Dari Hancur hingga Bangkit lagi, Tak Tersentuh Bantuan Suhu diruangan yang berukuran 3x6 meter itu terasa lumayan panas, namun Salawati (40), dengan lincah memainkan mesin press untuk kemasan plastik. Sesekali Salawati menghapus keringat yang menganak sungai di dahinya. Ya, salawati memang tengah mengemas abon ikan hasil produksinya. Padahal saat ini pabrik abon salawati sedang libur, tapi Salawati tetap mengemas beberapa bungkus abon karena ada permintaan. Shelter (rumah bantuan Australian Red Cross berdinding kayu berangka besi) sementara yang dulu digunakan sebagai rumah tempat tinggal, kini berubah menjadi pabrik sederhana abon ikan miliknya.
Dulu, sebelum musibah tsunami melanda Aceh, usaha Abon ikan Tuna milik Salawati memang sudah mulai menanjak. Hasil eksperimen yang dilakukannya selama enam bulan itu, ternyata berbuntut manis. Meski dengan modal pas-pasan, salawati dan sang suami Nurdin, bertekad membuka usaha abon ikan dan eungkot keumamah (ikan tongkol dan tuna yang dikeringkan hingga mengeras). “Kami bukan dari keluarga mampu, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak, kami tidak bisa hanya menggantungkan kepada penghasilan suami yang menjadi pns golongan rendahan di kantor BKKBN,” ungkapnya.
Suatu hari, sebut Salawati, dirinya dan warga kelurahan Merduati pernah mendapat penyuluhan dan pelatihan tentang usaha pengawetan ikan, salah satunya cara membuat abon dan keumamah alias ikan kayu. “Dari hasil pelatihan itu, saya berpikir untuk memulai sebuah usaha baru untuk rumah tangga kami, dan dengan modal sendiri kami terus melakukan eksperimen,” katanya.
Salawati sempat nyaris mundur, akibat eksperimen yang gagal dan menghabiskan modal. “Untung suami saya terus mendukung dan memberi semangat,” sebut Salawati.
Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Begitulah kata pepatah. Musibah gempa dan gelombang tsunami, yang melanda Aceh 2004 lalu, tidak hanya meluluhlantakkan usaha abon milik Salawati dan Nurdin. Dua buah hati mereka, Dian Rahmadani dan Ira Maulidarmi pun hilang tak berbekas jejak, menjadi korban keganasan gelombang tsunami.
Meski tidak menyaksikan langsung keganasan gelombang yang menggulung rumah, pabrik berserta dua anaknya, Salawati masih tak bisa menghilangkan rekaman kehilangan dan kerusakan yang terjadi saat itu. Shock dan rasa kehilangan yang sangat berat, sempat membuat Salawati nyaris tak mampu berpikir jernih lagi. “Kami sudah kehilangan segala-galanya, tapi semua itu kami serahkan kepada Yang Maha Kuasa, bukan kami saja yang kehilangan tapi semua orang di daerah ini,” kenangnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Hidup dan tinggal di tenda darurat pun mereka jalani dengan ikhlas, hingga rumah yang dijanjikan dibangun diatas tapak rumah mereka yang sebelumnya, selesai dibangun oleh UN Habitat dengan donor dari Arab Saudi.
Kini, bersama putra bungsunya, Saputra (9) dan sang suami Nurdin (45), mereka sudah kembali menghuni rumah, yang dulu hanya tinggal lantainya saja. “Ini rumah bantuan dari Arab Saudi, alhamdulillah kami sudah bisa tinggal disini lagi, dan kami pun akan kembali memulai usaha kami yang sudah hancur,” ujar Sala.
Mengaku tak pernah mendapat bantuan ekonomi dari lembaga manapun, Sala bertekad memulai kembali usahanya. “Seperti dulu, usaha ini pun kami mulai dari nol dan dengan modal sendiri,”katanya.
Meski puluhan bahkan ratusan lembaga swadya masyarakat bercokol di Aceh pasca tsunami, namun sebut Sala, belum ada satu lembaga pun yang melirik usaha milik Sala dan kemudian memberikan bantuan modal. “Kalau didatangi dan di data, sudah sangat sering, dan selalu dijanjikan akan diberikan bantuan modal usaha, tapi semua itu hanya janji, dan saya pun tidak mau larut berlama-lama,” ujarnya tegar.
Bahkan, yang menyedihkan, tambah Sala, pernah ada lembag asing, berjanji akan membantu memberikan mesin produksi, “tapi ketika mesinnya sudah ada, kami diharuskan memberi uang muka jutaan rupiah, manalah kami punya uang, akhirnya kami menolak mesin tersebut,” kisah sala.
Kini, meski baru bisa berproduksi 20 kilogram abon dengan 6 pekerja dan mesin yang sederhana pemberian LIPI, Sala, mengaku sudah sangat bersyukur. “Modalnya dari kantong sendiri, mulai dari tabungan kerja cash for work hingga simpanan dari hasil menarik becak oleh sang suami,” sebutnya sambil tersenyum.
Kalau dulu, tambah Nurdin sang suami, mereka bisa memproduksi 120 kilogram abon ikan. Saat itu mereka menggunakan mesin bantuan dari IPB Bogor. “Dan pasarannya pun sudah luas, bahkan sudah mencapai pasar Jakarta dan Malaysia,” kata Nurdin.
Sekarang, pasarnya baru beberapa swalayan dan mini market di Kota Banda Aceh, kantin kantor suami dan pesanan langsung dari orang-orang yang membutuhkan, tambah Sala.
Salawati boleh saja membanggakan abon ikan dan keumamah miliknya. Khusus abon ikan, diproduksi tanpa menggunakan bahwan pengawet tapi tahan hingga enam bulan. Sehingga abon ikan tersebut aman dikonsumsi, termasuk oleh anak-anak.
Tiga tahun pasca musibah gempa dan stunami, kini Salawati memang sudah bisa kembali tersenyum. Bangkit dengan sisa-sisa ketegaran yang dimilikinya, Sala hanya bisa berharap semua yang dilakukannya kini adalah untuk ibadah. “Kami sadar, semua ini tidak ada artinya jika tanpa niat beribadah, kalau usaha kami sukses, tentunya ini akan membuat orang disekeliling kami pun bisa menjadi tenaga kerja,” harapnya.
Diruangan dengan ukuran 3x6 meter ini, Sala pun terlihat sibuk merapikan bungkus plastik bertuliskan Abon Ikan Tuna SAPUTRA. Bungkus plastik ini terlihat tersusun rapi, menunggu pekerja datang untuk berproduksi lagi, pasalnya sudah beberapa hari ini produksi abon milik Sala libur, karena perayaan Idul Adha. ***** (Dipublikasikan di Harian MedanBisnis, Sabtu 29 Desember 2007)