Wednesday, August 28, 2013

Lolos dari Sakratul Maut, Laila Ukir Prestasi

Gambar
Sikap mental positif adalah kekuatan dahsyat bagi setiap orang dalam menghadapi sekaligus keluar dari berbagai kesulitan hidup yang mereka alami. Inilah yang terjadi pada Laila Abdul Jalil (38). Sosok perempuan tangguh ini berhasil keluar dari situasi kritis dan mengancam jiwanya, untuk kemudian bangkit dengan semangat baru dan menghasilkan karya yang sudah sejak lama ingin diwujudkannya.
Cobaan yang dialami Laila cukup berat. Kisahnya bermula ketika pada tahun 2006, ia hamil di luar kandungan namun didiagnosa keguguran dan dikuret oleh dokter. Kesalahan diagnosa yang berlanjut pada kesalahan tindakan medis inilah yang kemudian menjadi awal dari penderitaan berkepanjangan yang dialami Laila.
Laila mengalami keluhan sakit di perutnya yang kemudian didiagnosa oleh dokter sebagai infeksi usus buntu dan harus dioperasi. Ketika operasi berlangsung, diketahui ada janin di luar kandungan dan terjadi pendarahan dalam akibat satu indung telurnya pecah, dan menyebabkan efek beruntun, ususnya lengket, berlipat dan pecah, menimbulkan infeksi di rongga perut, dan kemudian menyebabkan terjadinya fistula (saluran abnormal antara rongga perut bagian dalam dengan dinding perut bagian luar).
Akibat komplikasi ini membuat Laila harus sembilan kali operasi beruntun. Pada operasi yang ke enam, berat badannya turun drastis hingga 30 kg, dan harus berjalan dengan bantuan tongkat. Sementara yang paling kiritis sekaligus meninggalkan kesan yang akan selalu dikenangnya adalah pada waktu operasi yang kedua. Ia koma selama tiga minggu di ruangan ICU. Dalam situasi koma inilah Laila mengalami fenomena yang oleh banyak ilmuwan disebut sebagai Near Death Experience (NDE), pengalaman mendekati kematian.
Laila mengisahkan bagaimana ia melihat semacam view dimana ia berjalan di atas sebuah titian yang hanya muat untuk satu tapak kaki, didampingi oleh sosok putih bersih dan bersayap yang mengiringinya menuju sebuah objek yang bercahaya terang-benderang. Dalam perjalanan menunjukan objek bercahaya terang itu, ia membatin: “Ya Allah jika saya layak untuk anak saya, panjangkan umur saya. Tapi jika tidak, maka ambillah nyawa saya. Saya sudah tidak tahan, sakit sekali”.
Sesaat setelah berdoa, ia merasa diangkat tinggi-tinggi, kemudian terhempas dan mendapati dirinya berbaring di atas tempat tidur. Lalu antara sadar dan tidak sadar, ia merasa melihat sosok almarhum bapaknya yang mengelus-elus kepalanya. “Kamu sembuh nak, belum saatnya kamu ikut Bapak”, itulah pesan yang samar-samar ia dengar diucapkan oleh bapaknya yang sosoknya kemudian menghilang di balik pintu ruangan ICU.
Paska operasi ke delapan, Laila yang sehari-hari adalah staf di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh ini, baru berani memulai aktifitas bekerja di kantor, meski masih sering merasakan sakit dan nyeri di bagian perutnya. “Kadang-kadang saya frutasi dan putus asa juga. Rasa sakitnya betul-betul sakit dan menyiksa. Segala macam obat sudah saya minum tapi nggak sembuh-sembuh. Saya sempat dilanda depresi berat sampai pernah berniat bunuh diri. Terakhir saya ikhlaskan semuanya, saya pulangkan semuanya pada Yang Diatas”, cerita Laila pada Tabangun Aceh beberapa waktu lalu di sela-sela mengerjakan tugasnya di kantor.
Keikhlasan Laila membuat batinnya tenang. Ia juga beruntung, dalam ketersiksaannya, Laila mendapat perhatian dan dukungan penuh dari suami dan kedua buah hati mereka. Cinta dan dukungan suami dan kedua anak-anaknya, menjadi obat dan tonik paling mujarab yang memperkuat semangatnya untuk bertahan, merajut mimpi-mimpi, dan menyadarkannya untuk memberikan yang terbaik buat suami dan anak-anaknya.
Berkat dukungan keluarganya pula, Laila yang juga sarjana Arkeologi Universitas Gajah Mada ini, mantap untuk melanjutkan studinya di jurusan Sejarah Peradaban Islam, Program Magister IAIN Ar-Raniry. Selama menempuh pendidikan, Laila sempat ambruk lagi dan harus dirawat selama dua bulan di rumah sakit.
Namun kondisi ini tidak mengendurkan semangatnya. “Sakit dan penderitaan bukan berarti kiamat dan akhir segala-galanya, masih banyak mimpi yang bisa kita raih”, katanya mantap. Dengan tekad kuat inilah Laila berhasil menyelesaikan studinya dengan predikat sangat memuaskan (IPK 3,76). Laila berhasil lulus dengan tesis “Arsitektur Mesjid Kuno di Aceh, Kajian Terhadap Mesjid-Mesjid di Pesisir Aceh”.
Perjuangannya berbuah manis. Meski dengan kondisi yang belum begitu pulih dan sering menahan nyeri di perutnya, ia turun ke lapangan penelitian dengan didampingi oleh suami tercinta. Hasilnya, tugas akhirnya menjadi tesis terbaik 2012 di Program Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, dan kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul yang sama oleh IAIN Ar-Raniry berkerja-sama dengan Bandar Publishing. “Buku ini membahas tentang konsep arsitektur awal mesjid-mesjid di Aceh, serta fisolofi dan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya”, Laila menerangkan isi bukunya.
“Saya excited banget berhasil menyelesaikan karya tulis ini, meski mungkin belum sempurna, tapi membuat saya semakin bersemangat untuk menulis lagi,” tambahnya dengan raut wajah berbinar-binar menyiratkan semangat yang bergelora.
Semangat seorang pemenang yang pantang menyerah menghadapi segala cobaan dan berhasil membangkitkan segenap potensi dirinya untuk menerima setiap berkah dan kemurahan tanpa batas dari Tuhan Yang Maha Kuasa mengantarkan Laila tetap mampu mengukir prestasi, walau sudah pernah mendekati sakratul maut. Perjuangan dan berkah yang kini dinikmati Laila adalah contoh sempurna dari janji Tuhan, “Aku tidak akan mengubah nasib seorang, jika ia sendiri tidak mau mengubahnya”. Bravo Laila, tetap semangat dan teruslah berkarya. [bulman satar, dimuat Tabloid Tabangun Aceh edisi Agustus 2013]

