Monday, December 31, 2007


Polisi sedang berusaha mengangkat bangkai kapal patroli milik Satpolair Polda NAD, yang meledak dan tenggelam di perairan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, pada 18 Oktober 2007 lalu. Direktur Polair Polda NAD, Kombes (pol) Sudarto menderita luka bakar dalam insiden ini.
Sementara itu, Pesawat jenis Nomad P833 Milik TNI AL, jatuh diperairan Ujung Kareung Sabang pada tanggal 30 Desember 2007, 2 tewas, 2 selamat dan 3 masih hilang. Pesawat milik TNI AL yang bertugas di Sabang, Aceh ini akan melakukan penerbangan menuju Medan Sumatera Utara. Seorang Perwira TNI AL Sabang, Danlanudal bernama Mayor (laut) Suwito, masih belum diketahui keberadaannya.

Air Mata 3th Mengenang Musibah Tsunami


Seorang Ibu dan anaknya, warga Calang, Aceh Jaya, tak kuasa menahan laju air mata saat doa dikumandangkan mengenang kehancuran dan kehilangan yang diraskannya saat musibah itu datang 3 tahun lalu. Air Mata itu masih ada, Kawan. Meski Tiga tahun sudah berlalu, duka ini tak kan pernah pupus dari hati masyarakat Aceh. Musibah gempa dan tsunami telah merenggut segalanya yang dimiliki warga Aceh. Sementara janji pemerintah dalam hal ini Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR), masih ada yang sekedar janji belaka. Kendati demikian, Seiring berjalannya waktu, senyum mereka pun mulai menebar, asa itu pun mulai tumbuh. Semangat bangkit akan terus ada dalam jiwa mereka. Rakyat Aceh!

Salawati, Pengrajin Abon Ikan


Dari Hancur hingga Bangkit lagi, Tak Tersentuh Bantuan

Suhu diruangan yang berukuran 3x6 meter itu terasa lumayan panas, namun Salawati (40), dengan lincah memainkan mesin press untuk kemasan plastik. Sesekali Salawati menghapus keringat yang menganak sungai di dahinya. Ya, salawati memang tengah mengemas abon ikan hasil produksinya. Padahal saat ini pabrik abon salawati sedang libur, tapi Salawati tetap mengemas beberapa bungkus abon karena ada permintaan. Shelter (rumah bantuan Australian Red Cross berdinding kayu berangka besi) sementara yang dulu digunakan sebagai rumah tempat tinggal, kini berubah menjadi pabrik sederhana abon ikan miliknya.

Dulu, sebelum musibah tsunami melanda Aceh, usaha Abon ikan Tuna milik Salawati memang sudah mulai menanjak. Hasil eksperimen yang dilakukannya selama enam bulan itu, ternyata berbuntut manis. Meski dengan modal pas-pasan, salawati dan sang suami Nurdin, bertekad membuka usaha abon ikan dan eungkot keumamah (ikan tongkol dan tuna yang dikeringkan hingga mengeras). “Kami bukan dari keluarga mampu, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak, kami tidak bisa hanya menggantungkan kepada penghasilan suami yang menjadi pns golongan rendahan di kantor BKKBN,” ungkapnya.

Suatu hari, sebut Salawati, dirinya dan warga kelurahan Merduati pernah mendapat penyuluhan dan pelatihan tentang usaha pengawetan ikan, salah satunya cara membuat abon dan keumamah alias ikan kayu. “Dari hasil pelatihan itu, saya berpikir untuk memulai sebuah usaha baru untuk rumah tangga kami, dan dengan modal sendiri kami terus melakukan eksperimen,” katanya.

Salawati sempat nyaris mundur, akibat eksperimen yang gagal dan menghabiskan modal. “Untung suami saya terus mendukung dan memberi semangat,” sebut Salawati.

Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Begitulah kata pepatah. Musibah gempa dan gelombang tsunami, yang melanda Aceh 2004 lalu, tidak hanya meluluhlantakkan usaha abon milik Salawati dan Nurdin. Dua buah hati mereka, Dian Rahmadani dan Ira Maulidarmi pun hilang tak berbekas jejak, menjadi korban keganasan gelombang tsunami.

Meski tidak menyaksikan langsung keganasan gelombang yang menggulung rumah, pabrik berserta dua anaknya, Salawati masih tak bisa menghilangkan rekaman kehilangan dan kerusakan yang terjadi saat itu. Shock dan rasa kehilangan yang sangat berat, sempat membuat Salawati nyaris tak mampu berpikir jernih lagi. “Kami sudah kehilangan segala-galanya, tapi semua itu kami serahkan kepada Yang Maha Kuasa, bukan kami saja yang kehilangan tapi semua orang di daerah ini,” kenangnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Hidup dan tinggal di tenda darurat pun mereka jalani dengan ikhlas, hingga rumah yang dijanjikan dibangun diatas tapak rumah mereka yang sebelumnya, selesai dibangun oleh UN Habitat dengan donor dari Arab Saudi.

Kini, bersama putra bungsunya, Saputra (9) dan sang suami Nurdin (45), mereka sudah kembali menghuni rumah, yang dulu hanya tinggal lantainya saja. “Ini rumah bantuan dari Arab Saudi, alhamdulillah kami sudah bisa tinggal disini lagi, dan kami pun akan kembali memulai usaha kami yang sudah hancur,” ujar Sala.

Mengaku tak pernah mendapat bantuan ekonomi dari lembaga manapun, Sala bertekad memulai kembali usahanya. “Seperti dulu, usaha ini pun kami mulai dari nol dan dengan modal sendiri,”katanya.

Meski puluhan bahkan ratusan lembaga swadya masyarakat bercokol di Aceh pasca tsunami, namun sebut Sala, belum ada satu lembaga pun yang melirik usaha milik Sala dan kemudian memberikan bantuan modal. “Kalau didatangi dan di data, sudah sangat sering, dan selalu dijanjikan akan diberikan bantuan modal usaha, tapi semua itu hanya janji, dan saya pun tidak mau larut berlama-lama,” ujarnya tegar.

Bahkan, yang menyedihkan, tambah Sala, pernah ada lembag asing, berjanji akan membantu memberikan mesin produksi, “tapi ketika mesinnya sudah ada, kami diharuskan memberi uang muka jutaan rupiah, manalah kami punya uang, akhirnya kami menolak mesin tersebut,” kisah sala.

