Keep
Fight, Mori....
Dia lelaki muda, dengan usia 26 tahun, taksir saya. Berkaos oblong dan celana training spack, sebuah tentengan plasti merah ditangannya.
Pertemuan dengannya pada Selasa (20/1/2015) malam sekitar pukul 21.00 wib ini saya yakini bukan kebetulan, tapi memang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, sebagai pengingat, kalau saya memang harus bersyukur, dengan semua nikmatNya.
Lelaki muda ini bernama Mori. Dia mengaku baru saja menerima "vonis kematian" atas dirinya.
Tas plastik berwarna merah itu, sebut Mori berisikan dokumen hasil pemeriksaan dari Laboratorium, dan menyatakan kalau dia positif mengidap Kanker Darah alias Leukimia.
Deg...!!!!
Putus asa dan kesedihan jelas terlihat dimatanya. Dan saya pun nyaris tak sanggup mendengar kenyataan itu.
Saya bukan sekali dua berhadapan dengan orang-orang yang berjalan menuju kematiannya.
Pasien thalassemia (yang hampir 90% adalah anak-anak), pasien kanker (termasuk anak-anak), adalah orang-orang yang pernah saya temui.
Tapi perasaan saya beda sekali malam ini. Sedih dan terkejut, mungkin sama dengan yang dirasakan Mori.
Namun saya tahu, kedatangan Mori ke tempat kami (saat itu saya dan teman teman sedang berkumpul di Nemo Galery), bukanlah untuk menambah kesedihannya, tapi tentunya ingin mendapat dukungan dan tiupan semangat. Dan itu yang diberikan teman-tem, di Galllery, terutama Kak Nurjannah.
Pengalaman Kak Nurjannah sebagai relawan pendamping penderita Thallasemia, dibagi untuk Mori, sebagai support moral.
Pastinya, orang-orang seperti Mori, tidak satu dua, tapi banyak. Namun bagaimana kita bisa memberi dukungan kepada mereka agar mereka pun bisa menjalankan hidupnya dengan baik dan bersemangat, tanpa harus menghitung hari menuju kematiannya.
Langkah, rezeki, pertemuan dan maut, adalah hak prerogatif Tuhan, Mori.
Tak ada yang bisa menyangkal dan menghindar dari itu jika sudah tiba waktunya.
Dan saya pun terenyuh, bagaimana mungkin saya mengeluhkan sedikit sakit yang saya rasakan, sementara masih banyak rasa sakit yang lebih hebat dirasakan oleh orang lain, namun mereka bertahan..
Keep Fight, Mori...!!
Kamu salah, jika berpikir tak lagi berguna, karena kamu sudah memberi kami pelajaran, sabar, ikhlas dan semangat hidup yang luar biasa.. *****
Dia lelaki muda, dengan usia 26 tahun, taksir saya. Berkaos oblong dan celana training spack, sebuah tentengan plasti merah ditangannya.
Pertemuan dengannya pada Selasa (20/1/2015) malam sekitar pukul 21.00 wib ini saya yakini bukan kebetulan, tapi memang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, sebagai pengingat, kalau saya memang harus bersyukur, dengan semua nikmatNya.
Lelaki muda ini bernama Mori. Dia mengaku baru saja menerima "vonis kematian" atas dirinya.
Tas plastik berwarna merah itu, sebut Mori berisikan dokumen hasil pemeriksaan dari Laboratorium, dan menyatakan kalau dia positif mengidap Kanker Darah alias Leukimia.
Deg...!!!!
Putus asa dan kesedihan jelas terlihat dimatanya. Dan saya pun nyaris tak sanggup mendengar kenyataan itu.
Saya bukan sekali dua berhadapan dengan orang-orang yang berjalan menuju kematiannya.
Pasien thalassemia (yang hampir 90% adalah anak-anak), pasien kanker (termasuk anak-anak), adalah orang-orang yang pernah saya temui.
Tapi perasaan saya beda sekali malam ini. Sedih dan terkejut, mungkin sama dengan yang dirasakan Mori.
Namun saya tahu, kedatangan Mori ke tempat kami (saat itu saya dan teman teman sedang berkumpul di Nemo Galery), bukanlah untuk menambah kesedihannya, tapi tentunya ingin mendapat dukungan dan tiupan semangat. Dan itu yang diberikan teman-tem, di Galllery, terutama Kak Nurjannah.
Pengalaman Kak Nurjannah sebagai relawan pendamping penderita Thallasemia, dibagi untuk Mori, sebagai support moral.
Pastinya, orang-orang seperti Mori, tidak satu dua, tapi banyak. Namun bagaimana kita bisa memberi dukungan kepada mereka agar mereka pun bisa menjalankan hidupnya dengan baik dan bersemangat, tanpa harus menghitung hari menuju kematiannya.