Saturday, June 29, 2013



Raju Si Anak Gajah Pun Dipindahkan
  • Penulis : Kontributor Banda Aceh, Daspriani Y Zamzami
  • Sabtu, 29 Juni 2013 | 07:33 WIB

Petugas dari PLG Saree Aceh Besar sedang memberi perawatan kepada RAJU, sebelum dipindhkan ke Komplek PLG, Kamis (27/8/2013)

ACEH UTARA, KOMPAS.com — Lemah dan sedikit terhuyung, Raju mencoba terus bergerak di area kandangnya. Banyaknya warga dan pengunjung sempat membuat Raju sedikit cemas.

Kendati demikian, Raju tetap terlihat ramah dan selalu mau mendekat dengan warga yang ingin menyentuh tubuhnya. Meski sebagian warga itu merasa takut, keinginan menyentuh tubuh mungil Raju yang dipenuhi bulu pirang itu tak tertahankan.

Raju adalah nama seekor bayi gajah yang baru berusia kurang dari satu bulan. Dia ditemukan warga Desa Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara, pada pertengahan Juni 2013. Saat ditemukan, Raju tergeletak lemah tak berdaya.

Penemu Raju adalah warga yang tengah mencari kayu bakar. Saat itu, warga tersebut mengaku tak melihat induk Raju. Karenanya, warga pun membawa Raju pulang ke desa mereka dan merawatnya.

Warga memutuskan memberi nama Raju untuk bayi gajah ini. Alasannya, dia berkelamin jantan. "Dan nama itu memang cocok untuk seekor gajah," ujar Hasballah, warga Desa Blang Pante.

Karena kondisinya lemah, warga pun berniat untuk memeliharanya. "Kami pun tak tahu mengapa Raju ada di sana, dan ke mana induknya pergi, karena sudah dibawa ke kampung dan saya diminta oleh warga kampung untuk membantu merawat Raju. Ya saya rawat dengan semampu saya," ungkap M Thaleb, yang menjadi pengasuh Raju, Kamis (27/6/2013) petang.