Kini, meski baru bisa berproduksi 20 kilogram abon dengan 6 pekerja dan mesin yang sederhana pemberian LIPI, Sala, mengaku sudah sangat bersyukur. “Modalnya dari kantong sendiri, mulai dari tabungan kerja cash for work hingga simpanan dari hasil menarik becak oleh sang suami,” sebutnya sambil tersenyum.

Kalau dulu, tambah Nurdin sang suami, mereka bisa memproduksi 120 kilogram abon ikan. Saat itu mereka menggunakan mesin bantuan dari IPB Bogor. “Dan pasarannya pun sudah luas, bahkan sudah mencapai pasar Jakarta dan Malaysia,” kata Nurdin.

Sekarang, pasarnya baru beberapa swalayan dan mini market di Kota Banda Aceh, kantin kantor suami dan pesanan langsung dari orang-orang yang membutuhkan, tambah Sala.

Salawati boleh saja membanggakan abon ikan dan keumamah miliknya. Khusus abon ikan, diproduksi tanpa menggunakan bahwan pengawet tapi tahan hingga enam bulan. Sehingga abon ikan tersebut aman dikonsumsi, termasuk oleh anak-anak.

Tiga tahun pasca musibah gempa dan stunami, kini Salawati memang sudah bisa kembali tersenyum. Bangkit dengan sisa-sisa ketegaran yang dimilikinya, Sala hanya bisa berharap semua yang dilakukannya kini adalah untuk ibadah. “Kami sadar, semua ini tidak ada artinya jika tanpa niat beribadah, kalau usaha kami sukses, tentunya ini akan membuat orang disekeliling kami pun bisa menjadi tenaga kerja,” harapnya.

Diruangan dengan ukuran 3x6 meter ini, Sala pun terlihat sibuk merapikan bungkus plastik bertuliskan Abon Ikan Tuna SAPUTRA. Bungkus plastik ini terlihat tersusun rapi, menunggu pekerja datang untuk berproduksi lagi, pasalnya sudah beberapa hari ini produksi abon milik Sala libur, karena perayaan Idul Adha. ***** (Dipublikasikan di Harian MedanBisnis, Sabtu 29 Desember 2007)

Saturday, December 22, 2007

15 Juta Untuk Ronga-ronga

Marhamah (40) hanya tertunduk, sebatang biscuit wafer Tango rasa strawberry berada di genggaman tangannya. Seorang mahasiswa membagikan biscuit wafer ini kepada para warga Bener Meriah yang terduduk kelelahan di tangga gedung DPR Aceh, Jumat (14/12) lalu.

Sejenak Marhamah memalingkan wajahnya, sambil tersenyum yang dipaksakan. “Saya jadi ingat anak-anak saya dikampung, mereka juga suka dibelikan wafer seperti ini,” ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Marhamah bukan tak punya alasan meninggalkan 4 orang anaknya di kampung sejak Rabu (12/12) lalu. Dia dan ratusan warga Ronga-ronga, Kabupaten Bener Meriah lainnya, kini berada di halaman gedung DPR Aceh. mereka adalah anggota keluarga yang tersisa akibat konflik yang pernah mendera aceh selama berpuluh tahun lamanya.

Ratusan orang ini, tiba di Banda Aceh, menuntut hak mereka akan perbaikan nasib korban konflik seperti yang sudah dijanjikan oleh pemerintah Indonesia dan pemerintah daerah Aceh. “Kami datang ke Banda Aceh ini Cuma mau meminta sedikit saja hak kami, sisa uang bagunan rumah bantuan yang memang sudah menjadi hak kami,” sebut Marhamah dengan logat gayo yang kental.

Kabar gembira diterima Marhamah dan ratusan korban konflik lainnya di kawasan Ronga-ronga, Bener Meriah, setahun lalu, tepatnya Desember 2006 yang lalu. Bahwasanya mereka sudah mendapat penggantian rumah, atas aksi pembakaran yang terjadi dan menimpa mereka sekitar tahun 2002 lalu. “Kami senang lah dapat bantuan rumah, dua tahun lebih kami hidup di pengungsian dan berpindah-pindah, tapi kenyataannya berbeda, rumah yang dibangun tidak sesuai dengan pembicaraan dan gambarnya,” kisah Marhamah.

Pembangunan sekitar seribu unit rumah bantuan dari Badan Reintegrasi Aceh (BRA) tahun 2005/2006 dialokasikan per unit unit senilai Rp35 juta, namun biaya yang dikeluarkan hanya sekitar Rp15-18 juta/unit rumah, sehingga banyak yang rusak dan tidak layak huni.

Rumah kami, sebut Marhamah, juga menjadi rumah tikus, dibawah lantainya ada sarang tikus, karena kondisi lantai yang rapuh. “Nyaris tidak ada semen lantainya, kebanyakan pasir, kalau kita hentakkan kaki dilantai, pasti lantainya langsung pecah, makanya tikus bisa bersarang disana, sampai-sampai kami tidak bisa menyimpan makanan,” katanya sambil mengusap tetes air dari matanya.

Kondisi serupa, pun dialami Nurhayati (52), janda beranak 9. Menurut Nurhayati, pintu rumahnya justru tidak bisa ditutup rapat dan jendela kacanya pun sudah pecah. “Banyak semen berjatuhan dari atas, rontok sendiri dan tidak ada wc nya, padahal waktu ditunjukkan gambar kepada kami, rumahnya sangat bagus, sekarang catnya saja sudah luntur,” jelas Nurhayati sembari menikmati Wafer Tango pemberian mahasiswa usai aksi demo berlangsung.

Pansus DPR Aceh, menurut wakil Ketua Komisi A DPR Aceh, Bahrum Rasyid mensinyalir telah terjadi penyimpangan terhadap dana pembangunan rumah. “Pansus memang menghitung dana pembangunan sekitar 15-16 juta per rumah, artinya ada setengah dana yang hilang,” ujar Bahrum.

“Kalau memang masih ada sisa dana, mohon dan aitu dikembalikan kepada kami, biar kami bisa perbaiki rumah kami lagi,” ujar Marhamah yang semakin terlihat lelah dalam aksi demo tersebut.

