapa pekerjaan saya membuat kami tak bertatap muka pada hari Kamis, 10 November 2016. Hingga pada kamis sorenya saya datang ke sekretariat, kemudian saya mendapat kabar kalau lelaki dengan nama kecil Imran ini, kembali dirawat di rumah sakit.
Bersama staf sekretariat AJI Banda Aceh, Kak Maisara, kami memutuskan untuk membezuk Radzie pada hari sabtu dikeesokan harinya. Tapi Takdir Allah berkata lain. Allah memanggilnya pada Jumat 12 November 2012 pukul 23.30 wib.
Kabar duka ini bak petir disiang bolong. Hanya berselang 30 menit saya tiba dirumah sekembalinya dari Markas AJI Banda Aceh, kabar itu justru saya dapat dari seorang teman jurnalis di Takengon bernama Iwan Bahagia. Dia menanyakan kenapa banyak teman di grup messanger Whatrsapp AJI Indonesia menyampaikan ucapan belasungkawa atas kepergian Bang Radzie.
Saya terhenyak, menyesalkan gadget saya yang berulah dan henk, sehingga tak membaca pesan-pesan duka yang sudah ramai di pada semua layanan messanger. Saya menelpon Reza Fahlevi (Jurnalis Analisa di AJI Banda Aceh) untuk memastikan kabar tersebut. “Iya, Bang Radzie sudah pergi dan kami juga baru tahu dan baru tiba di rumah sakit,” itu kata Reza.
Tanpa bertanya panjang lagi, saya langsung menuju Rumah Sakit Pertamedika, dan saya tak bisa menahan kesedihan saya. Rasa kehilangan begitu mendalam bagi saya.
Hmmm…. Kehilangan ini harus kami lewati, kesedihan ini harus kami rasakan. Menghadirkan lagi sosok Radzie dalam kehidupan saya dan teman-teman itu adalah hal yang tak mungkin. Tapi “warisan-warisan” berupa ilmu, sikap, sifat itulah yang kini harus dijaga dan dipertahankan, sehingga  ia terus abadi bersama kami, bersama dunia jurnalisme di Aceh.
Satu mimpinya yang terus melekat di benak saya, bahwa ia memiliki keinginan kuat untuk mendirikan sebuah media cetak di Aceh, yang memiliki nama besar. “ Selain memberikan informasi juga mencerdaskan masyarakat,” katanya.
Apapun itu, dia tetap sosok misterius bagi saya, se-misterius dia merahasiakan detil kehidupan pribadinya kepada semua orang hingga akhir hayatnya. Dalam senyumnya, hanya dia yang tahu apa yang diinginkannya.
Selamat jalan Bang Radzie, purnama ini kami mendoakanmu, begitu juga pada purnama-purnama selanjutnya. Doa itu akan terus mengalir, seperti halnya apa-apa yang sudah engkau bagikan pada semua teman, kerabat dan sejawat bahkan anggota keluarga, seperti air, akan terus mengalir dan memberi makna bagi kehidupan yang engkau tinggalkan. ***** (Yayan)



NB : Tulisan ini dimuat pada Surat Kabar Mingguan Berita Merdeka Edisi 16-20 Nov 2016, dan sudah mendapatkan suntingan dari redaksi SKM-BM, termasuk judulnya. Di SKM Berita Merdeka dimuat dengan Judul : Perginya Sang Panutan. Terimakasih untuk SKM Berita Merdeka, khususnya Bang Mohsa El Ramadan, yang sudah memuat tulisan ini.








Wednesday, January 20, 2016

Senjakala Sebuah Hati

Kamu yakin tidak tahu, atau bersikap pura-pura tidak tahu, sebagaimana yang sering kamu peragakan bahwa sebelumnya kita menyimpan asa yang sama, keinginan menjalani hidup yang sama, tapi itu bubar semua…

Bisa saja ini sebuah ketegaan, hanya aku semu dari mu yang mengatakan tak mampu dan pasrah, tapi tak pernah melawan, kini kamu tertawa diatas lara ku ….