Selain Raju, warga juga menemukan seekor bayi gajah lainnya yang usianya lebih tua dari Raju. Bayi gajah yang satu ini mereka namai Raja. Sayangnya, Raja tak berumur panjang. Ia mati ketika baru sepekan dirawat Thaleb karena perut kembung dan diare berat.

Dipindahkan

Meski warga merawat Raju, bayi gajah ini pun memperlihatkan gejala sakit seperti Raja. "Sebentar dia terlihat sehat, tapi beberapa jam kemudian dia lelah dan lemas, dan selalu dalam kondisi diare, meski sudah diberi susu," ungkap Thaleb. Kondisi Raju ini yang membuat sejumlah aktivis lingkungan khawatir dan berusaha mengevakuasi Raju ke tempat yang lebih baik dan terjamin perawatannya.

"Kami meminta kepada warga untuk bisa menyerahkan bayi gajah itu kepada pihak yang berwenang agar kesehatan dan kelangsungan hidupnya bisa terjamin," ujar Nurjannah Husien, juru bicara komunitas pencinta satwa dan peduli Raju.

Demi memindahkan Raju, sebut Nurjannah, gerakan para komunitas pencinta satwa ini kemudian menggerakkan aksi #1000 untuk Raju agar Raju bisa mendapatkan pakan yang sehat dan sesuai dengan kebutuhannya.

"Sebelumnya warga enggan menyerahkan bayi gajah ini dan berniat memelihara sendiri. Tapi karena kondisinya yang lemah akhirnya warga pun bersedia menyerahkan Raju kepada lembaga Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Saree milik BKSDA Aceh, dan ini sungguh hal yang menggembirakan," ujar Nurjannah.

Sebelum diberangkatkan ke PLG Saree, Raju pun mendapat perawatan intensif dari petugas kesehatan hewan PLG Saree. "Kondisinya sudah lebih baik dari sehari sebelumnya yang demam dan diare berat. Hari ini dia sudah lebih baik," kata Rosa, dokter dari PLG Saree yang merawat Raju. Meski begitu, Raju masih terus diberi infus, untuk mengantisipasi perjalanan panjang yang akan dia tempuh menuju PLG yang berada di Aceh Besar.

Koordinator Pusat PLG Saree, Aceh Besar, Nurdin, mengatakan bahwa pemindahan Raju dilakukan secepat mungkin karena kondisi Raju yang tak stabil. "Mudah-mudahan dia tetap bisa bertahan, dan kami akan berusaha memberi perawatan yang terbaik,” kata dia.

Anak-anak gajah

Dengan kedatangan Raju, kata Nurdin, PLG Saree kini memiliki gajah dewasa yang jinak dan terlatih sebanyak 50 ekor, dan 3 bayi gajah. Selain Raju yang berumur 20 hari, ada Agam yang berusia 6 bulan, dan Ocha yang berumur 9 bulan.

Ocha adalah anak dari induk bernama Suci yang merupakan gajah jinak di PLG Saree yang kini ditempatkan di Conservation Response Unit (CRU) Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya. "Gajah-gajah jinak kini berfungsi dan bertugas sebagai polisi gajah untuk mengusir gajah liar yang berada di perkebunan warga," kata Nurdin.

Namun, tambah Nurdin, kini PLG Saree juga mengaku kewalahan memenuhi pakan dan gizi gajah-gajah jinak yang berada di lingkungan PLG. "Anggaran kita memang kurang mencukupi untuk memenuhi biaya pakan dan obat-obatan serta vitamin untuk para gajah ini, sementara mereka harus mendapatkan semua itu secara cukup, tidak boleh kurang," ujarnya.

PLG Saree, kata Nurdin, berharap pemerintah memberi perhatian lebih pada gajah-gajah ini. Keberadaan mereka, ujar dia, sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi pergerakan gajah liar dan juga untuk menjaga jumlah populasi gajah sumatera yang kini semakin sedikit jumlahnya.

Jumat (28/6/2013), Raju tiba di Aceh Besar. Dia kini punya rumah baru di PLG Saree. Semoga dia bisa tumbuh besar bersama gajah-gajah sumatera lain yang masih ada di sana.

Editor : Palupi Annisa Auliani

Sumber : http://regional.kompas.com/read/2013/06/29/0733192/Raju.Si.Anak.Gajah.Pun.Dipindahkan