Friday, July 31, 2015

"Makanan Lam Prang", Menu Para Pejuang Saat Perang Kemerdekaan





BANDA ACEH, KOMPAS.com -- Sepintas makanan-makanan ini memang tak memiliki nilai apa-apa. Sebagiannya malah dikenal sebagai makanan biasa, seperti ubi rebus, pisang rebus dan sagu kukus. Semuanya ditata apik dengan nampan-nampan anyaman daun pandan duri.
Tapi, semua ini mulai menebar aura ketika mata melirik ke arah samping, sebuah kertas karton tersandar disampingnya, disana tertulis; “makanan lam prang”. Artinya, makanan-makanan dalam zaman perang.
Seorang perempuan berkerudung hitam, mulai membuka tutup nampan lebih lebar dan menyilahkan para pengunjung untuk mencicipi makanan tersebut. Tak memakan waktu lama, semua pengunjung langsung antri dan mulai memilih makanan mana yang ingin dicicipi.

Mata pengunjung juga tertuju pada satu menu tertulis ‘Janeng’. Dikalangan masyarakat Aceh, Janeng memang dikenal sebagai penganan untuk bekal bepergian, termasuk bepergian untuk bergerilya, alias berperang melawan penjajah belanda saat dilakukan oleh masyarakat Aceh lebih dari seratus tahun lalu.

Janeng, adalah jenis umbi umbian, pohonnya kecil dan berduri kecil, merambat seperti pohon sirih. Daunnya berwarna hijau bila masih muda. Biasanya tumbuh liar dihutan-hutan di bawah pohon yang ukurannya lebih besar dan teduh. Janeng memiliki umbi buah besar yang menghujam ke bawah tanah.
Dalam bahasa latin termasuk dalam anggota marga Amorphopallus campanulatus. Sekarang di provinsi Aceh, varitas tanaman janeng semakin langka di hutan-hutan.

Pohon Janeng tumbuh di semak-semak belukar, berkembang baik di tempat-tempat yang lembab dan terlindungi dari sinar matahari. Tinggi pohon Janeng lebih dari 1 meter dengan ciri - ciri; batangnya lunak, berduri kecil, dan berwarna hijau. Akarnya berserabut putih kotor. Buahnya berwarna putih dan berat buahnya bisa mencapai 7-10 kg.

Buah Janeng memiliki nilai gizi yang tinggi, dengan kandungan utama adalah karbohidrat sekitar 70-85%. Kandungan lain, seperti serat, vitamin, kalsium, zat besi, dan protein.






“ Dulu, pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang, boh janeng atau buah janeng oleh para indatu kita dijadikan sebagai bahan pangan dan bekal yang dibawa ke hutan atau lokasi-lokasi berperang gerilya, dan di gampong ( desa) sering juga dijadikan makanan pengganti beras,” ujar Asmah, perempuan berkerudung hitam tadi yang memberi penjelasan pada pengunjung, Jumat (31/7/2015).

Janeng dan beberapa makanan perang ini memang dipamerkan dalam ajang peringatan 100 tahun Museum Aceh yang digelar di Banda Aceh. Tak pelak, makanan yang menjadi makanan langka dimata anak dan remaja bahwa sebagian orang dewasa yang berkunjung ke Musium Aceh ini, usianya juga sudah 100 tahun, bahkan lebih.

Alhasil, pengunjung yang ingin menikmati ransum perang prajurit Aceh ini menjadi membludak, tak sampai dua jam, makanan yang sengaja disajikan secara gratis ini, ludes tak bersisa.

“Kalau anak-anak muda sekarang mungkin memang sudah tak mengenal lagi makanan-makanan ini, karena sangat jarang disajikan, bahkan mungkin tidak setahun sekali dalam kenduri apapun di Aceh, selain bahan baku Janeng yangs ulit ditemukan, mengolah janeng ini pun harus punya keahlian tersendiri, agar saat dikonsumsi tidak menimbulkan racun,” jelas Asmah.

Selain Janeng, makan lain yang dipamerkan adalah Leughok, alias sagu yang sudah dikukus dan dimakan dengan parutan kelapa yang dikukus pula agar tak mudah basi.

Kemudian ada pula Empheng. Ini adalah sejenis makanan yang terbuat dari tepung beras ketan yang didalamnya ada kelapa parut dan gula. Makanan ini disajikan didalam daun pisang yang sebelumnya di kukus dan dibakar. “ Kenapa parutan kepalanya ada diberi gula, ini untuk menjaga energy dalam tubuh, agar gak lemas walau tak makan makanan lain dalam beberapa hari,” ujar Asmah.

Syarifah, seorang pengunjung mengaku senang bisa melihat banyak sajian makanan tradisional dan tua yang ditunjukkan di pameran 100th Musium Aceh. “Ini penting bagi generasi muda agar mereka tahu budaya Aceh seutuhnya, dan bagi saya sendiri pun ini menjadi sangat menarik, karean saya juga baru tahu yang namanya Janeng dan Empheng,” sebut Syarifah. *****


_____________________________________________________________________

This story has been published on:
www.kompas.com
Jumat, 31 Juli 2015 | 16:20 WIB
By : Daspriani Y Zamzami
Editor : Caroline Damanik

Tuesday, July 28, 2015

Kisah Penjaja Ikan Keliling yang Jadi Pengibar Bendera di Istana Negara



BANDA ACEH, KOMPAS.com — Hups! Tumpukan ikan yang terakhir pun masuk ke keranjang rotan yang sudah lusuh dan kini becak berisi ikan-ikan segar ini siap diajak berkeliling kampung untuk dijajakan.