Aku bukan lagi sayapmu seperti yang engkau gadang-gadangkan sebelumnya…

Kini aku berusaha untuk memahami bahwa rama-rama yang bersayap itu telah terlepas dari rumah kepompongnya dan terbang menjauh tanpa mau melihat rumah kepompong yang ditinggalkannya, yang sejenak kemudian jatuh berkeping dirubung semut dan dihentak angin…


#Ebong

Friday, July 31, 2015

"Makanan Lam Prang", Menu Para Pejuang Saat Perang Kemerdekaan





BANDA ACEH, KOMPAS.com -- Sepintas makanan-makanan ini memang tak memiliki nilai apa-apa. Sebagiannya malah dikenal sebagai makanan biasa, seperti ubi rebus, pisang rebus dan sagu kukus. Semuanya ditata apik dengan nampan-nampan anyaman daun pandan duri.
Tapi, semua ini mulai menebar aura ketika mata melirik ke arah samping, sebuah kertas karton tersandar disampingnya, disana tertulis; “makanan lam prang”. Artinya, makanan-makanan dalam zaman perang.
Seorang perempuan berkerudung hitam, mulai membuka tutup nampan lebih lebar dan menyilahkan para pengunjung untuk mencicipi makanan tersebut. Tak memakan waktu lama, semua pengunjung langsung antri dan mulai memilih makanan mana yang ingin dicicipi.

Mata pengunjung juga tertuju pada satu menu tertulis ‘Janeng’. Dikalangan masyarakat Aceh, Janeng memang dikenal sebagai penganan untuk bekal bepergian, termasuk bepergian untuk bergerilya, alias berperang melawan penjajah belanda saat dilakukan oleh masyarakat Aceh lebih dari seratus tahun lalu.

Janeng, adalah jenis umbi umbian, pohonnya kecil dan berduri kecil, merambat seperti pohon sirih. Daunnya berwarna hijau bila masih muda. Biasanya tumbuh liar dihutan-hutan di bawah pohon yang ukurannya lebih besar dan teduh. Janeng memiliki umbi buah besar yang menghujam ke bawah tanah.
Dalam bahasa latin termasuk dalam anggota marga Amorphopallus campanulatus. Sekarang di provinsi Aceh, varitas tanaman janeng semakin langka di hutan-hutan.

Pohon Janeng tumbuh di semak-semak belukar, berkembang baik di tempat-tempat yang lembab dan terlindungi dari sinar matahari. Tinggi pohon Janeng lebih dari 1 meter dengan ciri - ciri; batangnya lunak, berduri kecil, dan berwarna hijau. Akarnya berserabut putih kotor. Buahnya berwarna putih dan berat buahnya bisa mencapai 7-10 kg.

Buah Janeng memiliki nilai gizi yang tinggi, dengan kandungan utama adalah karbohidrat sekitar 70-85%. Kandungan lain, seperti serat, vitamin, kalsium, zat besi, dan protein.






“ Dulu, pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang, boh janeng atau buah janeng oleh para indatu kita dijadikan sebagai bahan pangan dan bekal yang dibawa ke hutan atau lokasi-lokasi berperang gerilya, dan di gampong ( desa) sering juga dijadikan makanan pengganti beras,” ujar Asmah, perempuan berkerudung hitam tadi yang memberi penjelasan pada pengunjung, Jumat (31/7/2015).

Janeng dan beberapa makanan perang ini memang dipamerkan dalam ajang peringatan 100 tahun Museum Aceh yang digelar di Banda Aceh. Tak pelak, makanan yang menjadi makanan langka dimata anak dan remaja bahwa sebagian orang dewasa yang berkunjung ke Musium Aceh ini, usianya juga sudah 100 tahun, bahkan lebih.

Alhasil, pengunjung yang ingin menikmati ransum perang prajurit Aceh ini menjadi membludak, tak sampai dua jam, makanan yang sengaja disajikan secara gratis ini, ludes tak bersisa.

“Kalau anak-anak muda sekarang mungkin memang sudah tak mengenal lagi makanan-makanan ini, karena sangat jarang disajikan, bahkan mungkin tidak setahun sekali dalam kenduri apapun di Aceh, selain bahan baku Janeng yangs ulit ditemukan, mengolah janeng ini pun harus punya keahlian tersendiri, agar saat dikonsumsi tidak menimbulkan racun,” jelas Asmah.

Selain Janeng, makan lain yang dipamerkan adalah Leughok, alias sagu yang sudah dikukus dan dimakan dengan parutan kelapa yang dikukus pula agar tak mudah basi.

