Monday, December 31, 2007


Polisi sedang berusaha mengangkat bangkai kapal patroli milik Satpolair Polda NAD, yang meledak dan tenggelam di perairan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, pada 18 Oktober 2007 lalu. Direktur Polair Polda NAD, Kombes (pol) Sudarto menderita luka bakar dalam insiden ini.
Sementara itu, Pesawat jenis Nomad P833 Milik TNI AL, jatuh diperairan Ujung Kareung Sabang pada tanggal 30 Desember 2007, 2 tewas, 2 selamat dan 3 masih hilang. Pesawat milik TNI AL yang bertugas di Sabang, Aceh ini akan melakukan penerbangan menuju Medan Sumatera Utara. Seorang Perwira TNI AL Sabang, Danlanudal bernama Mayor (laut) Suwito, masih belum diketahui keberadaannya.

Air Mata 3th Mengenang Musibah Tsunami


Seorang Ibu dan anaknya, warga Calang, Aceh Jaya, tak kuasa menahan laju air mata saat doa dikumandangkan mengenang kehancuran dan kehilangan yang diraskannya saat musibah itu datang 3 tahun lalu. Air Mata itu masih ada, Kawan. Meski Tiga tahun sudah berlalu, duka ini tak kan pernah pupus dari hati masyarakat Aceh. Musibah gempa dan tsunami telah merenggut segalanya yang dimiliki warga Aceh. Sementara janji pemerintah dalam hal ini Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR), masih ada yang sekedar janji belaka. Kendati demikian, Seiring berjalannya waktu, senyum mereka pun mulai menebar, asa itu pun mulai tumbuh. Semangat bangkit akan terus ada dalam jiwa mereka. Rakyat Aceh!

Salawati, Pengrajin Abon Ikan


Dari Hancur hingga Bangkit lagi, Tak Tersentuh Bantuan

Suhu diruangan yang berukuran 3x6 meter itu terasa lumayan panas, namun Salawati (40), dengan lincah memainkan mesin press untuk kemasan plastik. Sesekali Salawati menghapus keringat yang menganak sungai di dahinya. Ya, salawati memang tengah mengemas abon ikan hasil produksinya. Padahal saat ini pabrik abon salawati sedang libur, tapi Salawati tetap mengemas beberapa bungkus abon karena ada permintaan. Shelter (rumah bantuan Australian Red Cross berdinding kayu berangka besi) sementara yang dulu digunakan sebagai rumah tempat tinggal, kini berubah menjadi pabrik sederhana abon ikan miliknya.

Dulu, sebelum musibah tsunami melanda Aceh, usaha Abon ikan Tuna milik Salawati memang sudah mulai menanjak. Hasil eksperimen yang dilakukannya selama enam bulan itu, ternyata berbuntut manis. Meski dengan modal pas-pasan, salawati dan sang suami Nurdin, bertekad membuka usaha abon ikan dan eungkot keumamah (ikan tongkol dan tuna yang dikeringkan hingga mengeras). “Kami bukan dari keluarga mampu, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak, kami tidak bisa hanya menggantungkan kepada penghasilan suami yang menjadi pns golongan rendahan di kantor BKKBN,” ungkapnya.

Suatu hari, sebut Salawati, dirinya dan warga kelurahan Merduati pernah mendapat penyuluhan dan pelatihan tentang usaha pengawetan ikan, salah satunya cara membuat abon dan keumamah alias ikan kayu. “Dari hasil pelatihan itu, saya berpikir untuk memulai sebuah usaha baru untuk rumah tangga kami, dan dengan modal sendiri kami terus melakukan eksperimen,” katanya.

Salawati sempat nyaris mundur, akibat eksperimen yang gagal dan menghabiskan modal. “Untung suami saya terus mendukung dan memberi semangat,” sebut Salawati.

Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Begitulah kata pepatah. Musibah gempa dan gelombang tsunami, yang melanda Aceh 2004 lalu, tidak hanya meluluhlantakkan usaha abon milik Salawati dan Nurdin. Dua buah hati mereka, Dian Rahmadani dan Ira Maulidarmi pun hilang tak berbekas jejak, menjadi korban keganasan gelombang tsunami.

