BANDA ACEH, KOMPAS.com -- Sepintas makanan-makanan ini memang tak memiliki nilai apa-apa. Sebagiannya malah dikenal sebagai makanan biasa, seperti ubi rebus, pisang rebus dan sagu kukus. Semuanya ditata apik dengan nampan-nampan anyaman daun pandan duri.
Tapi, semua ini mulai menebar aura ketika mata melirik ke arah samping, sebuah kertas karton tersandar disampingnya, disana tertulis; “makanan lam prang”. Artinya, makanan-makanan dalam zaman perang.
Seorang perempuan berkerudung hitam, mulai membuka tutup nampan lebih lebar dan menyilahkan para pengunjung untuk mencicipi makanan tersebut. Tak memakan waktu lama, semua pengunjung langsung antri dan mulai memilih makanan mana yang ingin dicicipi.
Mata pengunjung juga tertuju pada satu menu tertulis ‘Janeng’. Dikalangan masyarakat Aceh, Janeng memang dikenal sebagai penganan untuk bekal bepergian, termasuk bepergian untuk bergerilya, alias berperang melawan penjajah belanda saat dilakukan oleh masyarakat Aceh lebih dari seratus tahun lalu.
Janeng, adalah jenis umbi umbian, pohonnya kecil dan berduri kecil, merambat seperti pohon sirih. Daunnya berwarna hijau bila masih muda. Biasanya tumbuh liar dihutan-hutan di bawah pohon yang ukurannya lebih besar dan teduh. Janeng memiliki umbi buah besar yang menghujam ke bawah tanah.
Dalam bahasa latin termasuk dalam anggota marga Amorphopallus campanulatus. Sekarang di provinsi Aceh, varitas tanaman janeng semakin langka di hutan-hutan.
Pohon Janeng tumbuh di semak-semak belukar, berkembang baik di tempat-tempat yang lembab dan terlindungi dari sinar matahari. Tinggi pohon Janeng lebih dari 1 meter dengan ciri - ciri; batangnya lunak, berduri kecil, dan berwarna hijau. Akarnya berserabut putih kotor. Buahnya berwarna putih dan berat buahnya bisa mencapai 7-10 kg.
Buah Janeng memiliki nilai gizi yang tinggi, dengan kandungan utama adalah karbohidrat sekitar 70-85%. Kandungan lain, seperti serat, vitamin, kalsium, zat besi, dan protein.

“ Dulu, pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang, boh janeng atau buah janeng oleh para indatu kita dijadikan sebagai bahan pangan dan bekal yang dibawa ke hutan atau lokasi-lokasi berperang gerilya, dan di gampong ( desa) sering juga dijadikan makanan pengganti beras,” ujar Asmah, perempuan berkerudung hitam tadi yang memberi penjelasan pada pengunjung, Jumat (31/7/2015).
Janeng dan beberapa makanan perang ini memang dipamerkan dalam ajang peringatan 100 tahun Museum Aceh yang digelar di Banda Aceh. Tak pelak, makanan yang menjadi makanan langka dimata anak dan remaja bahwa sebagian orang dewasa yang berkunjung ke Musium Aceh ini, usianya juga sudah 100 tahun, bahkan lebih.
Alhasil, pengunjung yang ingin menikmati ransum perang prajurit Aceh ini menjadi membludak, tak sampai dua jam, makanan yang sengaja disajikan secara gratis ini, ludes tak bersisa.
“Kalau anak-anak muda sekarang mungkin memang sudah tak mengenal lagi makanan-makanan ini, karena sangat jarang disajikan, bahkan mungkin tidak setahun sekali dalam kenduri apapun di Aceh, selain bahan baku Janeng yangs ulit ditemukan, mengolah janeng ini pun harus punya keahlian tersendiri, agar saat dikonsumsi tidak menimbulkan racun,” jelas Asmah.
Selain Janeng, makan lain yang dipamerkan adalah Leughok, alias sagu yang sudah dikukus dan dimakan dengan parutan kelapa yang dikukus pula agar tak mudah basi.
Kemudian ada pula Empheng. Ini adalah sejenis makanan yang terbuat dari tepung beras ketan yang didalamnya ada kelapa parut dan gula. Makanan ini disajikan didalam daun pisang yang sebelumnya di kukus dan dibakar. “ Kenapa parutan kepalanya ada diberi gula, ini untuk menjaga energy dalam tubuh, agar gak lemas walau tak makan makanan lain dalam beberapa hari,” ujar Asmah.
Syarifah, seorang pengunjung mengaku senang bisa melihat banyak sajian makanan tradisional dan tua yang ditunjukkan di pameran 100th Musium Aceh. “Ini penting bagi generasi muda agar mereka tahu budaya Aceh seutuhnya, dan bagi saya sendiri pun ini menjadi sangat menarik, karean saya juga baru tahu yang namanya Janeng dan Empheng,” sebut Syarifah. *****
_____________________________________________________________________
This story has been published on:
www.kompas.com
Jumat, 31 Juli 2015 | 16:20 WIB
By : Daspriani Y Zamzami
Editor : Caroline Damanik
Mata pengunjung juga tertuju pada satu menu tertulis ‘Janeng’. Dikalangan masyarakat Aceh, Janeng memang dikenal sebagai penganan untuk bekal bepergian, termasuk bepergian untuk bergerilya, alias berperang melawan penjajah belanda saat dilakukan oleh masyarakat Aceh lebih dari seratus tahun lalu.
Janeng, adalah jenis umbi umbian, pohonnya kecil dan berduri kecil, merambat seperti pohon sirih. Daunnya berwarna hijau bila masih muda. Biasanya tumbuh liar dihutan-hutan di bawah pohon yang ukurannya lebih besar dan teduh. Janeng memiliki umbi buah besar yang menghujam ke bawah tanah.
Dalam bahasa latin termasuk dalam anggota marga Amorphopallus campanulatus. Sekarang di provinsi Aceh, varitas tanaman janeng semakin langka di hutan-hutan.
Pohon Janeng tumbuh di semak-semak belukar, berkembang baik di tempat-tempat yang lembab dan terlindungi dari sinar matahari. Tinggi pohon Janeng lebih dari 1 meter dengan ciri - ciri; batangnya lunak, berduri kecil, dan berwarna hijau. Akarnya berserabut putih kotor. Buahnya berwarna putih dan berat buahnya bisa mencapai 7-10 kg.
Buah Janeng memiliki nilai gizi yang tinggi, dengan kandungan utama adalah karbohidrat sekitar 70-85%. Kandungan lain, seperti serat, vitamin, kalsium, zat besi, dan protein.