Langkah, rezeki, pertemuan dan maut, adalah hak prerogatif Tuhan, Mori.
Tak ada yang bisa menyangkal dan menghindar dari itu jika sudah tiba waktunya.
Dan saya pun terenyuh, bagaimana mungkin saya mengeluhkan sedikit sakit yang saya rasakan, sementara masih banyak rasa sakit yang lebih hebat dirasakan oleh orang lain, namun mereka bertahan..
Keep Fight, Mori...!!
Kamu salah, jika berpikir tak lagi berguna, karena kamu sudah memberi kami pelajaran, sabar, ikhlas dan semangat hidup yang luar biasa.. *****
Mengenal Penyakit Leukemia
Berbicara tentang leukemia berarti berbicara tentang kanker. Leukemia memang kerap disebut kanker sel darah putih. Pertandanya? Lonjakan jumlah sel darah putih (leukosit) yang tidak normal dalam darah Anda. Ini yang terjadi dalam tubuh saat terjangkit leukemia:- Dalam darah terdapat tiga macam sel yang memiliki fungsinya masing-masing. Sel darah merah bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, sel trombosit membantu pembekuan darah jika terjadi luka, dan sel darah putih menjadi ‘pasukan’ melawan virus dan bakteri penyebab infeksi. Normalnya, tiap-tiap sel darah memiliki masa hidupnya masing-masing, di mana sel-sel yang tua dan rusak akan mati dan segera digantikan oleh sel-sel baru. Khusus untuk sel darah, produksinya terjadi di sumsum tulang. Tak kurang dari milyaran sel darah baru yang kebanyakan adalah sel darah merah diproduksi setiap harinya.
- Pada penderita leukemia, terjadi abnormalitas produksi. Tubuh mereka memproduksi sel-sel darah putih jauh lebih cepat dan lebih banyak daripada seharusnya. “Masalah timbul ketika sel-sel tersebut bertahan lebih lama dari masa hidupnya dan mulai menginvasi sel-sel darah yang lain,” jelas DR. dr. Aru Sudoyo, Sp.PD, K-HOM, FINASIM, FACP., dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
- Sel-sel rusak tersebut tumbuh dengan cepat dan sayangnya tidak mudah mati seperti seharusnya. Jumlahnya yang terus bertambah akhirnya menjadi beban bagi organ tubuh. Puncaknya, ketika kinerja sumsum tulang dalam memproduksi sel-sel darah yang lain terganggu. Akibatnya? Tubuh kekurangan oksigen akibat jumlah sel darah merah yang berkurang drastis. Belum lagi luka yang sulit menutup karena jumlah trombosit yang terkikis. ‘Tentara’ yang seharusnya melindungi tubuh Anda kini berbalik mengkudeta hidup Anda.
- Sialnya, walaupun berjumlah sangat banyak, kinerja sel-sel abnormal ini justru tidak bisa diandalkan sama sekali. Sistem kekebalan tubuh akan menurun secara signifikan, menjadikan pasien-pasien leukemia tidak berdaya melawan serangan infeksi –termasuk yang paling ringan sekalipun. Dan, karena mengalir bersama darah, sel kanker bisa menyebar ke semua organ tubuh, termasuk otak, tulang, hati, dan limfa, yang kemudian menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Makanya, penderita leukemia juga ada yang mengeluhkan gejala demam, kulit pucat, memar-memar, sakit kepala berkepanjangan, berkeringat di malam hari, pembengkakan kelenjar getah bening, hingga berat badan yang menyusut tajam. Bahkan, pasien juga berisiko mengalami memar hingga perdarahan yang tak kunjung berhenti.
- Leukemia Akut (Acute Leukemia). Pada leukemia akut, sel-sel abnormal muncul secara mendadak dan merusak fungsi jaringan tubuh yang lain dalam waktu singkat. Yang meresahkan, sel-sel leukemia tersebut dengan cepat menekan produksi sel darah merah, membuat pasien mengalami anemia parah.
- Leukemia Kronis (Chronic Leukemia). Sementara pada leukemia kronis, proses pembelahan sel-sel abnormal berjalan lebih pelan. Sel darah merah dan trombosit tetap diproduksi, walaupun jumlahnya masih di bawah normal. Saking pelannya, pada kebanyakan kasus, gejala leukemia kronis justru baru muncul setelah bertahun-tahun. Namun, walaupun terlihat normal, pada kenyataannya jumlah sel darah putih akan terus meningkat. Akibatnya tetap bisa fatal jika tidak segera ditangani.
- Acute Lymphocytic Leukemia (ALL)
- Acute Myelogenous Leukemia (AML)
- Chronic Lymphocytic Leukemia (CLL)
- Chronic Myelogenous Leukemia (CML)
No comments:
Post a Comment