Seragam abu-abu yang tadi menempel di tubuh sudah berganti dengan kaus oblong biasa. Pedal becak pun dikayuh. Jarak dan luas area mengayuh becak untuk menjajakan ikan ini pun tak tanggung-tanggung, yakni empat kecamatan, yaitu Kecamatan Seunagan, Suka Makmur, Seunagan Timur, dan Beutong di Kabupaten Nagan Raya.

Si penjaja ikan berusia muda ini adalah Ricky Satria Pratama (16), pelajar SMAN I Seunagan, Kabupaten Nagan Raya. Remaja yang berpenampilan bersahaja ini memang mengisi waktu luangnya sepulang sekolah untuk menjajakan ikan demi memenuhi kebutuhan sekolah dan pribadinya.

"Penghasilan saya antara Rp 30.000 hingga Rp 60.000. Uang itu untuk jajan sendiri dan juga adik," kata Ricky.

Namun, hampir sebulan belakangan ini sejumlah pelanggan tetapnya tak lagi melihat Ricky datang membawa ikan. Bukan karena sakit atau enggan kembali berjualan ikan, melainkan remaja dengan postur tubuh tinggi 174 cm dan berkulit putih ini sedang merintis cita-citanya, yakni menjadi seorang Pasukan Pengibar Bendera Pusaka di Istana Merdeka Jakarta pada peringatan 17 Agustus 2015 mendatang.

"Saya bangga bisa terpilih dan lolos menjadi satu di antara banyak remaja di Indonesia yang terpilih menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka di Istana Negara nanti. Saya tidak malu walau selama ini saya hanya seorang penjual ikan yang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sekolah saya," ujar Ricky saat ditemui di sela-sela latihan Paskibraka di Banda Aceh, Senin (27/7/2015).

Melewati proses seleksi untuk menjadi seorang anggota Paskibraka bukanlah hal yang mudah bagi Ricky. Melewati berbagai jenjang seleksi dan puluhan saingan, akhirnya Ricky pun terpilih menjadi satu dari 80 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.

"Saya tidak menduga berhasil menjadi pasukan di tingkat nasional. Saya senang dan terharu sekali," kata anak pertama dari dua bersaudara ini.

Memiliki ayah seorang personel babinsa di Koramil 0116/Nagan Raya bernama Amilin berpangkat sertu, membuat hari-hari Ricky tak lepas dari aktivitas fisik dan kemandirian mental yang tinggi. Hidup dengan kondisi ekonomi keluarga yang minim membuat Ricky terus memahami arti tanggung jawab dan hidup sederhana.

"Saya tinggal bersama adik dan seorang nenek yang sudah renta, siapa lagi yang bisa bertanggung jawab terhadap mereka kalau bukan saya. Untuk itu, meski sambil bersekolah, saya bekerja sebagai penjual ikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Seleksi ketat

Sementara itu, koordinator pelatih Paskibraka Aceh, Alta Zaini, mengaku sebuah kebanggaan bagi Aceh dua orang putra dan putrinya bisa berhasil menapakkan kaki di Istana Negara dan mendapat kehormatan untuk menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.

"Keduanya memang sudah melewati seleksi yang cukup ketat dan berkat usaha yang keras, dua dari empat peserta usulan dari Aceh berhasil lolos," ujar Alta.

Kedua putra-putri asal Aceh yang lolos ke tingkat Paskibraka Nasional tersebut masing-masing Ricky Surya Pratama (16) berasal dari SMAN I Nagan Raya dan Nadila Tasya Aprilia dari SMAN I Kota Langsa.

Lain kisah Ricky, lain pula kisah Tasya. Tasya sendiri mengaku awalnya sempat tak diizinkan oleh sang bunda untuk mengikuti seleksi pasukan pengibar bendera tingkat kabupaten/kota.

"Alasan mama, karena latihannya berat dan kalau pulang ke rumah selalu telat karena latihan sampai sore," ujar Tasya.

Namun, berkat keinginannya yang kuat, remaja yang bercita-cita ingin menjadi taruni Akademi Polisi ini pun berhasil meluluhkan hati sang bunda dan mendapat restu. Restu itu tak main-main rupanya. Dengan restu dan keihklasan sang bunda, Tasya pun berhasil menyisihkan banyak saingannya untuk berhasil mendapatkan posisi sebagai anggota Paskibraka tingkat nasional.

Keberhasilan Ricky dan Tasya yang diraih saat ini bukanlah hadiah yang datang secara tiba-tiba. Peran serta orangtua yang memberi dukungan dan semangat kepada keduanya telah berhasil membawa mereka kepada separuh impian mereka saat ini.

Ricky dan Tasya mengaku akan berlatih keras agar bisa mengharumkan nama Serambi Mekah. Ricky berkeinginan terpilih dalam pasukan 8 dan berkesempatan menjadi pasukan pengerek bendera. Sementara itu, Tasya berkeinginan bisa dipercaya menjadi pasukan pembawa baki bendera pusaka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ricky dan Tasya memang bukan bagian dari sejarah bagaimana darah ditumpahkan untuk mempertahankan helai kain berwarna merah putih itu. Namun, keduanya adalah bagian yang tak mungkin dipisahkan dari upaya mempertahankan merah putih tetap berada dalam sanubari dan semangat juang hidup mereka.******


Source: http://regional.kompas.com/read/2015/07/28/18291091/Kisah.Penjaja.Ikan.Keliling.yang.Jadi.Pengibar.Bendera.di.Istana.Negara



Penulis: Kontributor Banda Aceh, Daspriani Zamzami
Editor: Farid Assifa