Badan Reintegrasi Aceh (BRA) mengklaim, sudah menyerahkan sepenuhnya dana pembangunan rumah langsung kepada pemerintahan setempat, karena pada tahun 2006 lalu, belum terbentuk BRA daerah.

Ketua Harian BRA, Muhammad Nur Djuli di Banda Aceh, mengatakan, BRA tidak akan menghalangi siapa pun juga yang mengungkapkan dugaan penyimpangan bantuan yang diprogramkan badan tersebut.

"BRA mendukung aksi masyarakat korban konflik yang merasa dirugikan untuk mengadukan permasalahan yang dihadapinya melalui mekanisme hukum yang berlaku," katanya.

Hal itu diungkapkan menyikapi aksi unjukrasa masyarakat korban konflik asal Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah sepekan terakhir di DPRA, Banda Aceh.

BRA juga berkomitmen menegakkan hukum atas setiap dugaan penyimpangan bantuan melalui penandatanganan kesepakatan bersama antara BRA, Komisi A DPRA, Pemkab Bener Meriah dan Aceh Tengah serta masyarakat korban konflik pada 30 Juli 2007 di Bener Meriah.

Namun, BRA tidak berhak menindak pelaku penyimpangan karena bukan penegak hukum, tambahnya. Perlu dipahami dana BRA bersumber dari APBN sehingga setiap penggunaannya harus dipertanggungjawabkan secara hukum.

"Karena itu aparat penegak hukum diminta maupun tidak berhak melakukan penyidikan dan penyelidikan atas dugaan penyimpangan yang terjadi di BRA," katanya.

Matahari terlihat semakin menggarang, api demo nyaris terlihat menyurut. Tetes keringat penduduk Ronga-ronga ini mulai mengalahkan desing suara yang menyalak meneriakkan hak mereka yang tertindas. “Kami tidak akan kembali ke kampung, Pak dewan, Kami tidak akan kembali ke kampung, jika masalah ini tidak selesai,” teriak pelaku aksi.

“Besok balik lagi... Besok balik lagi...” *****

Monday, December 17, 2007

Lagunya Iwan Fals

RINDUKU

By : Iwan Fals

Tolong rasakan ungkapan hati

Rasa saling memberi

Agar semakin erat hati kita

Jalani kisah yang ada

Ku tak pernah merasa jemu

Jika kau selalu disampingku

Begitu nyanyian rinduku

Terserah apa katamu

Rambutmu, matamu, bibirmu kurindu

Senyummu, candamu

Tawamu kurindu

Beri aku waktu sedetik lagi

Menatap wajah mu

Esok, hari ini atau nanti

Mungkin tak kembali

Ku tak pernah merasa jemu

Jika kau selalu disampingku

Begitu nyanyian rinduku

Terserah apa katamu

“Bahagianya Menjadi Pengantin Tsunami“

Teks : Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji'un
Setiap yang bernyawa pasti akan berpulang
kepadaNya. Warga sedang membaca Yasin
di Makam Massal Korban gempa dan tsunami Aceh

Sekarang udah tiga tahun, musibah yang identik dengan
kiamat kecil itu berlalu.
Dan merekapun, mungkin sudah mendapatkan kembali
kehidupannya yang baru.
Mungkin ada yang sudah sedikit lebih bahagia,
mungkin ada yang sedang meninabobokan
si kecil dalam ayunan, mungkin ada yang sedang
membersihkan kaca jendela rumah mereka
yang baru, mungkin ada yang masih tinggal di
gubuk sementara, dan mungkin pula ada
yang sudah meninggal. Ada lebih 1001 kemungkinan
yang bisa terjadi dalam rentang waktu ini
dan semua itu adalah kehendakNya.
Berikut cuplikan awal kisah hidup mereka,
setelah pandangan pertama bertemu:


“Bahagianya Menjadi Pengantin Tsunami“

Reported By : Daspriani Y Zamzami
Tanggal : 05 Juni 2005
-----------------------------------------------------------

KEHILANGAN pasangan hidup, apalagi dalam kondisi yang
tidak diduga-duga, memang membuat seseorang menjadi
hampa dan nelangsa.

Hal ini pula yang dirasakan oleh sejumlah pengungsi
korban tsunami, yang selama ini menjadi penghuni tenda
darurat dikomplek TVRI, Mata Ie, Aceh Besar.

Bagi sejumlah orang yang kehilangan pasangan,
kesendirian yang dijalani selama ini dirasa menyiksa,
ditambah lagi dengan beban hidup yang kian berat.

Keinginan berbagi duka dan suka, serta kedekatan yang
terjalin selama inilah, yang kemudian melandasi jalan
hidup 23 pasangan, yang kemudian memutuskan untuk
bersatu dalam ikatan pernikahan.

Cinta memang tidak pernah mengenal lokasi bahkan
kondisi, cinta bisa tumbuh dimana saja. Syekh Syam
alias Abu (60), misalnya. Laki-laki yang sudah berusia
lanjut ini, tidak menutup-nutupi, kalau dirinya memang
masih membutuhkan pasangan hidup dan sebuah keluarga
yang utuh, sehingga bisa lebih ringan menjalani semua
beban hidupnya.

Pasca musibah tsunami, yang telah merenggut jiwa
isteri dan tiga anaknya,kini Abu,tinggal sebatangkara,
usia yang sudah menjelang senja, membuat Abu lebih
mementingkan pasangan hidup untuk mendampingi masa
tuanya.

“Saya bertemu dengan pasangan saya, saat dalam
pengajian di mesjid di kamp pengungsian, dia menjadi
salah satu anggota pengajiannya, dan mungkin kami
saling suka pada pandangan pertama, dari pada terjadi
hal-hal yang diluar batas, lebih baik memutuskan untuk
menikah, kebetulan tenda kita juga berdekatan,” ujar
Abu sambil tersenyum sumringah.

Tidak ada kemewahan dalam dandanan Abu dan Maryati
dalam melangsungkan resepsi pernikahan merka, bersana
22 pasangan lainnya. Bahkan Abu terkesan yang paling
sederhana, karena ia hanya menggunakan sandal jepit,
bukan sepatu pantovel mengkilap, sebagaimana halnya
seorang penganten baru.

