LUKA
By : Dara El-Achee
Sepertinya Mei ini menyisakan luka dan duka yang begitu banyak dalam kesehariaan masyarakat kita.
Aksi perampokan beruntun terjadi di beberapa tempat di Aceh, menyisakan luka dan duka bagi anggota keluarga yang kehilangan bagian keluarga lainnya. Anak kehilangan sang ayah, isteri kehilangan suami, bahkan daerah ini pun terancam kehilangan puluhan puteranya yang kini sedang berhadapan dengan maut, menanti sang ajal menjemput dalam kecaman hukuman mati di negeri jiran
Luka juga menoreh sudut hati terdalam, menyaksikan kondisi moral aneuk nanggroe yang dirasa semakin jauh dari ajaran suci agama dan keyakinan mereka. Secara beruntun kita saksikan, aksi bejad mesum yang tidak ditenggarai oleh ikatan suci pernikahan, meruyak bak jamur di musim hujan. Mulai dari muda belia, hingga si tua renta. Entah apa yang terlintas di pikiran mereka saat melakukan hubungan tidak sah yang kemudian diabadikan pula melalui telpon seluler.
Tapi, kalau pelanggaran syariat ini dilakukan oleh warga Aceh, termasuk pejabatnya di luar Aceh, ini memang bukan hal yang luar biasa. Sudah menjadi rahasia umum.
Namun, trend untuk mengabadikan adegan mesum dengan pasangannya, yang dikerjakan di Aceh dan kemudian menjadi trend baru di Aceh? Ini memang dahsyat. Munafik kah kita?
Syariah terkoyak luka.
Kasus terakhir tindakan mesum, lebih memperparah luka. Manakala sepasang muda belia menjadi korban tindak kebejatan lainnya dari sekelompok pemuda yang melakukan pemaksaan terhadap pasangan remaja ini, untuk mengadegan ulangkan perbuatan mesum mereka dihadapan banyak orang untuk dijadikan model fim singkat adegan mesum.
Tak terbayang oleh saya, ketika kondisi ini menyeruak ke permukaan nanggroe ini. Mata terbelalak, senyum menjadi kecut, seolah tak percaya, kenyataan ini ada didepan mata, di nanggroe syariah.
Seolah tak percaya, baru saja kita menyaksikan adegan pelanggaran syariat itu dilakukan oleh pns di kabupaten Abdya. Tak lama kemudian kembali dihebohkan dengan adegan yang serupa oleh pasangan belum menikah dari kawasan Neusu. Dan, nafas kembali terhenyak, ketika menemui kenyataan hal serupa kembali terulang, bahkan diikuti dengan tindakan kejam yang sangat tidak bermoral.
Salah apa kita di Nanggroe ini? Benarkah semakin kita dikekang semakin bergolak keliaran yang secara naluri dimiliki oleh manusia?
Sepertinya luka ini semakin menganga saja. Belum ada proses pengobatan yang cukup baik untuk membuat luka ini menjadi lebih baik.
Pelaku Pelanggaran masih tetap menjadi misteri dan belum terungkap. Baik itu pelaku perampokan bersenjata, pelaku pembunuhan keji hingga pelaku kejahatan seksual. Wallau alam Bisawab.
Sekali waktu obrolan warung kopi antara saya dan seorang teman membuat saya terenyuh dan tergugu. „Ini adalah akibat dari kurangnya pendidikan di masyarakat kita. Entah itu pendidikan dari mana, dari meunasah kah, atau dari sekolah. Kita tidak mampu menerima perubahan global yang kini merangsek cepat tanpa bisa dicegah,“ katanya.
Saya pun mulai membayangkan, maraknya sinetron yang tayang di televisi swasta, hampir sertiap malam dengan topik hamil diluar nikah, pergaulan muda-mudi tanpa batas, hedonisme, bahkan hingga aksi taubat seorang anak manusia yang sebelumnya bejad, dengan menunjukkan hukum-hukum pembalasan dari Tuhan Sang Penguasa, (yang terkadang aneh dipandangan saya, mengutip satu perkataan yang pernah dilontarkan seorang Da’i Kondang di zamannya,, Zainuddin MZ : ini dia neh, kalau sudah ada syetannye, keluar deh fathehahnye.. seoalh-olah Islam hanya antara Syetan dan Fathihah..) Belum lagi tayangan siaran televisi luar negeri yang kini bisa diapat hanya dengan menekan dua jari di kamar tidur kita.
„Globalisasi perkembangan dunia ini tidak bisa dicegah, bak geulumbang tsunami, datang dan menerjang apa yang ada, tapi kita bisa menghindar, jika kita bisa bersikap bijak,“ tambah teman saya pula.
Kembali saya tergugu.
„ Kini di Nanggroe ini, sudah kah kita bersikap bijak. Pemerintah, penegak hukum dan orang lain yang bertanggungjawab terhadap perkembangan nangroe ini saja, nyaris bosan mengurusi nanggroe dan isinya, jangan-jangan aturan syariah yang sudah digembar-gemborkan sejak lama hanya untuk kejar setoran saja, buktinya makin bersyariah, makin liar isi nanggroe ini,“ tukas teman saya lagi.
Syariah, sebutnya, bukanya hanya shalat lima waktu, menutup aurat, tidak beruda-duaan, tapi juga melingkupi perilaku kita sehari-hari. Misalnya, tidak mengeluarkan kata-kata makian yang merangkum bentuk lubang dubur (maaf!) hingga bentuk hewan yang diharamkan agama. „Tapi juga bagaimana kita bisa menjadi seorang yang sabar ( ini selalu terlihat dalam aturan berlalu lintas ), lalu bagaimana kita selalu bersikap intelek, ( dan ini juga tercermin bagaimana kita menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan ), lalu bagaimana kita terlihat menjadi orang yang berderajat tinggi ( dengan tidak selalu melakukan aksi penipuan disegala bidang ),“ jelas teman saya lagi.
Saya tidak merasa sedang dikhutbahi.
Memang, diakui atau tidak, situasi dan kondisi (mungkin ini terus menjadi ujian bagi kita dari Allah) telah membuat semua warga di nanggroe ini mulai terkikis hati nuraninya dan perasaan jiwanya. Keegoisan dan ingin menang sendiri mulai memuncak disetiap langkah kaki mengawali hari demi hari. Barangkali kita sudah lupa, bagaimana indahnya kebersamaan dalam sebuah khidupan. Kebersamaan menjalankan syariah, kebersamaan menjalankan roda ekonomi, bahkan kebersamaan menjalani rasa luka dan duka.
Tapi kita masih mungkin kok mengembalikan itu semua, Cuma caranya bagaimana?
Saya pun kembali tergugu. *****
No comments:
Post a Comment