Terimakasih.. Tuhan…
(catatan untuk insiden Lhok Mee 19 Juli 2009)
Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, bagaimana perasaanku saat itu. Semua rasa bercampur baur jadi satu. Cemas, takut, panik, hancur, duka, marah dan entah apalagi. Tapi sekuat tenaga kuredam semuanya, kurangkaikan semua rasa itu menjadi sebuah ketenangan untuk menata hati dan tindakan, sehingga bisa berpikir tepat dan cepat.
Hidup memang tidak bisa ditebak. Sungguh aku menyesal, sering berburuk sangka terhadap sang Pencipta. Hari ini kurasakan betapa Tuhan selalu dekat dengan hambaNya, bahkan lebih dekat dari urat nadi sekalipun. Kurasakan pertolonganNya, kepedulianNya terhadap aku dan kami.
Insiden itu membuat aku sadar, bahwa selalu ada keberuntungan dan rahmat yang mengalir di setiap langkahku, yang selalu saja tidak aku sadari.
Selama ini sering ku rutuki, setiap semua keinginan ku yang tak pernah pernah menjadi kenyataan. Tapi tak pernah kucermati pula, bahwa sebuah keberuntungan kecil yang tak pernah kusadari, telah menyelamatkan hidup ku hingga hari ini.
Tiba-tiba aku teringat celoteh seorang teman, tentang seorang pemuda yang selalu mengeluhkan kenapa buah beringin tak seenak dan sebesar semangka, sehingga dengan mudah ia mengumpulkannya dan kemudian memakan atau menjualnya ke pasar. Hingga pada suatu hari, sang pemuda beristirahat di bawah sebuah pohon beringin dengan tiupan angin sepoi-sepoi yang membuat si pemuda merasa nyaman dan hampir saja tertidur. Namun sejurus kemudian ia dikejutkan oleh sebutir buah beringin yang jatuh tepat menimpa hidungnya.
Seketika itu pula ia terkejut dan terpekur, lalu kemudian menyesali buruk sangkanya terhadap Tuhan yang sudah menciptakan buah beringin yang kecil.
Sekali lagi, Tuhan…
Maafkan dan ampuni aku yang lemah ini, yang selalu saja melupakan arti bersyukur dan berterimakasih.. Terimakasih, untuk semua rahmat dan nikmatMu, terimakasih untuk sebuah peringatan yang membuat aku tersadar. Terimakasih untuk kecintaanMu terhadap ku sehingga tak Kau ijinkan aku lengah dan keluar dari rel-Mu. Terimakasih untuk kesempatan yang Kau berikan untukku dan untuk Kami, sehingga bisa menikmati hangat sinar mentariMu, sejuknya tetes embunMu, serta leluasanya dada ini menghirup udaraMu.
Sekali lagi, Tuhan…
Terimakasih..