“saya tidak tahu dari mana pakaian ini, pokoknya
panitia disini sudah menyediakan pakaian untuk kami,
tapi sepatu tidak, jadi ya saya pakai saja selop, yang
penting ikut acara,’ katanya lagi sambil tertawa.

Abu, yang melamar Maryati hanya dengan satu mayam emas
ini, mengaku tidak terlalu memikirkan anak. “Bagi
saya kalau diizinkan punya anak lagi, ya
alhamdulillah, mau laki-laki atau perempuan, sama
saja, kan sekarang juga sudah ada satu anak perempuan
dari isteri baru saya” ujarnya sambil mengusap kepala
bocah perempuan usia 4 tahun, anak dari Maryati.

Abu mengaku melamar Maryati di tenda 41 yang
didiaminya danmelangsungkan pernikahan di tempat yang
sama. “Kami menikah di tenda, Cuma ada saki dan tuan
kadi, dan tetangga disebelah tenda,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan oleh T Cutnyak Zahyuni
(35). Pria yang sebelumnya berdomisili di Punge ini
,mengaku banyaknya perhatian yang diberikan oleh
Zahrona, sang isteri yang baru, membuatnya memutuskan
untuk menikahi Zahrona.

“Saya sudah kehilangan isteri dan anak, bahkan tubuh
saya waktu diselamatkan oleh orang lain penuh luka,
dan setibanya saya di camp pengungsian ini, saya
dibantu dan dirawat oleh Zahrona, akhirnya kedekatan
itu membuat kami saling jatuh cinta dan memutuskan
untuk menikah,” ujar Zahyuni.

Tak jauh beda juga dengan pasangan Junaidi (23) asal
Lampulo dan Cut Hasmika (23) asal Lamno. Keduanya juga
mengaku bertemu di cam pengugsian dan tinggal
bersebelahan tenda.
“Kami pun melangsungkan pernikahan di tenda AC-9,
tenda temnpat isteri saya tinggal bersama orang yang
merawatnya, seluruh keluarganya sudah tidak ada lagi,
saya melamarnya dengan 5 mayam emas,” ucap Junaidi,
sambil tersenyum malu.

Dari 23 pasangan yang berbahagia ini, menurut
Koordinator Kegiatan pengungsi TVRI, Awi Muhammad
Maulan, 10 diantaranya adalah pasangan janda dan duda,
yang selama ini tinggal bersebelahan di camp
pengungsian.

“Kegiatan ini hanya bermaksud untuk meringankan beban
para pengungsi yang memang sudah menderita, jangan
lagi kita biarkan mereka menderita pula dalam
batinnya,karena kehilangan pasangan hidup,” ujar Awi.

Dengan segala keterbatasan dana, disebutkan Awi,
panitia tetap berusha menyelenggarakan kegiatan yang
sebelumnya sempat tertunda ini.

“Kami sudah ajukan 20 proposal, tapi hanya dua
proposal yang kami terima bantuan, ada yang nagsih 200
ribu yakni dari Pertamina, dan senilai 50 juta lebih
dari Islamic Relief, tapi khusus buat khitanan missal,
ana-anak korban tsunami di komplek sini,” jelasnya.

Meski tidak ada pelaminan yang megah dan hidangan yang
lezat, tapi kegembiraan tampak jelas diraut
wajah-wajah lelah korban tsunami yang sebelumnya
menjalani hidup tanpa pasangan.

Menjadi raja dan ratu sehari, meski beramai-ramai
tidak jadi masalah, yang penting, mereka mendapatkan
kembali semangat hidup yang sempat hilang. Walau masa
depan masih belum jelas, yang penting kini bisa
melangkah berdua dan saling berpegangan tangan.
(zam/Tulisan ini dipublikasikan di Hr Rakyat Aceh)

Friday, November 2, 2007

Aku Ingin


Oleh : Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Note :

Puisi ini begitu memiliki kesan bagikoe. Begitu mengajari akoe tentang sebuah kesederhanaan, ketegaran, keikhlasan dan juga... romantisme.

Setiap membaca puisi ini.. kembali sebuah rasa hadir dihati.. :)
Semoga akoe mencintai orang2 yang akoe cintai karena Allah, semoga Allah hadirkan juga cintakoe pada sang terkasih yang menjadi pilihanNya itu
...

Amin...

Friday, October 12, 2007

Neu Jok Pulang Teuma......................

Telah kosong kurasakan jiwa ini
Telah melayang kurasakan raga ini

Ho ka dijak seumangat lon..
Neu jok pulang teuma seumangat lon
Endatu...........

Neu jok pulang teuma...
Bek le neu peu cre
Seumangat lon ngon tuboh la’eh nyoe..

Neu jok pulang teuma..

Kah ku peu kreuh hatee
bak amaran hatee lon tuan nyoe

Tolong kembalikan..
Jiwa hamba yang kosong...
Jangan biarkan dia pergi bersama
cinta dan air mata ini

By : Dara El-Achee
Banda Aceh : 12 Oktober 07
sembilan okober itu sudah berlalu, neu jok pulang teuma…..seumangat lon…

Wednesday, October 10, 2007

Berdamai dengan Takdir

Berdamai dengan Takdir

Mozaik itu terlepas…
Dari bingkai jiwa dan kehidupan
Mozaik berwarna kelam
Pinggir kacanya membuat hati dan jiwa terluka
Mengiris pedih

Mozaik itu terlepas…
Dari bingkai jiwa dan kehidupan
Bergulir gemerincing
Meneteskan air mata darah

Luapan emosi bergelora
Mengulik mozaik kelam
Berusaha menyimpan duka

Akhirnya..
Aku berdamai dengan duka
Aku berdamai dengan luka
Aku berdamai dengan airmata
Aku pun berdamai dengan Takdir

Banda Aceh, 10 Oktober 2007
By : Dara El-Achee

Yang Tercecer

Suatu saat yang lalu, ada kesempatan menimba ilmu di negeri orang, nun jauh disana. Ada cerita yang tersisa. Untuk 17 teman yang pernah merasakan suka dan duka perjalanan yang panjang... sekelumit kisah ini untuk kalian.. Miss U All guys...............