Meski tidak menyaksikan langsung keganasan gelombang yang menggulung rumah, pabrik berserta dua anaknya, Salawati masih tak bisa menghilangkan rekaman kehilangan dan kerusakan yang terjadi saat itu. Shock dan rasa kehilangan yang sangat berat, sempat membuat Salawati nyaris tak mampu berpikir jernih lagi. “Kami sudah kehilangan segala-galanya, tapi semua itu kami serahkan kepada Yang Maha Kuasa, bukan kami saja yang kehilangan tapi semua orang di daerah ini,” kenangnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Hidup dan tinggal di tenda darurat pun mereka jalani dengan ikhlas, hingga rumah yang dijanjikan dibangun diatas tapak rumah mereka yang sebelumnya, selesai dibangun oleh UN Habitat dengan donor dari Arab Saudi.

Kini, bersama putra bungsunya, Saputra (9) dan sang suami Nurdin (45), mereka sudah kembali menghuni rumah, yang dulu hanya tinggal lantainya saja. “Ini rumah bantuan dari Arab Saudi, alhamdulillah kami sudah bisa tinggal disini lagi, dan kami pun akan kembali memulai usaha kami yang sudah hancur,” ujar Sala.

Mengaku tak pernah mendapat bantuan ekonomi dari lembaga manapun, Sala bertekad memulai kembali usahanya. “Seperti dulu, usaha ini pun kami mulai dari nol dan dengan modal sendiri,”katanya.

Meski puluhan bahkan ratusan lembaga swadya masyarakat bercokol di Aceh pasca tsunami, namun sebut Sala, belum ada satu lembaga pun yang melirik usaha milik Sala dan kemudian memberikan bantuan modal. “Kalau didatangi dan di data, sudah sangat sering, dan selalu dijanjikan akan diberikan bantuan modal usaha, tapi semua itu hanya janji, dan saya pun tidak mau larut berlama-lama,” ujarnya tegar.

Bahkan, yang menyedihkan, tambah Sala, pernah ada lembag asing, berjanji akan membantu memberikan mesin produksi, “tapi ketika mesinnya sudah ada, kami diharuskan memberi uang muka jutaan rupiah, manalah kami punya uang, akhirnya kami menolak mesin tersebut,” kisah sala.

Kini, meski baru bisa berproduksi 20 kilogram abon dengan 6 pekerja dan mesin yang sederhana pemberian LIPI, Sala, mengaku sudah sangat bersyukur. “Modalnya dari kantong sendiri, mulai dari tabungan kerja cash for work hingga simpanan dari hasil menarik becak oleh sang suami,” sebutnya sambil tersenyum.

Kalau dulu, tambah Nurdin sang suami, mereka bisa memproduksi 120 kilogram abon ikan. Saat itu mereka menggunakan mesin bantuan dari IPB Bogor. “Dan pasarannya pun sudah luas, bahkan sudah mencapai pasar Jakarta dan Malaysia,” kata Nurdin.

Sekarang, pasarnya baru beberapa swalayan dan mini market di Kota Banda Aceh, kantin kantor suami dan pesanan langsung dari orang-orang yang membutuhkan, tambah Sala.

Salawati boleh saja membanggakan abon ikan dan keumamah miliknya. Khusus abon ikan, diproduksi tanpa menggunakan bahwan pengawet tapi tahan hingga enam bulan. Sehingga abon ikan tersebut aman dikonsumsi, termasuk oleh anak-anak.

Tiga tahun pasca musibah gempa dan stunami, kini Salawati memang sudah bisa kembali tersenyum. Bangkit dengan sisa-sisa ketegaran yang dimilikinya, Sala hanya bisa berharap semua yang dilakukannya kini adalah untuk ibadah. “Kami sadar, semua ini tidak ada artinya jika tanpa niat beribadah, kalau usaha kami sukses, tentunya ini akan membuat orang disekeliling kami pun bisa menjadi tenaga kerja,” harapnya.

Diruangan dengan ukuran 3x6 meter ini, Sala pun terlihat sibuk merapikan bungkus plastik bertuliskan Abon Ikan Tuna SAPUTRA. Bungkus plastik ini terlihat tersusun rapi, menunggu pekerja datang untuk berproduksi lagi, pasalnya sudah beberapa hari ini produksi abon milik Sala libur, karena perayaan Idul Adha. ***** (Dipublikasikan di Harian MedanBisnis, Sabtu 29 Desember 2007)

Saturday, December 22, 2007

15 Juta Untuk Ronga-ronga

Marhamah (40) hanya tertunduk, sebatang biscuit wafer Tango rasa strawberry berada di genggaman tangannya. Seorang mahasiswa membagikan biscuit wafer ini kepada para warga Bener Meriah yang terduduk kelelahan di tangga gedung DPR Aceh, Jumat (14/12) lalu.