Kemudian ada pula Empheng. Ini adalah sejenis makanan yang terbuat dari tepung beras ketan yang didalamnya ada kelapa parut dan gula. Makanan ini disajikan didalam daun pisang yang sebelumnya di kukus dan dibakar. “ Kenapa parutan kepalanya ada diberi gula, ini untuk menjaga energy dalam tubuh, agar gak lemas walau tak makan makanan lain dalam beberapa hari,” ujar Asmah.

Syarifah, seorang pengunjung mengaku senang bisa melihat banyak sajian makanan tradisional dan tua yang ditunjukkan di pameran 100th Musium Aceh. “Ini penting bagi generasi muda agar mereka tahu budaya Aceh seutuhnya, dan bagi saya sendiri pun ini menjadi sangat menarik, karean saya juga baru tahu yang namanya Janeng dan Empheng,” sebut Syarifah. *****


_____________________________________________________________________

This story has been published on:
www.kompas.com
Jumat, 31 Juli 2015 | 16:20 WIB
By : Daspriani Y Zamzami
Editor : Caroline Damanik

Tuesday, July 28, 2015

Kisah Penjaja Ikan Keliling yang Jadi Pengibar Bendera di Istana Negara



BANDA ACEH, KOMPAS.com — Hups! Tumpukan ikan yang terakhir pun masuk ke keranjang rotan yang sudah lusuh dan kini becak berisi ikan-ikan segar ini siap diajak berkeliling kampung untuk dijajakan.

Seragam abu-abu yang tadi menempel di tubuh sudah berganti dengan kaus oblong biasa. Pedal becak pun dikayuh. Jarak dan luas area mengayuh becak untuk menjajakan ikan ini pun tak tanggung-tanggung, yakni empat kecamatan, yaitu Kecamatan Seunagan, Suka Makmur, Seunagan Timur, dan Beutong di Kabupaten Nagan Raya.

Si penjaja ikan berusia muda ini adalah Ricky Satria Pratama (16), pelajar SMAN I Seunagan, Kabupaten Nagan Raya. Remaja yang berpenampilan bersahaja ini memang mengisi waktu luangnya sepulang sekolah untuk menjajakan ikan demi memenuhi kebutuhan sekolah dan pribadinya.

"Penghasilan saya antara Rp 30.000 hingga Rp 60.000. Uang itu untuk jajan sendiri dan juga adik," kata Ricky.

Namun, hampir sebulan belakangan ini sejumlah pelanggan tetapnya tak lagi melihat Ricky datang membawa ikan. Bukan karena sakit atau enggan kembali berjualan ikan, melainkan remaja dengan postur tubuh tinggi 174 cm dan berkulit putih ini sedang merintis cita-citanya, yakni menjadi seorang Pasukan Pengibar Bendera Pusaka di Istana Merdeka Jakarta pada peringatan 17 Agustus 2015 mendatang.

"Saya bangga bisa terpilih dan lolos menjadi satu di antara banyak remaja di Indonesia yang terpilih menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka di Istana Negara nanti. Saya tidak malu walau selama ini saya hanya seorang penjual ikan yang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sekolah saya," ujar Ricky saat ditemui di sela-sela latihan Paskibraka di Banda Aceh, Senin (27/7/2015).

Melewati proses seleksi untuk menjadi seorang anggota Paskibraka bukanlah hal yang mudah bagi Ricky. Melewati berbagai jenjang seleksi dan puluhan saingan, akhirnya Ricky pun terpilih menjadi satu dari 80 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.

"Saya tidak menduga berhasil menjadi pasukan di tingkat nasional. Saya senang dan terharu sekali," kata anak pertama dari dua bersaudara ini.

Memiliki ayah seorang personel babinsa di Koramil 0116/Nagan Raya bernama Amilin berpangkat sertu, membuat hari-hari Ricky tak lepas dari aktivitas fisik dan kemandirian mental yang tinggi. Hidup dengan kondisi ekonomi keluarga yang minim membuat Ricky terus memahami arti tanggung jawab dan hidup sederhana.

"Saya tinggal bersama adik dan seorang nenek yang sudah renta, siapa lagi yang bisa bertanggung jawab terhadap mereka kalau bukan saya. Untuk itu, meski sambil bersekolah, saya bekerja sebagai penjual ikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Seleksi ketat

Sementara itu, koordinator pelatih Paskibraka Aceh, Alta Zaini, mengaku sebuah kebanggaan bagi Aceh dua orang putra dan putrinya bisa berhasil menapakkan kaki di Istana Negara dan mendapat kehormatan untuk menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.

