Teks : Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji'unSetiap yang bernyawa pasti akan berpulang
kepadaNya. Warga sedang membaca Yasin
di Makam Massal Korban gempa dan tsunami Aceh
Sekarang udah tiga tahun, musibah yang identik dengan
kiamat kecil itu berlalu.
Dan merekapun, mungkin sudah mendapatkan kembali
kehidupannya yang baru.
Mungkin ada yang sudah sedikit lebih bahagia,
mungkin ada yang sedang meninabobokan
si kecil dalam ayunan, mungkin ada yang sedang
membersihkan kaca jendela rumah mereka
yang baru, mungkin ada yang masih tinggal di
gubuk sementara, dan mungkin pula ada
yang sudah meninggal. Ada lebih 1001 kemungkinan
yang bisa terjadi dalam rentang waktu ini
dan semua itu adalah kehendakNya.
Berikut cuplikan awal kisah hidup mereka,
setelah pandangan pertama bertemu:
“Bahagianya Menjadi Pengantin Tsunami“
Reported By : Daspriani Y Zamzami
Tanggal : 05 Juni 2005
-----------------------------------------------------------
KEHILANGAN pasangan hidup, apalagi dalam kondisi yang
tidak diduga-duga, memang membuat seseorang menjadi
hampa dan nelangsa.
Hal ini pula yang dirasakan oleh sejumlah pengungsi
korban tsunami, yang selama ini menjadi penghuni tenda
darurat dikomplek TVRI, Mata Ie, Aceh Besar.
Bagi sejumlah orang yang kehilangan pasangan,
kesendirian yang dijalani selama ini dirasa menyiksa,
ditambah lagi dengan beban hidup yang kian berat.
Keinginan berbagi duka dan suka, serta kedekatan yang
terjalin selama inilah, yang kemudian melandasi jalan
hidup 23 pasangan, yang kemudian memutuskan untuk
bersatu dalam ikatan pernikahan.
Cinta memang tidak pernah mengenal lokasi bahkan
kondisi, cinta bisa tumbuh dimana saja. Syekh Syam
alias Abu (60), misalnya. Laki-laki yang sudah berusia
lanjut ini, tidak menutup-nutupi, kalau dirinya memang
masih membutuhkan pasangan hidup dan sebuah keluarga
yang utuh, sehingga bisa lebih ringan menjalani semua
beban hidupnya.
Pasca musibah tsunami, yang telah merenggut jiwa
isteri dan tiga anaknya,kini Abu,tinggal sebatangkara,
usia yang sudah menjelang senja, membuat Abu lebih
mementingkan pasangan hidup untuk mendampingi masa
tuanya.
“Saya bertemu dengan pasangan saya, saat dalam
pengajian di mesjid di kamp pengungsian, dia menjadi
salah satu anggota pengajiannya, dan mungkin kami
saling suka pada pandangan pertama, dari pada terjadi
hal-hal yang diluar batas, lebih baik memutuskan untuk
menikah, kebetulan tenda kita juga berdekatan,” ujar
Abu sambil tersenyum sumringah.
Tidak ada kemewahan dalam dandanan Abu dan Maryati
dalam melangsungkan resepsi pernikahan merka, bersana
22 pasangan lainnya. Bahkan Abu terkesan yang paling
sederhana, karena ia hanya menggunakan sandal jepit,
bukan sepatu pantovel mengkilap, sebagaimana halnya
seorang penganten baru.
“saya tidak tahu dari mana pakaian ini, pokoknya
panitia disini sudah menyediakan pakaian untuk kami,
tapi sepatu tidak, jadi ya saya pakai saja selop, yang
penting ikut acara,’ katanya lagi sambil tertawa.
Abu, yang melamar Maryati hanya dengan satu mayam emas
ini, mengaku tidak terlalu memikirkan anak. “Bagi
saya kalau diizinkan punya anak lagi, ya
alhamdulillah, mau laki-laki atau perempuan, sama
saja, kan sekarang juga sudah ada satu anak perempuan
dari isteri baru saya” ujarnya sambil mengusap kepala
bocah perempuan usia 4 tahun, anak dari Maryati.
Abu mengaku melamar Maryati di tenda 41 yang
didiaminya danmelangsungkan pernikahan di tempat yang
sama. “Kami menikah di tenda, Cuma ada saki dan tuan
kadi, dan tetangga disebelah tenda,” katanya.
Hal senada juga diungkapkan oleh T Cutnyak Zahyuni
(35). Pria yang sebelumnya berdomisili di Punge ini
,mengaku banyaknya perhatian yang diberikan oleh
Zahrona, sang isteri yang baru, membuatnya memutuskan
untuk menikahi Zahrona.
“Saya sudah kehilangan isteri dan anak, bahkan tubuh
saya waktu diselamatkan oleh orang lain penuh luka,
dan setibanya saya di camp pengungsian ini, saya
dibantu dan dirawat oleh Zahrona, akhirnya kedekatan
itu membuat kami saling jatuh cinta dan memutuskan
untuk menikah,” ujar Zahyuni.
Tak jauh beda juga dengan pasangan Junaidi (23) asal
Lampulo dan Cut Hasmika (23) asal Lamno. Keduanya juga
mengaku bertemu di cam pengugsian dan tinggal
bersebelahan tenda.
“Kami pun melangsungkan pernikahan di tenda AC-9,
tenda temnpat isteri saya tinggal bersama orang yang
merawatnya, seluruh keluarganya sudah tidak ada lagi,
saya melamarnya dengan 5 mayam emas,” ucap Junaidi,
sambil tersenyum malu.
Dari 23 pasangan yang berbahagia ini, menurut
Koordinator Kegiatan pengungsi TVRI, Awi Muhammad
Maulan, 10 diantaranya adalah pasangan janda dan duda,
yang selama ini tinggal bersebelahan di camp
pengungsian.
“Kegiatan ini hanya bermaksud untuk meringankan beban
para pengungsi yang memang sudah menderita, jangan
lagi kita biarkan mereka menderita pula dalam
batinnya,karena kehilangan pasangan hidup,” ujar Awi.
Dengan segala keterbatasan dana, disebutkan Awi,
panitia tetap berusha menyelenggarakan kegiatan yang
sebelumnya sempat tertunda ini.
“Kami sudah ajukan 20 proposal, tapi hanya dua
proposal yang kami terima bantuan, ada yang nagsih 200
ribu yakni dari Pertamina, dan senilai 50 juta lebih
dari Islamic Relief, tapi khusus buat khitanan missal,
ana-anak korban tsunami di komplek sini,” jelasnya.
Meski tidak ada pelaminan yang megah dan hidangan yang
lezat, tapi kegembiraan tampak jelas diraut
wajah-wajah lelah korban tsunami yang sebelumnya
menjalani hidup tanpa pasangan.
Menjadi raja dan ratu sehari, meski beramai-ramai
tidak jadi masalah, yang penting, mereka mendapatkan
kembali semangat hidup yang sempat hilang. Walau masa
depan masih belum jelas, yang penting kini bisa
melangkah berdua dan saling berpegangan tangan.
(zam/Tulisan ini dipublikasikan di Hr Rakyat Aceh)
No comments:
Post a Comment