05 Juli 2007

“ Thailand yang Sensasional”

Akhirnya… perjalanan panjang dan melelahkan itu pun dimulai. Belum-belum, sudah ada yang stress memikirkan lamanya waktu yang harus ditempuh dari Indonesia, menuju Amerika Serikat.

Bang Mukhtar misalnya, dalam sepekan terakhir sebelum keberangkatan, dia terus saja bertanya, “Wah, bagaimana rasanya ya harus terbang di udara dalam waktu yang cukup lama?” Tanya nya, sambil sesekali membayangkan beberapa kali insiden pesawat terbang yang cukup beruntun di Indonesia.

Kendati demikian, perjalanan yang panjang ini cukup menyenangkan, karena sedikit terbalas dengan sebuah pengalaman asyik di Thailand.

Bayangkan, kita yang tidak paham bahasa Thai, namun harus berurusan dengan orang Thai (dalam hal ini supir taksi) yang juga gak paham bahasa inggris, konon lagi bahasa Indonesia.

“ Nti Tung Nana Station…” (nah… pada gak tau kan artinya..?? heheheh). Maksudnya si supir Taksi, jalan lurus ini akan menuju lokasi NANA STATION.

“… Tung..Tung… Nana Station…” jawab Mas Dwie, ke Supir Taksi.. (Tau neh, apa lagi.. tung..tung..tung.. gak ngerti deh..) pokoknya para penumpang taksi asal Indonesia ini (Mas Diwe, bang Mukhtar dan saya sendiri, hm… Yayan (apa siiiiihh..?) asal nyablak aja.. terus kita tertawa deh bareng-bareng.. sambil disahut ama supir taksi : “We Plin..” yang ternyata dia menyatakan kalo kita adalah Friend! (nah lo… pusing kan?) hehehehe…

Jadilah, broken English campur bahasa tubuh, menjadi guide dalam setiap perbincangan (ya khan, Mas Dwie dan bang Mukhtar?). asyiknya kita nyampe juga ke NANA STATION, sebuah lokasi pusat jajanan pinggir kota Thai, dimana kita beli makan malam buat teman-teman yang lagi istirahat transit di SuvarnaBhumi Hotel.

Di NANA STATION, emah gila…! Meski merupakan pusat jajanan pinggir Kota Thai, ternyata tempat ini buka 24 jam, dengan semua pedagang kaki lima yang ada yang menjajakan berbagai barang, mulai dari baju hingga sepatu bahkan pakaian dalam. Dan, gak ketinggalan juga berbagai jenis makanan Thai, yang dikenal dengan citarasa yang enak, dan cocok dilidah orang Indonesia.

Tetep….. endingnya, makan bareng salah satu tempat jajanan makanan, dengan menu Tom Yam, Udang Bakar, Ikan Bakar pasir, dengan sambal cabe rawit yang memberi kejutan pedas di akhir sensasinya.. Ppffuuufffffff..!!!! Pedeeesssssssssss…………… Mak Nyos banget deeee………….

Biar ngerasai dikit, tapi cukup memuaskan.. Lalu balik deh ke hotel sambil bawa paket KFC, untuk temen-temen yang kecapean di hotel, agak lama sih, mereka semua udah kelaperan nungguin makanan, abis jaraknya jauh siiiy.. belon lagi sata pulang supir taksi yang gak bisa bahasa inggris sama sekali, malah gak tahu arah ke hotel transit yang di lokasi bandara Internasional SuvarnaBhumi, itu.. jadilah kita muter-muter dan akhirnya nanya ama man on the street..

Wekekekekeks… (baru jadi supir kali ye, tuh orang..)

Hmmmm………….. Thailand!! Walau Cuma 11 jam, penuh sensasional ………….!!!! Se sensasional mana ya, Thailand atau Indonesia…???? Hehehhe…

28-29 Juli 2007

“Summer Road to Cincinnati and Dayton”

Hmm… akhir pekan yang menyenangkan. Setelah akhir pekan lalu kita tim Columbus ( Timnya Mas Dodi dan Mas Adrian) terima tamu dari Tim Dayton dan Cleveland, kali ini giliran kami lah yang akan berkunjung balasan, hehehehe…

Sabtu Summer yang cerah, mobil pun melaju ke Cincinnati. Perjalanan yang memakan jarak lebih dari 72 mil ini ditempuh dalam jarak kurang lebih dua jam. Bosan..???? Ofcourse not lah.. Perjalanan ini sungguh menyenangkan, selain rame-rame kedua tim Columbus, rombongan juga ditambah ama keluarga Mas Dodi dan Mas Adrian.

Bisa dibayangkan rombongan Jurnalis ini diramaikan oleh suara anak-anak, ‘ bontot’ nya Mas Adrian dan Mas Dodi.

Nyampe di Cincinnati, kita langsung menuju dorm nya tim Cincinnati yang digawangi oleh Bang Nurul Amin (SCTV), Bang Muhktar (SCTV) dan Desi Bo (Metro TV). Dorm nya lumayan keren lho.. apalagi dikelilingi oleh cewek-cewek brondong penari balet .. (Wah.. kalo gak kuat iman, bisa mandi Junub setiap Pagi, neeehhh… !!! Kata Bang Nurul Amin)

Wekekekekeks.....!!!! Ada-ada aja, ya..

Eits..!! Ada satu lagi yang juga jadi ‘motor’ di tim ini, selain anggota Tim dan Lauri (Mahasiswa OU) yang bertugas sebagai driver, yakni Mas Yoga. Mahasiswa Graduate OU asal Indonesia, yang bertugas sebagai field coordinator sekaligus jadi Chef! (Busyeeettt deeee,!!?) Konon, kalo Chef ngambek, maka anak-anak Cincinnati pastilah kelaparan, caused gak bakal ada yang bisa menyajikan makanan uuueeennaaakkk.. disana.! (Ya kan Mas Yoga...???? hehehhe..)

Meski Cuma sebentar singgah disana, tapi sempet juga lah menikmati mie goreng dan nasi goreng hasil karya Mas Yoga. Hmmm.... ini memang bukan kabar bo’ong. Isu selama ini yang menyatakan masakan Mas Yoga itu enak, ternyata Benar!!!!