"Keduanya memang sudah melewati seleksi yang cukup ketat dan berkat usaha yang keras, dua dari empat peserta usulan dari Aceh berhasil lolos," ujar Alta.

Kedua putra-putri asal Aceh yang lolos ke tingkat Paskibraka Nasional tersebut masing-masing Ricky Surya Pratama (16) berasal dari SMAN I Nagan Raya dan Nadila Tasya Aprilia dari SMAN I Kota Langsa.

Lain kisah Ricky, lain pula kisah Tasya. Tasya sendiri mengaku awalnya sempat tak diizinkan oleh sang bunda untuk mengikuti seleksi pasukan pengibar bendera tingkat kabupaten/kota.

"Alasan mama, karena latihannya berat dan kalau pulang ke rumah selalu telat karena latihan sampai sore," ujar Tasya.

Namun, berkat keinginannya yang kuat, remaja yang bercita-cita ingin menjadi taruni Akademi Polisi ini pun berhasil meluluhkan hati sang bunda dan mendapat restu. Restu itu tak main-main rupanya. Dengan restu dan keihklasan sang bunda, Tasya pun berhasil menyisihkan banyak saingannya untuk berhasil mendapatkan posisi sebagai anggota Paskibraka tingkat nasional.

Keberhasilan Ricky dan Tasya yang diraih saat ini bukanlah hadiah yang datang secara tiba-tiba. Peran serta orangtua yang memberi dukungan dan semangat kepada keduanya telah berhasil membawa mereka kepada separuh impian mereka saat ini.

Ricky dan Tasya mengaku akan berlatih keras agar bisa mengharumkan nama Serambi Mekah. Ricky berkeinginan terpilih dalam pasukan 8 dan berkesempatan menjadi pasukan pengerek bendera. Sementara itu, Tasya berkeinginan bisa dipercaya menjadi pasukan pembawa baki bendera pusaka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ricky dan Tasya memang bukan bagian dari sejarah bagaimana darah ditumpahkan untuk mempertahankan helai kain berwarna merah putih itu. Namun, keduanya adalah bagian yang tak mungkin dipisahkan dari upaya mempertahankan merah putih tetap berada dalam sanubari dan semangat juang hidup mereka.******


Source: http://regional.kompas.com/read/2015/07/28/18291091/Kisah.Penjaja.Ikan.Keliling.yang.Jadi.Pengibar.Bendera.di.Istana.Negara



Penulis: Kontributor Banda Aceh, Daspriani Zamzami
Editor: Farid Assifa

Thursday, January 22, 2015



Keep Fight, Mori....

Dia lelaki muda, dengan usia 26 tahun, taksir saya. Berkaos oblong dan celana training spack, sebuah tentengan plasti merah ditangannya.

Pertemuan dengannya pada Selasa (20/1/2015) malam sekitar pukul 21.00 wib ini saya yakini bukan kebetulan, tapi memang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, sebagai pengingat, kalau saya memang harus bersyukur, dengan semua nikmatNya.

Lelaki muda ini bernama Mori. Dia mengaku baru saja menerima "vonis kematian" atas dirinya.

Tas plastik berwarna merah itu, sebut Mori berisikan dokumen hasil pemeriksaan dari Laboratorium, dan menyatakan kalau dia positif mengidap Kanker Darah alias Leukimia.

Deg...!!!!

Putus asa dan kesedihan jelas terlihat dimatanya. Dan saya pun nyaris tak sanggup mendengar kenyataan itu.

Saya bukan sekali dua berhadapan dengan orang-orang yang berjalan menuju kematiannya.
Pasien thalassemia (yang hampir 90% adalah anak-anak), pasien kanker (termasuk anak-anak), adalah orang-orang yang pernah saya temui.

Tapi perasaan saya beda sekali malam ini. Sedih dan terkejut, mungkin sama dengan yang dirasakan Mori.

Namun saya tahu, kedatangan Mori ke tempat kami (saat itu saya dan teman teman sedang berkumpul di Nemo Galery), bukanlah untuk menambah kesedihannya, tapi tentunya ingin mendapat dukungan dan tiupan semangat. Dan itu yang diberikan teman-tem, di Galllery, terutama Kak Nurjannah.