Sejenak Marhamah memalingkan wajahnya, sambil tersenyum yang dipaksakan. “Saya jadi ingat anak-anak saya dikampung, mereka juga suka dibelikan wafer seperti ini,” ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Marhamah bukan tak punya alasan meninggalkan 4 orang anaknya di kampung sejak Rabu (12/12) lalu. Dia dan ratusan warga Ronga-ronga, Kabupaten Bener Meriah lainnya, kini berada di halaman gedung DPR Aceh. mereka adalah anggota keluarga yang tersisa akibat konflik yang pernah mendera aceh selama berpuluh tahun lamanya.

Ratusan orang ini, tiba di Banda Aceh, menuntut hak mereka akan perbaikan nasib korban konflik seperti yang sudah dijanjikan oleh pemerintah Indonesia dan pemerintah daerah Aceh. “Kami datang ke Banda Aceh ini Cuma mau meminta sedikit saja hak kami, sisa uang bagunan rumah bantuan yang memang sudah menjadi hak kami,” sebut Marhamah dengan logat gayo yang kental.

Kabar gembira diterima Marhamah dan ratusan korban konflik lainnya di kawasan Ronga-ronga, Bener Meriah, setahun lalu, tepatnya Desember 2006 yang lalu. Bahwasanya mereka sudah mendapat penggantian rumah, atas aksi pembakaran yang terjadi dan menimpa mereka sekitar tahun 2002 lalu. “Kami senang lah dapat bantuan rumah, dua tahun lebih kami hidup di pengungsian dan berpindah-pindah, tapi kenyataannya berbeda, rumah yang dibangun tidak sesuai dengan pembicaraan dan gambarnya,” kisah Marhamah.

Pembangunan sekitar seribu unit rumah bantuan dari Badan Reintegrasi Aceh (BRA) tahun 2005/2006 dialokasikan per unit unit senilai Rp35 juta, namun biaya yang dikeluarkan hanya sekitar Rp15-18 juta/unit rumah, sehingga banyak yang rusak dan tidak layak huni.

Rumah kami, sebut Marhamah, juga menjadi rumah tikus, dibawah lantainya ada sarang tikus, karena kondisi lantai yang rapuh. “Nyaris tidak ada semen lantainya, kebanyakan pasir, kalau kita hentakkan kaki dilantai, pasti lantainya langsung pecah, makanya tikus bisa bersarang disana, sampai-sampai kami tidak bisa menyimpan makanan,” katanya sambil mengusap tetes air dari matanya.

Kondisi serupa, pun dialami Nurhayati (52), janda beranak 9. Menurut Nurhayati, pintu rumahnya justru tidak bisa ditutup rapat dan jendela kacanya pun sudah pecah. “Banyak semen berjatuhan dari atas, rontok sendiri dan tidak ada wc nya, padahal waktu ditunjukkan gambar kepada kami, rumahnya sangat bagus, sekarang catnya saja sudah luntur,” jelas Nurhayati sembari menikmati Wafer Tango pemberian mahasiswa usai aksi demo berlangsung.

Pansus DPR Aceh, menurut wakil Ketua Komisi A DPR Aceh, Bahrum Rasyid mensinyalir telah terjadi penyimpangan terhadap dana pembangunan rumah. “Pansus memang menghitung dana pembangunan sekitar 15-16 juta per rumah, artinya ada setengah dana yang hilang,” ujar Bahrum.

“Kalau memang masih ada sisa dana, mohon dan aitu dikembalikan kepada kami, biar kami bisa perbaiki rumah kami lagi,” ujar Marhamah yang semakin terlihat lelah dalam aksi demo tersebut.

Badan Reintegrasi Aceh (BRA) mengklaim, sudah menyerahkan sepenuhnya dana pembangunan rumah langsung kepada pemerintahan setempat, karena pada tahun 2006 lalu, belum terbentuk BRA daerah.

Ketua Harian BRA, Muhammad Nur Djuli di Banda Aceh, mengatakan, BRA tidak akan menghalangi siapa pun juga yang mengungkapkan dugaan penyimpangan bantuan yang diprogramkan badan tersebut.

"BRA mendukung aksi masyarakat korban konflik yang merasa dirugikan untuk mengadukan permasalahan yang dihadapinya melalui mekanisme hukum yang berlaku," katanya.

Hal itu diungkapkan menyikapi aksi unjukrasa masyarakat korban konflik asal Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah sepekan terakhir di DPRA, Banda Aceh.