Nah, selanjutnya seperti yang sudah bisa diduga, kegiatan jalan-jalan, makan-makan (lagi..????) dan shopping, pun dilakukan. Eits, acara narsis juga gak pernah dilupakan, konon lagi kita berada di perbatasan negara bagian Cincinnati dan Kentucky, yang ditandai dengan jembatan baja yang berwarna ungu dan kuning, dimana dibawahnya melintas Ohio river yang sangat lebar (photo-photo lagi.......)

Puas di Cincinnati (meskipun gak puas-puas banget karena waktu yang terbatas), kita pun meluncur ke Dayton, dimana Tim Dayton sudah menunggu kita. But.. nunggunya bukan di dorm, melainkan di sebuah lokasi pesta berbeque.

Ceritanya, Tim Dayton diundang pesta Berbeque di Rumah Karen dan Rex (suaminya) profesor FISIP di Dayton University. Dan kita pun kecipratan undangan tersebut, termasuk juga tim Cincinnati. Jadilah pesat berbeque pun menjadi ajang kangen-kangenan kita yang sudah terpisah selama dua minggu. (Apaan siiiiiyyyyyy...)

Sambil menikmati makanan, kita juga diajak untuk house tour ama tuan rumah. Hmm.. itu rumah nyaman dan comfortable banget lho.. selain rapi dan bersih, juga lebar, dan sebagai perabotannya dibuat sendiri oleh Rex, yang ternyata juga punya gudang perabotan dengan peralatan yang lengkap. Jadi, gak heran, kalo lemari TV nya yang keren itu, adalah hasil karyanya sendiri. (Dahsyat juga profesor yang satu ini, gak cuma handal dalam mengajar, tapi juga handal membuat perabotan rumah tangga...)

Rex dan Karen hanya tinggal berdua, dan dirumah yang terlihat mungil tapi ternyata dalamnya cukup luar itu, kita akan menemui banyak tanaman hias, mulai dari bunga rumput, sampe bunga aneh yang pernah saya lihat, tapi cukup keren.. bunganya terdiri dari daun yang hijau pudar dan memiliki bungan warna pink berbercak biru dan sangat mirip buah nenas. (Nah... susyah kan ngebayanginnya...hehehe)

Selain penuh bunga, rumah ini juga dilengkapi dengan kebun sayur-sayuran organik, mulai dari cabe sampe terong, dan yang herannya mereka juga punya tanaman kemangi!!! (dan dua jenis tanaman tadi, yakni cabe hijau dan kemangi sempat ‘dicuri’ ama Mas Yoga, katanya untuk nyambel di Dayton.. Busyeeetttt... ! Masih sempet-sempetnya mikirin masak, dasar Chef yang menyamar jadi doktor nehh.. wekekekekeks...........) tapi si Karen yang punya rumah dah ngijinin Mas Yoga kok buat bawa pulang cabe Hijau dan daun Kemangi.

Tapi.. Jamal????????? Nah, dia juga bawa cabe yang warnanya Kuning, dan bentuknya keriting Lho!!! Meski satu biji, tapi rasanya cukup pedas!!! Buktinya waktu kita makan malam di Dayton ada sayur Buncis campur ikan, dikasi cabe kuning dan rasanya jadi lumayan pedas (Ingat kan? Sampe-sampe mangkok sayur buatan Aswandi itu licin dan tandas oleh anak-anak...) padahal udah ikut pesat berbeque, tapi masih aja lapar.. (Dasar Indonesia, kalao belon ngerasain nasi, masih belon makan namanya.............heheheh..)

But, Jamal udah minta ijin belon ya, tentang cabe kuning keriting itu?? Hmmmmmmmm................. (mudah-mudahan udah.. hehehehe..)

Oya, Back to Laptop.. (iihhhh.. capeee deeee) mkasudnya back to Karen’s House. Nah, berhubung rumah ini berbatasan dengan hutan yang cukup luas (lebih kurang 20 hektar), rumah ini juga dikelilingi ama kawat halus yang dialiri arus listrik, dan diujungnya ada pengumumam yang bertuliskan : KIJANG DILARANG MASUK!!!! (ada-ada aja, Prof Rex ini...)

Oke,, setelah puas dengan pesta berbeque, kita langsung diinapkan di Dayton House, tempat tinggal tim Dayton. Dormnya asyik banget juga, soalnya mereka punya dapur buat masak, makanya bisa ngeracik makanan dengan bumbu apa aja, dan Mas Dwie serta Mas Aswandi yang jadi chefnya.. (Nah, kalo yang ini, chef yang menyamar jadi wartawan neh... hehehehe). Masakannya.. yang seperti yang udah dijelaskan tadi, enak dan indonesia banget githu lho.. soalnya ada tempe goreng dan bakwan jagung..(Hmmm... jadi kangen rumah dan masakan emak deeeehhh.. Hiks..)

Mas Adrian dan Mas Dodi cs, yang udah lama numpang di Amrik aja, jadi lahap banget makannya (termasuk anak-anak mereka suka banget makan nasi putih ama tempe goreng.. hehehe).. pokok indonesia banget lah... (Nah, Mas Adrian, Mas Dodi, apa gak ingat Mountain Mama alias Ibu pertiwi alias kampung Halaman, neehhh? Jelek-jeleknya Indonesia, ya tetaplah itu kampung halaman kita, ya Gakkkk... heeee jadi ceramah ya..?) Hiks........

Siangnya, apalagi kalo bukan jalan-jalan, makan-makan dan photo-photo. Kali ini kita mengunjungi National Museum United States Air Force alias Musiumnya TNI AU nya Amerika Serikat. Bagus! Meskipun ada yang gak cocok di hati (pertanyaannya mereka pahlawan atau pembunuh ya..?

Dilanjutkan ama menyaksikan atraksi Airshow berbagai jenis pesawat milik TNI Au nya US. (Pssttt..... jangan bilang siapa-siapa, ya, kita nontonnya dari lapangan parkir mobil lho, soalnya biar gretong, gthu lho, bo.....!) hehehehe..

But, tau gak, sehari sebelumnya pertunjukkan airshoe ini menelan korban. Satu pesawat beserta pilotnya hancur dan tewas terbakar, akibat adegan menukik ke bumi, namun tidak mampu naik lagi ke udara. Sungguh memilukan. Pertunjukkan air show berujung dengan duka dan air mata. Dan hari ini (minggu 29 Juli) pertunjukkan tetap dilanjutkan.