Pengalaman Kak Nurjannah sebagai relawan pendamping penderita Thallasemia, dibagi untuk Mori, sebagai support moral.

Pastinya, orang-orang seperti Mori, tidak satu dua, tapi banyak. Namun bagaimana kita bisa memberi dukungan kepada mereka agar mereka pun bisa menjalankan hidupnya dengan baik dan bersemangat, tanpa harus menghitung hari menuju kematiannya.

Langkah, rezeki, pertemuan dan maut, adalah hak prerogatif Tuhan, Mori.

Tak ada yang bisa menyangkal dan menghindar dari itu jika sudah tiba waktunya.

Dan saya pun terenyuh, bagaimana mungkin saya mengeluhkan sedikit sakit yang saya rasakan, sementara masih banyak rasa sakit yang lebih hebat dirasakan oleh orang lain, namun mereka bertahan..

Keep Fight, Mori...!!

Kamu salah, jika berpikir tak lagi berguna, karena kamu sudah memberi kami pelajaran, sabar, ikhlas dan semangat hidup yang luar biasa.. *****


Mengenal Penyakit Leukemia

Mengenal Penyakit Leukemia
-
Berbicara tentang leukemia berarti berbicara tentang kanker. Leukemia memang kerap disebut kanker sel darah putih. Pertandanya? Lonjakan jumlah sel darah putih (leukosit) yang tidak normal dalam darah Anda. Ini yang terjadi dalam tubuh saat terjangkit leukemia:
  • Dalam darah  terdapat tiga macam sel yang memiliki fungsinya masing-masing. Sel darah merah bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, sel trombosit membantu pembekuan darah jika terjadi luka, dan sel darah putih menjadi ‘pasukan’ melawan virus dan bakteri penyebab infeksi. Normalnya, tiap-tiap sel darah memiliki masa hidupnya masing-masing, di mana sel-sel yang tua dan rusak akan mati dan segera digantikan oleh sel-sel baru. Khusus untuk sel darah, produksinya terjadi di sumsum tulang. Tak kurang dari milyaran sel darah baru yang kebanyakan adalah sel darah merah diproduksi setiap harinya.
  • Pada penderita leukemia, terjadi abnormalitas produksi. Tubuh mereka memproduksi sel-sel darah putih jauh lebih cepat dan lebih banyak daripada seharusnya. “Masalah timbul ketika sel-sel tersebut bertahan lebih lama dari masa hidupnya dan mulai menginvasi sel-sel darah yang lain,” jelas DR. dr. Aru Sudoyo, Sp.PD, K-HOM, FINASIM, FACP., dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
  • Sel-sel rusak tersebut tumbuh dengan cepat dan sayangnya tidak mudah mati seperti seharusnya. Jumlahnya yang terus bertambah akhirnya menjadi beban bagi organ tubuh. Puncaknya, ketika kinerja sumsum tulang dalam memproduksi sel-sel darah yang lain terganggu. Akibatnya? Tubuh kekurangan oksigen akibat jumlah sel darah merah yang berkurang drastis. Belum lagi luka yang sulit menutup karena jumlah trombosit yang terkikis. ‘Tentara’ yang seharusnya melindungi tubuh Anda kini berbalik mengkudeta hidup Anda. 
  • Sialnya, walaupun berjumlah sangat banyak, kinerja sel-sel abnormal ini justru tidak bisa diandalkan sama sekali. Sistem kekebalan tubuh akan menurun secara signifikan, menjadikan pasien-pasien leukemia tidak berdaya melawan serangan infeksi –termasuk yang paling ringan sekalipun. Dan, karena mengalir bersama darah, sel kanker bisa menyebar ke semua organ tubuh, termasuk otak, tulang, hati, dan limfa, yang kemudian menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Makanya, penderita leukemia juga ada yang mengeluhkan gejala demam, kulit pucat, memar-memar, sakit kepala berkepanjangan, berkeringat di malam hari, pembengkakan kelenjar getah bening, hingga berat badan yang menyusut tajam. Bahkan, pasien juga berisiko mengalami memar hingga perdarahan yang tak kunjung berhenti.
Secara umum, leukemia dapat dibagi dua, berdasarkan berdasarkan lama penyebarannya, yaitu:
  • Leukemia Akut (Acute Leukemia). Pada leukemia akut, sel-sel abnormal muncul secara mendadak dan merusak fungsi jaringan tubuh yang lain dalam waktu singkat. Yang meresahkan, sel-sel leukemia tersebut dengan cepat menekan produksi sel darah merah, membuat pasien mengalami anemia parah.
  • Leukemia Kronis (Chronic Leukemia). Sementara pada leukemia kronis, proses pembelahan sel-sel abnormal berjalan lebih pelan. Sel darah merah dan trombosit tetap diproduksi, walaupun jumlahnya masih di bawah normal. Saking pelannya, pada kebanyakan kasus, gejala leukemia kronis justru baru muncul setelah bertahun-tahun. Namun, walaupun terlihat normal, pada kenyataannya jumlah sel darah putih akan terus meningkat. Akibatnya tetap bisa fatal jika tidak segera ditangani.
Leukemia juga bisa diklasifikasikan lagi menjadi empat tipe besar, tergantung dari area tempat munculnya kanker –di daerah lymphocytic atau myelogenous.
  • Acute Lymphocytic Leukemia (ALL)
  • Acute Myelogenous Leukemia (AML)
  • Chronic Lymphocytic Leukemia (CLL)
  • Chronic Myelogenous Leukemia (CML)
Pada pria dewasa, Chronic Lymphocytic Leukemia (CLL) dan Acute Myelogenous Leukemia (AML) merupakan jenis yang paling sering ditemui. Leukemia menyerang semua kelompok usia, dari anak kecil hingga orang lanjut usia. Kabar buruknya, leukemia lebih banyak menyerang para pria ketimbang lawan jenisnya. Persentasenya? Para ahli memperkirakan, kaum adam menyumbang 57% dari total kasus baru leukemia di tahun 2013.***** (Menshealth.co.id)