BRA juga berkomitmen menegakkan hukum atas setiap dugaan penyimpangan bantuan melalui penandatanganan kesepakatan bersama antara BRA, Komisi A DPRA, Pemkab Bener Meriah dan Aceh Tengah serta masyarakat korban konflik pada 30 Juli 2007 di Bener Meriah.

Namun, BRA tidak berhak menindak pelaku penyimpangan karena bukan penegak hukum, tambahnya. Perlu dipahami dana BRA bersumber dari APBN sehingga setiap penggunaannya harus dipertanggungjawabkan secara hukum.

"Karena itu aparat penegak hukum diminta maupun tidak berhak melakukan penyidikan dan penyelidikan atas dugaan penyimpangan yang terjadi di BRA," katanya.

Matahari terlihat semakin menggarang, api demo nyaris terlihat menyurut. Tetes keringat penduduk Ronga-ronga ini mulai mengalahkan desing suara yang menyalak meneriakkan hak mereka yang tertindas. “Kami tidak akan kembali ke kampung, Pak dewan, Kami tidak akan kembali ke kampung, jika masalah ini tidak selesai,” teriak pelaku aksi.

“Besok balik lagi... Besok balik lagi...” *****

Monday, December 17, 2007

Lagunya Iwan Fals

RINDUKU

By : Iwan Fals

Tolong rasakan ungkapan hati

Rasa saling memberi

Agar semakin erat hati kita

Jalani kisah yang ada

Ku tak pernah merasa jemu

Jika kau selalu disampingku

Begitu nyanyian rinduku

Terserah apa katamu

Rambutmu, matamu, bibirmu kurindu

Senyummu, candamu

Tawamu kurindu

Beri aku waktu sedetik lagi

Menatap wajah mu

Esok, hari ini atau nanti

Mungkin tak kembali

Ku tak pernah merasa jemu

Jika kau selalu disampingku

Begitu nyanyian rinduku

Terserah apa katamu

“Bahagianya Menjadi Pengantin Tsunami“

Teks : Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji'un
Setiap yang bernyawa pasti akan berpulang
kepadaNya. Warga sedang membaca Yasin
di Makam Massal Korban gempa dan tsunami Aceh

Sekarang udah tiga tahun, musibah yang identik dengan
kiamat kecil itu berlalu.
Dan merekapun, mungkin sudah mendapatkan kembali
kehidupannya yang baru.
Mungkin ada yang sudah sedikit lebih bahagia,
mungkin ada yang sedang meninabobokan
si kecil dalam ayunan, mungkin ada yang sedang
membersihkan kaca jendela rumah mereka
yang baru, mungkin ada yang masih tinggal di
gubuk sementara, dan mungkin pula ada
yang sudah meninggal. Ada lebih 1001 kemungkinan
yang bisa terjadi dalam rentang waktu ini
dan semua itu adalah kehendakNya.
Berikut cuplikan awal kisah hidup mereka,
setelah pandangan pertama bertemu:


“Bahagianya Menjadi Pengantin Tsunami“

Reported By : Daspriani Y Zamzami
Tanggal : 05 Juni 2005
-----------------------------------------------------------

KEHILANGAN pasangan hidup, apalagi dalam kondisi yang
tidak diduga-duga, memang membuat seseorang menjadi
hampa dan nelangsa.

Hal ini pula yang dirasakan oleh sejumlah pengungsi
korban tsunami, yang selama ini menjadi penghuni tenda
darurat dikomplek TVRI, Mata Ie, Aceh Besar.

Bagi sejumlah orang yang kehilangan pasangan,
kesendirian yang dijalani selama ini dirasa menyiksa,
ditambah lagi dengan beban hidup yang kian berat.

Keinginan berbagi duka dan suka, serta kedekatan yang
terjalin selama inilah, yang kemudian melandasi jalan
hidup 23 pasangan, yang kemudian memutuskan untuk
bersatu dalam ikatan pernikahan.

Cinta memang tidak pernah mengenal lokasi bahkan
kondisi, cinta bisa tumbuh dimana saja. Syekh Syam
alias Abu (60), misalnya. Laki-laki yang sudah berusia
lanjut ini, tidak menutup-nutupi, kalau dirinya memang
masih membutuhkan pasangan hidup dan sebuah keluarga
yang utuh, sehingga bisa lebih ringan menjalani semua
beban hidupnya.

Pasca musibah tsunami, yang telah merenggut jiwa
isteri dan tiga anaknya,kini Abu,tinggal sebatangkara,
usia yang sudah menjelang senja, membuat Abu lebih
mementingkan pasangan hidup untuk mendampingi masa
tuanya.