Selanjutnya, kita berkeliling downtown nya Dayton. Agak sepi ya, kota ini, belum lagi bangunanya banyak bangunan tua, jadi semakin ‘serem” lah kota kecil ini. Tapi ad ayang menarik kok. Hampir disetiap sudut jalan kota ada patung yang dibuat menyerupai manusia, mulai dari replika seorang pembersih kaca, marinir yang memiliki pacar seorang perawat, hingga Marlyn Monroe yang rok nya disibak angin.. Ups..!!!! (Mas Iwan berhasil mengintip ke dalam rok (Isi roknya apa ya..? hehehehe...

Marlyn Moroe mengakhiri kunjungan ke Dayton, dan rombongan pun siap-siap kembali ke Columbus. Kecapean dan tertidur di mobil. Nuansa mobil pun indonesia banget, soalnya sepertiga panjang perjalanan diisi ama nyanyian si Raja Dangdut alias Bung Rhoma Irama.... (Pssssttt..... ini lagu kesayangan Mas Dodi Lho...)

Well..... This is very cultural experience (mengutip Mas Joy)

So Long Dayton can Cincinnati... Entah kapan bisa berkunjung kembali. Now, back to work di WBNS 10 TV News Channel... *****

30-31 juli 2007

“Sibuk Ngerjain project “

Setelah menikmati weekend, ini hari-hari yang bergelimang dengan tugas dan peliputan kembali dimulai…

Kita, (yayan, Mas Jamal dan Mas Joy) mulai melanjutkan project peliputan selama internship di Columbus. Nyari narasumber sana-sini, janji wawancara, liputan sejak jam 05.00 pagi dilanjutkan sampe siang dan sore.

Dan, kita kedapatan seorang kameraman mahasiswa undergraduate, cewek, namanya Tanisha, umurnya 22 tahun. Anaknya sih keren, blasteran Amerika Afrika – Amerika. Mungkin karena umurnya masih muda, jadi kerjanya jadi agak kurang professional. Kata Mas Jamal, „kok malah dia yang internsh ke kita, seharusnya kita yang akan minta gambar ke dia,“ katanya.

Hmm.. ya githu deeee....

Yang penting, selesaikan project, Bro..!!!! *****

01 August 2007

“ Keriting Time “

Gak, kerasa udah tanggal 01 August, artinya udah masuk sebulan kita ada di Amerika Serikat. Dan hari-hari belakangan ini masih disibukkan dengan upaya penyelesaian project peliputan kita yang menjadi ‘menu penutup’ kegiatan internship di Columbus.

Hmm… alhamdulillah sedikit demi sedikit, pekerjaan pun mulai rampung. Bisa sedikit berlega hatilah. Senyum-senyum dan tertawa lepas serta becanda, terus menjadi menu sehari-hari.

Salah satunya, keriting time nya Mas Joy. Aneh, setiap sudah berada di mobil, Mas Joy pasti ngantuk dan selalu tertidur (walau selalu kaget karena ketiduran.. heheheh)

Dan kita selalu menyebutkan waktu-waktu sekarat ini dengan sebutan “Keriting Time”. Jam-jam keriting untuk melawan kantuk. Tapi tetap aja gak bisa. Mas Joy tetap selalu ngantuk dan tertidur,dan yayan suka sekali menertawakan aksi ngantuk ini. (heheheh… Mas Joy.. Mas Joy..)

Bayangin aja, dalam kondisi ngobrol dan dia bersuara dengan keras, tiba-tiba dia bisa tertidur dan suaranya menghilang begitu saja. Terus kalau dipaksa diajak ngobrol, maka mulutnya akan mengeluarkan kata yang menceracau gak jela.. dan………………zzzzzzzz……..Zzzzz………Zzzzz…. maka tertidurlah dia…

Busyeeettt deee Mas Joy.

Oya, siang hari ini, di kantor WBNS, stasiun televisi Columbus tempat kita magang, ada pesta perpisahan. Seorang pekerjanya bernama Tina, pindah ke stasin TV lain di Kota Atlanta. Sebuah televisi lokal yang besar dan terkenal. Hmm… semua orang berkumpul di newsroom, seperti biasa, pidato-pidato perpisahan, menyampaikan kesan danpesan, baca puisi sampai ngasih kenang-kenangan dan cendera mata (termasuk kita, ngasih cenderamata buat Tina).

Soalnya Tina orangnya baik banget, di hari pertama Internship, dia yang ngajak kita kenal newsroom dan mengenalkan program ENPS. Pokoknya seru lah. Perempuan American-African ini juga sangat murah senyum dan selalu baik hati dengan semua orang.

Sepertinya WBNS, merasakan kehilangan seorang pekerja yang berdedikasi tinggi. Hmmm... Mudah-mudahan dia sukses di Atlanta, ya.

Sedikit kesal di WBNS, makin hari kita makin agak dicuekin karena mereka semua pada sibuk, tapi kita paham kok. Tapi kesal dan sedihnya, udah mau berkahir internship, kita tetap gak bisa naek Chooper, alias helikopter liputan. Hmmmmm... sementara dua kelompok di kota Cleveland, udah liputan naek Chooper.. Huuuuhhh. Terus pengen dapat jaket 10TV News, juga belon kesampaian. Huuuu.. keritiiiinngg deeeeeeeeeeeeee……………….

Belum lagi janji makan malam mama Terry (Presidennya Serenity CafĂ© dan Catering yang ternyata jadwalnya salah diomongin ama kakak Joy, kata Kakak Joy kita diundang makan malam Kamis malam, tapi ternyata selasa malam minggu depanya……Iiiiiiihhhhh Tambah Keriting deeeeeeeeeeeeeee inikan udah waktunya kita pulang ke Athens… hiks…!!!) *****

LUKA

LUKA

By : Dara El-Achee

Sepertinya Mei ini menyisakan luka dan duka yang begitu banyak dalam kesehariaan masyarakat kita.

Aksi perampokan beruntun terjadi di beberapa tempat di Aceh, menyisakan luka dan duka bagi anggota keluarga yang kehilangan bagian keluarga lainnya. Anak kehilangan sang ayah, isteri kehilangan suami, bahkan daerah ini pun terancam kehilangan puluhan puteranya yang kini sedang berhadapan dengan maut, menanti sang ajal menjemput dalam kecaman hukuman mati di negeri jiran Malaysia.