Thursday, October 23, 2014



Senandung "Lullaby", Merawat Gajah dengan Hati dan Cinta...
Selasa, 21 Oktober 2014 | 15:16 WIB


K12-11 Seorang Pelatih gajah asal Thailand, Lek Chalert sedang memberikan pijatan kepada Bayi Gajah bernama Agam usai menjalani proses rontgen di PLG Saree, Aceh Besar.
********
BANDA ACEH, KOMPAS.com - Enam pria dewasa menyamakan gerakan dalam sekali tarikan, berharap bayi bertubuh besar itu bisa langsung ditidurkan di tanah. Dalam sekali hentak, suara erangan kesakitan pun terdengar. Memang memilukan, namun upaya menidurkan tersebut harus dilakukan.

Enam pria ini adalah mahout dan perawat gajah di kawasan Pusat Latihan Gajah (PLG), Saree, Kabupaten Aceh Besar. Sedangkan bayi raksasa yang akan ditidurkan itu adalah seekor bayi gajah berusia 2 tahun dengan bobot 356 kilogram, bernama Agam.

Setelah upaya berat tadi, seorang perempuan berperawakan kecil langsung menghampiri Agam. Dengan penuh kasih sayang, dia pun membelai kepala Agam. Kemudian dia melanjutkannya dengan memberi pijatan. Sesekali perempuan ini terlihat berbisik di telinga Agam, dan ‘lullaby’ pun disenandungkan dengan tarikan irama yang sangat lembut.

Lalu, beberapa lelaki yang tadi berusaha menidurkan Agam pun mulai membersihkan luka-luka di tubuh Agam. Luka-luka itu ditaburi dengan obat. “Ini luka-luka yang ditimbulkan karena Agam terlalu lama berbaring, karena sakit yang dideritanya,” kata seorang Mahout.

Agam, kini sedang menderita dislokasi tulang kaki belakangnya, akibat terjatuh sekitar empat bulan yang lalu. Koordinator PLG Saree, Aceh Besar Nurdin menceritakan, saat itu Agam sedang bermain bersama seekor bayi gajah lainnya bernama Rosa di PLG.

“Keduanya terlihat begitu lincah dan senang bermain bersama. Tapi, Agam tersandung kabel listrik yang tergeletak di tanah dan kebetulan pula tanah pijakannya tidak rata, membuat kaki Agam keseleo dan diagnosanya, terjadi dislokasi tulang kaki belakang, jadi dia sekarang susah berjalan,” kata Nurdin, saat usai menidurkan Agam, Kamis lalu.