“ Dulu, pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang, boh janeng atau buah janeng oleh para indatu kita dijadikan sebagai bahan pangan dan bekal yang dibawa ke hutan atau lokasi-lokasi berperang gerilya, dan di gampong ( desa) sering juga dijadikan makanan pengganti beras,” ujar Asmah, perempuan berkerudung hitam tadi yang memberi penjelasan pada pengunjung, Jumat (31/7/2015).
Janeng dan beberapa makanan perang ini memang dipamerkan dalam ajang peringatan 100 tahun Museum Aceh yang digelar di Banda Aceh. Tak pelak, makanan yang menjadi makanan langka dimata anak dan remaja bahwa sebagian orang dewasa yang berkunjung ke Musium Aceh ini, usianya juga sudah 100 tahun, bahkan lebih.
Alhasil, pengunjung yang ingin menikmati ransum perang prajurit Aceh ini menjadi membludak, tak sampai dua jam, makanan yang sengaja disajikan secara gratis ini, ludes tak bersisa.
“Kalau anak-anak muda sekarang mungkin memang sudah tak mengenal lagi makanan-makanan ini, karena sangat jarang disajikan, bahkan mungkin tidak setahun sekali dalam kenduri apapun di Aceh, selain bahan baku Janeng yangs ulit ditemukan, mengolah janeng ini pun harus punya keahlian tersendiri, agar saat dikonsumsi tidak menimbulkan racun,” jelas Asmah.
Selain Janeng, makan lain yang dipamerkan adalah Leughok, alias sagu yang sudah dikukus dan dimakan dengan parutan kelapa yang dikukus pula agar tak mudah basi.
Kemudian ada pula Empheng. Ini adalah sejenis makanan yang terbuat dari tepung beras ketan yang didalamnya ada kelapa parut dan gula. Makanan ini disajikan didalam daun pisang yang sebelumnya di kukus dan dibakar. “ Kenapa parutan kepalanya ada diberi gula, ini untuk menjaga energy dalam tubuh, agar gak lemas walau tak makan makanan lain dalam beberapa hari,” ujar Asmah.
Syarifah, seorang pengunjung mengaku senang bisa melihat banyak sajian makanan tradisional dan tua yang ditunjukkan di pameran 100th Musium Aceh. “Ini penting bagi generasi muda agar mereka tahu budaya Aceh seutuhnya, dan bagi saya sendiri pun ini menjadi sangat menarik, karean saya juga baru tahu yang namanya Janeng dan Empheng,” sebut Syarifah. *****
_____________________________________________________________________
This story has been published on:
www.kompas.com
Jumat, 31 Juli 2015 | 16:20 WIB
By : Daspriani Y Zamzami
Editor : Caroline Damanik

No comments:
Post a Comment