“Saya bertemu dengan pasangan saya, saat dalam
pengajian di mesjid di kamp pengungsian, dia menjadi
salah satu anggota pengajiannya, dan mungkin kami
saling suka pada pandangan pertama, dari pada terjadi
hal-hal yang diluar batas, lebih baik memutuskan untuk
menikah, kebetulan tenda kita juga berdekatan,” ujar
Abu sambil tersenyum sumringah.

Tidak ada kemewahan dalam dandanan Abu dan Maryati
dalam melangsungkan resepsi pernikahan merka, bersana
22 pasangan lainnya. Bahkan Abu terkesan yang paling
sederhana, karena ia hanya menggunakan sandal jepit,
bukan sepatu pantovel mengkilap, sebagaimana halnya
seorang penganten baru.

“saya tidak tahu dari mana pakaian ini, pokoknya
panitia disini sudah menyediakan pakaian untuk kami,
tapi sepatu tidak, jadi ya saya pakai saja selop, yang
penting ikut acara,’ katanya lagi sambil tertawa.

Abu, yang melamar Maryati hanya dengan satu mayam emas
ini, mengaku tidak terlalu memikirkan anak. “Bagi
saya kalau diizinkan punya anak lagi, ya
alhamdulillah, mau laki-laki atau perempuan, sama
saja, kan sekarang juga sudah ada satu anak perempuan
dari isteri baru saya” ujarnya sambil mengusap kepala
bocah perempuan usia 4 tahun, anak dari Maryati.

Abu mengaku melamar Maryati di tenda 41 yang
didiaminya danmelangsungkan pernikahan di tempat yang
sama. “Kami menikah di tenda, Cuma ada saki dan tuan
kadi, dan tetangga disebelah tenda,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan oleh T Cutnyak Zahyuni
(35). Pria yang sebelumnya berdomisili di Punge ini
,mengaku banyaknya perhatian yang diberikan oleh
Zahrona, sang isteri yang baru, membuatnya memutuskan
untuk menikahi Zahrona.

“Saya sudah kehilangan isteri dan anak, bahkan tubuh
saya waktu diselamatkan oleh orang lain penuh luka,
dan setibanya saya di camp pengungsian ini, saya
dibantu dan dirawat oleh Zahrona, akhirnya kedekatan
itu membuat kami saling jatuh cinta dan memutuskan
untuk menikah,” ujar Zahyuni.

Tak jauh beda juga dengan pasangan Junaidi (23) asal
Lampulo dan Cut Hasmika (23) asal Lamno. Keduanya juga
mengaku bertemu di cam pengugsian dan tinggal
bersebelahan tenda.
“Kami pun melangsungkan pernikahan di tenda AC-9,
tenda temnpat isteri saya tinggal bersama orang yang
merawatnya, seluruh keluarganya sudah tidak ada lagi,
saya melamarnya dengan 5 mayam emas,” ucap Junaidi,
sambil tersenyum malu.

Dari 23 pasangan yang berbahagia ini, menurut
Koordinator Kegiatan pengungsi TVRI, Awi Muhammad
Maulan, 10 diantaranya adalah pasangan janda dan duda,
yang selama ini tinggal bersebelahan di camp
pengungsian.

“Kegiatan ini hanya bermaksud untuk meringankan beban
para pengungsi yang memang sudah menderita, jangan
lagi kita biarkan mereka menderita pula dalam
batinnya,karena kehilangan pasangan hidup,” ujar Awi.

Dengan segala keterbatasan dana, disebutkan Awi,
panitia tetap berusha menyelenggarakan kegiatan yang
sebelumnya sempat tertunda ini.

“Kami sudah ajukan 20 proposal, tapi hanya dua
proposal yang kami terima bantuan, ada yang nagsih 200
ribu yakni dari Pertamina, dan senilai 50 juta lebih
dari Islamic Relief, tapi khusus buat khitanan missal,
ana-anak korban tsunami di komplek sini,” jelasnya.

Meski tidak ada pelaminan yang megah dan hidangan yang
lezat, tapi kegembiraan tampak jelas diraut
wajah-wajah lelah korban tsunami yang sebelumnya
menjalani hidup tanpa pasangan.

Menjadi raja dan ratu sehari, meski beramai-ramai
tidak jadi masalah, yang penting, mereka mendapatkan
kembali semangat hidup yang sempat hilang. Walau masa
depan masih belum jelas, yang penting kini bisa
melangkah berdua dan saling berpegangan tangan.
(zam/Tulisan ini dipublikasikan di Hr Rakyat Aceh)