Akibatnya, Agam terpaksa harus berada di kandang sepanjang hari. Akibat terlalu lama berada di kandang, beberapa bagian tubuh Agam lecet dan terluka. “Namun luka-luka itu sudah mulai sembuh, kita beri perawatan intensif terus setiap harinya, dan kini Agam pun makin sering kita posisikan berdiri dengan alat bantu berupa gendongan,” kata Nurdin.

Hal senada juga disebutkan oleh Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Genman Suhefti Hasibuan. Menurut Genman, kondisi Agam secara mental masih sangat sehat. “Ini terindikasi dengan gerakan-gerakan aktif yang dilakukannya setiap hari saat dia diposisi berdiri dalam gendongan. Selain itu selera makannya juga masih sangat bagus, ini mengindikasikan bahwa secara mental dia masih sangat sehat, meski dia mengalami dislokasi tulang kaki belakang,” jelas Genman.

Genman juga menepis adanya keinginan untuk mengakhiri penderitaan Agam dengan memberinya suntikan mati. “Itu tidak mungkin kita lakukan, karena kondisi Agam masih sangat baik, memang menanganinya perlu kerja ekstra dan butuh beberapa perawat yang konsen menanganinya, dan itu kita akan terus upayakan meski dalam keterbatasan kami,” ujar Genman.

Pria berperawakan kecil ini mengakui bahwa Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree dan BKSDA Aceh memiliki keterbatasan tenaga dan alat untuk memberi terapi terhadap Agam, sehingga muncul keinginan untuk mengirim Agam ke Taman Safari Bogor untuk mendapat perawatan yang lebih intensif.

“Tapi itu harus menunggu izin dari direktorat jenderal terlebih dahulu, kendati demikian, kita akan terus berusaha semaksimal mungkin untuk menangani Agam di Aceh,” urai Genman.

Kabar tentang Agam tak hanya diketahui oleh para mahout di lokasi PLG.  Terkait populasi gajah yang mulai terancam punah di Aceh, kondisi Agam tersebar luas di berbagai media sosial bahkan sempat menjadi perbincangan dalam pembahasan konservasi gajah internasional.

Lek Chailert, seorang perawat gajah asal cagar alam Elephant Nature Park di Negara Thailand, rela datang demi menjenguk kondisi Agam. Lek menyebutkan merawat gajah dengan kondisi dislokasi tulang memang sulit. Namun jika dirawat dengan kasih sayang dan cinta, itu akan sangat membantu proses penyembuhannya.

“Gajah dengan dislokasi tulang seperti ini memang tidak bisa sembuh normal kembali, dia pasti hidup dengan kondisi cacat nantinya, yakni pincang saat berjalan, namun jika dirawat dengan baik dia pasti akan sembuh,” kata Lek.


 
K12-11 Agam, seekor bayi berdiri dengan bantuan alat gendongan, karena mengalami dislokasi tulang pada kaki bagian belakang. ***** K12-11

Menangani dengan cinta
Bersama Lek, hadir juga seorang dokter hewan bernama Erica Ward. Keduanya kini menangani gajah-gajah di Nature Elephant Park, Chiangmai, Thailand. Selama kunjungan di PLG Saree, Lek "meninabobokan" Agam setiap malam dengan lagu khusus. Lagu ini dikenal dengan sebutan ‘Lullaby’.

“Menangani gajah bukan hanya dengan fisik, tapi juga dengan hati dan cinta, karena mereka adalah mahkluk yang memiliki perasaan halus walaupun bertubuh besar. Terapi merawat gajah dengan cinta terbukti membuat binatang ini bisa dikendalikan dan bisa hidup berdampingan dengan manusia,” kata Lek.

Dan, Lek pun mulai membelai kepala Agam, sambil membisikkan ‘Lullaby’ di telinganya. Setelah itu, Lek juga memberi pijatan khas bagi Agam, yang diyakini pijatan dan sentuhan ini akan bisa mengurangi rasa sakit yang dirasakan Agam.

Lek juga mengisahkan kasus yang sama, bahkan lebih parah yang pernah ditanganinya terhadap gajah yang dibawa ke lokasi cagar alam miliknya bernama Mintra. “Gajah betina ini datang ke tempat kami dengan kondisi yang lebih parah dari Agam, namun dengan keseriusan dan perhatian penuh, kami merawatnya bersama-sama, hingga dia bisa sembuh meski harus berjalan pincang, bahkan kini dia sudah melahirkan seekor bayi gajah yang lucu.

