Memodernkan Kuliner
Endatu di Gampong Pande Banda Aceh
BANDA ACEH – Dengan cekatan Rosmiati menata minuman dengan warna
cukup menarik, kombinasi putih dan ungu pada gelas berkaki panjang. Kemudian ia
menyusun dengan rapi dan indah buah nipah baik yang masih utuh maupun yang
sudah dikupas. Minuman yang dipamerkan Rosmiati memang minuman hasil kreasinya
dari buah nipah.
Rosmiati mengaku senang bisa
menampilkan kreasinya dengan buah nipah. “Sebelumnya saya belum tahu caranya
bikin minuman seperti ini, tahunya makan buah nipah begitu saja,” ujar
Rosmiati.
Nama buah Nipah pastilah
tidak asing, walau buah ini jarang menjadi konsumsi orang kebanyakan. Namun,
buah yang mirip dengan kolang kaling ini ternyata bisa menjadi kuliner yang
menyegarkan dan menyehatkan.
Buah mungil berwarna bening ini bisa diolah menjadi aneka juz dan es buah.
Buah mungil berwarna bening ini bisa diolah menjadi aneka juz dan es buah.
Dalam kehidupan sehari-hari
nipah adalah sejenis palem yang tumbuh di lingkungan hutan bakau atau daerah
pasang-surut dekat tepi laut. Nipah memiliki nama latin nypa fruticans wurmb,
dan diketahui sebagai satu-satunya anggota marga nypa. Tumbuhan ini merupakan
satu-satunya jenis palma dari wilayah mangrove. Fosil serbuk sari palma ini
diketahui berasal dari sekitar 70 juta tahun yang silam.
Adalah Gampong (desa) Pande di Banda Aceh, Aceh, Indonesia.
Konon disini produksi nipah berlimpah, karena pohonnya tumbuh dengan marak
dirawa-rawa. Tapi pasca tsunami melanda aceh dan merusak tatanan kehidupan
Gampong Pande, pemberdayaan buah nipah pun mulai luntur bahkan nyaris hilang.
“ Karena 90 persen warga
Gampong Pande meninggal saat tsunami lalu, maka tidak ada generasi yang bisa
meneruskan keahlian untuk mengolah nipah menjadi aneka kuliner disini, padahal
dulu di Gampong Pande ini dikenal dengan nipahnya terutama diambil daunnya
sebagai pembungkus tembakau dan dijadikan rokok,” jelas Amiruddin, Kepala Desa
Gampong Pande.
Dibantu oleh Community
Urbanisme Warga ICAOS Uniiversitas Syiah Kuala Banda Aceh, kini warga Gampong
Pande Banda Aceh diajak kembali menghadirkan nipah sebagai komoditas unggulan
di kampung tersebut.
Dan untuk mengenalkan kembali
aneka olahan buah nipah warga mengadakan festival minum nipah. Disini buah
nipah disajikan dalam aneka bentuk minuman jus dan es buah rasanya..???? Hmmmm…
yummy.
Program Creator Urbanisme Warga, Pratitou Arafat, mengatakan
pihaknya mencoba kembali membangun kreatifitas dari warga Gampong Pande untuk
bisa meningkatkan perekonomian keluarga.
“Kalau dulu pernah Berjaya,
kenapa kini tidak kita bangkitkan kembali, warga hanya diminta untuk menggali
kembali bagaimana mengolah buah nipah, karena disini potensinya besar, makanya
kami membantu warga untuk bisa membangkitkan kembali potensi ini,” katanya.
Selain itu, sebut Arafat,
Pemerintah Kota Banda Aceh juga merancang Gampong Pande sebagai satu dari
banyaknya destinasi wisata, khususnya wisata sejarah, di Banda Aceh, karena
disini banyak peninggalan nisan bersejarah bukti awal berdirinya Kota Banda
Aceh. “ kalau sudah menjadi destinasi wisata, pastinya harus didukung oleh
kuliner yang unik dan menarik serta rasanya juga enak, nah dengan tujuan itu
juga kami mencoba membangkitkan kembali warga untuk menghadirkan kembali
kuliner buah nipah ini,” jelas Arafat.
antusiasme warga dalam
kegiatan ini cukup bagus, setiap pengunjung bisa menikmati aneka juz dari buah
nipah. “Rasanya asik dan unik, segar untuk dinikmati,” kata Qanita seorang
pengunjung Nipah Festival.
Dari pohon nipah, warga tak
hanya bisa menikmati buahnya saja, namun warga juga bisa mendapat manfaat dari
daun nipah, misalnya untuk membuat atap bangunan, atau bahkan yang sering kali
digunakan adalah sebagai pembalut tembakau yang dijadikan rokok.
Amiruddin, Kepala Desa (Keuchik) Gampong Pande
berharap dengan bangkitnya lagi nipah di Gampong Pande bisa meningkatkan
perekonomian warga gampong.*****