Luka juga menoreh sudut hati terdalam, menyaksikan kondisi moral aneuk nanggroe yang dirasa semakin jauh dari ajaran suci agama dan keyakinan mereka. Secara beruntun kita saksikan, aksi bejad mesum yang tidak ditenggarai oleh ikatan suci pernikahan, meruyak bak jamur di musim hujan. Mulai dari muda belia, hingga si tua renta. Entah apa yang terlintas di pikiran mereka saat melakukan hubungan tidak sah yang kemudian diabadikan pula melalui telpon seluler.

Tapi, kalau pelanggaran syariat ini dilakukan oleh warga Aceh, termasuk pejabatnya di luar Aceh, ini memang bukan hal yang luar biasa. Sudah menjadi rahasia umum.

Namun, trend untuk mengabadikan adegan mesum dengan pasangannya, yang dikerjakan di Aceh dan kemudian menjadi trend baru di Aceh? Ini memang dahsyat. Munafik kah kita?

Syariah terkoyak luka.

Kasus terakhir tindakan mesum, lebih memperparah luka. Manakala sepasang muda belia menjadi korban tindak kebejatan lainnya dari sekelompok pemuda yang melakukan pemaksaan terhadap pasangan remaja ini, untuk mengadegan ulangkan perbuatan mesum mereka dihadapan banyak orang untuk dijadikan model fim singkat adegan mesum.

Tak terbayang oleh saya, ketika kondisi ini menyeruak ke permukaan nanggroe ini. Mata terbelalak, senyum menjadi kecut, seolah tak percaya, kenyataan ini ada didepan mata, di nanggroe syariah.

Seolah tak percaya, baru saja kita menyaksikan adegan pelanggaran syariat itu dilakukan oleh pns di kabupaten Abdya. Tak lama kemudian kembali dihebohkan dengan adegan yang serupa oleh pasangan belum menikah dari kawasan Neusu. Dan, nafas kembali terhenyak, ketika menemui kenyataan hal serupa kembali terulang, bahkan diikuti dengan tindakan kejam yang sangat tidak bermoral.

Salah apa kita di Nanggroe ini? Benarkah semakin kita dikekang semakin bergolak keliaran yang secara naluri dimiliki oleh manusia?

Sepertinya luka ini semakin menganga saja. Belum ada proses pengobatan yang cukup baik untuk membuat luka ini menjadi lebih baik.

Pelaku Pelanggaran masih tetap menjadi misteri dan belum terungkap. Baik itu pelaku perampokan bersenjata, pelaku pembunuhan keji hingga pelaku kejahatan seksual. Wallau alam Bisawab.

Sekali waktu obrolan warung kopi antara saya dan seorang teman membuat saya terenyuh dan tergugu. „Ini adalah akibat dari kurangnya pendidikan di masyarakat kita. Entah itu pendidikan dari mana, dari meunasah kah, atau dari sekolah. Kita tidak mampu menerima perubahan global yang kini merangsek cepat tanpa bisa dicegah,“ katanya.

Saya pun mulai membayangkan, maraknya sinetron yang tayang di televisi swasta, hampir sertiap malam dengan topik hamil diluar nikah, pergaulan muda-mudi tanpa batas, hedonisme, bahkan hingga aksi taubat seorang anak manusia yang sebelumnya bejad, dengan menunjukkan hukum-hukum pembalasan dari Tuhan Sang Penguasa, (yang terkadang aneh dipandangan saya, mengutip satu perkataan yang pernah dilontarkan seorang Da’i Kondang di zamannya,, Zainuddin MZ : ini dia neh, kalau sudah ada syetannye, keluar deh fathehahnye.. seoalh-olah Islam hanya antara Syetan dan Fathihah..) Belum lagi tayangan siaran televisi luar negeri yang kini bisa diapat hanya dengan menekan dua jari di kamar tidur kita.

„Globalisasi perkembangan dunia ini tidak bisa dicegah, bak geulumbang tsunami, datang dan menerjang apa yang ada, tapi kita bisa menghindar, jika kita bisa bersikap bijak,“ tambah teman saya pula.

Kembali saya tergugu.

„ Kini di Nanggroe ini, sudah kah kita bersikap bijak. Pemerintah, penegak hukum dan orang lain yang bertanggungjawab terhadap perkembangan nangroe ini saja, nyaris bosan mengurusi nanggroe dan isinya, jangan-jangan aturan syariah yang sudah digembar-gemborkan sejak lama hanya untuk kejar setoran saja, buktinya makin bersyariah, makin liar isi nanggroe ini,“ tukas teman saya lagi.

Syariah, sebutnya, bukanya hanya shalat lima waktu, menutup aurat, tidak beruda-duaan, tapi juga melingkupi perilaku kita sehari-hari. Misalnya, tidak mengeluarkan kata-kata makian yang merangkum bentuk lubang dubur (maaf!) hingga bentuk hewan yang diharamkan agama. „Tapi juga bagaimana kita bisa menjadi seorang yang sabar ( ini selalu terlihat dalam aturan berlalu lintas ), lalu bagaimana kita selalu bersikap intelek, ( dan ini juga tercermin bagaimana kita menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan ), lalu bagaimana kita terlihat menjadi orang yang berderajat tinggi ( dengan tidak selalu melakukan aksi penipuan disegala bidang ),“ jelas teman saya lagi.

Saya tidak merasa sedang dikhutbahi.

Memang, diakui atau tidak, situasi dan kondisi (mungkin ini terus menjadi ujian bagi kita dari Allah) telah membuat semua warga di nanggroe ini mulai terkikis hati nuraninya dan perasaan jiwanya. Keegoisan dan ingin menang sendiri mulai memuncak disetiap langkah kaki mengawali hari demi hari. Barangkali kita sudah lupa, bagaimana indahnya kebersamaan dalam sebuah khidupan. Kebersamaan menjalankan syariah, kebersamaan menjalankan roda ekonomi, bahkan kebersamaan menjalani rasa luka dan duka.

Tapi kita masih mungkin kok mengembalikan itu semua, Cuma caranya bagaimana?

Saya pun kembali tergugu. *****