Rontgen
Selama berada di PLG, keduanya bekerjasama dengan dokter Rosa yang selama ini menjadi dokter di pusat latihan gajah ini. “Senang rasanya bisa mendapat teman untuk membantu kesembuhan Agam, kami berusaha menangani dengan harapan di bisa cepat pulih dan bisa bermain kembali,” ujar Rosa.

Sabtu 18 Oktober lalu, sebut Rosa, sepanjang hari Agam menjalani proses rontgent, untuk mengetahui kondisi tulang kakinya. “Sebelumnya juga sudah pernah dilakukan proses rontgent namun belum begitu sempurna, kini kita kembali melakukannya dengan bantuan alat yang lebih baik, yang dipinjamkan dari Jakarta, dan kini kita tunggu hasilnya saja,” terang Rosa.




Petugas Medis sedang melakukan proses rontgen terhadap Gajah bernama Agam yang beruisa 2 tahun di Pusat Latihan gajah (PLG) Saree, Kabupaten Aceh Besar. **** K12-11


Proses rontgent berjalan dengan baik, walau alat rontgent sempat mengalami gangguan karena intensitas pemakaian yang memakan waktu berjam-jam.

Pusat Latihan Gajah, adalah tempat penjinakan gajah di bawah naungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh. Kini di sana ada 38 ekor gajah jinak jantan dan betina serta 2 bayi gajah. Kedua bayi masing-masing bernama Rosa dan Agam.

Rosa sudah berusia 2,5 tahun dan lahir dari induk bernama Suci dan sang ayah bernama Geng yang merupakan gajah liar, yang kini sudah mati akibat perburuan gajah. Rosa lahir di lokasi Conservation Rescue Unit (CRU), Desa Ie Jeureungeh, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya akhir tahun 2011.

Kelahiran Rosa atau yang dikenal dengan nama Oca, ini memberi kegembiraan bagi penghuni CRU Ie Jeureungeh, PLG Saree dan BKSDA, di tengah makin berkurangnya populasi gajah Sumatera di Aceh.

Selain Rosa, PLG pun mendapat kiriman seekor bayi Gajah diberi nama Agam. Agam diserahkan oleh warga di Kabupaten Aceh Timur yang menemukannya dalam kondisi mengenaskan. Saat ditemukan Agam terjerumus dalam sebuah lubang sumur kering oleh warga dan kemudian menyerahkannya kepada PLG Saree.

“Sebagai gajah yatim piatu, Agam memang rentan, imunitas tubuhnya sangat rendah karena tidak mendapat asupan air susu ibu, jadi penanganan dan perawatan kesehatan untuk dia memang harus lebih intensid ketimbang Oca,” kata Rosa.

Selain Agam, PLG Saree sebelumnya juga menerima seekor anak gajah diberi nama Raju. Raju dievakuasi sekitar bulan Juni 2013 lalu, namun akibat tidak mampu bertahan akhirnya Raju mati pada Juli 2013.

Genman mengatakan, kini angka gajah sumatera ((Elephas maximus sumatranus) di Aceh terus menurun akibat pembunuhan gajah. Ini terindikasi ada hubungan dengan perburuan gading. Untuk mengantisipasi pembunuhan gajah, BKSDA Aceh mengintesifkan pertemuan dengan masyarakat desa yang kerap berkonflik dengan gajah.

Selama 2012, tercatat 27 gajah mati sebagian besar karena dibunuh dengan diracun dan dijerat di berbagai kabupaten di Aceh. Dari semua kasus itu baru satu pembunuhan gajah bernama Papa Genk di Sampoinet Kabupaten Aceh Jaya pada Juli 2013 diproses hingga ke pengadilan.

Sementara itu sepanjang September 2014, 3 ekor gajah liar tewas di dua kabupaten, yakni Kabupaten Aceh jaya dan Kabupaten Aceh Timur. Kini di Aceh hanya tersisa kurang dari 500 gajah liar saja.

Penulis             : Kontributor Banda Aceh, Daspriani Y Zamzami
Editor              : Glori K. Wadrianto

 Source : http://regional.kompas.com/read/2014/10/21/15165381/Senandung.Lullaby.Merawat.Gajah.dengan.Hati.dan.Cinta.


***********