Sosok
Misterius ini pergi dengan rahasianya
Bagi saya, dia tetap sebagai sosok yang misterius. Meski
sudah berteman lebih dari 10 tahun, dia selalu mampu menyembunyikan sesuatu
yang menurutnya itu bersifat pribadi dan tidak harus diketahui oleh orang lain.
Bahkan laki-laki yang lebih suka memakai sandal ketimbang
sepatu ini, cenderung lebih suka berkomunikasi secara tulisan (via sms,
whatsapp, atau bahkan BBM) kepada seseorang yang ditujunya, jika ia ingin
menyampaikan sesuatu hal yang serius.
Namanya Fakhrurradzie Muhammad Gade. Dikenal luas sebagai
pemimpin redaksi media online www.acehkita.com.
Situs berita yang digawanginya jatuh bangun.
Saat gempa dan tsunami melanda Aceh, Radzie (pastinya dengan
embel-embel Bang, begitu saya memanggilnya) memutuskan untuk pulang ke Aceh,
tepatnya ke Banda Aceh. Setiba di Banda Aceh. yang dilakukannya adalah
memastikan semua kontributor acehkita.com selamat dan sehat. Kemudian dia juga sempat bekerja di Badan
Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh di bagian humas dan komunikasi, hingga
kemudian badan ini tutup lalu Radzie aktif terus mengelola website tersebut.
Sambil mengelola dan sesekali saya juga mengisi laman di
situs acehkita.com, Radzie dan beberapa teman menerbitkan majalah bulanan
AcehKini. Banyak hal yang kami rekam disana. Hanya bertahan setahun lebih,
majalah itu kemudian tutup karena ketiadaan biaya operasional. Sebelumnya semua
biaya operasional dikeluarkan dari kantongnya sendiri dan urunan dari beberapa
teman seperti Yuswardi Ali Suud, dan Bang Nurdin Hasan, serta beberapa teman
lainnya. Satu hal yang membanggakan kami bahwa tulisan di Majalah AcehKini
pernah menjadi finalis pada kompetisi Mochtar Lubis Award. Sebuah ajang
penghargaan jurnalistik di Indonesia.
Hari-hari saya dan dia, berjalan sebagaimana adanya, banyak
peliputan yang kami jalani bersama. Banyak aktifitas yang kami kerjakan
bersama, terutama aneka aktifitas di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda
Aceh dan saat mengelola Muharram Journalism College (MJC).
Jujur, selama berteman dan menjalani aktifitas bersama tak
banyak hal yang saya tahu tentang dirinya, selain saya berusaha membaca sendiri
karakter dan siapa sosok Radzie sebenarnya.
Saya menggarisbawahi bahwa ia adalah sosok jurnalis yang
sangat menjunjung tinggi idealisme, berwawasan, karena dia selalu meng-upgrade
kemampuan dan pemahaman jurnalisme seiring dengan perkembangan yang ada. Hingga
kemudian, dia juga memfokuskan dirinya sebagai jurnalis yang juga sebagai
blogger. Ketertarikannya pada dunia maya membuat dirinya menjadi lumayan piawai
untuk bergelut jurnalisme online dan media sosial.
Di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh, Radzie
adalah sosok yang boleh dikatakan khatam mengutak atik media online dan media
sosial, selain ada sosok lainnya yakni Taufik Mubarak, yang sama-sama juga
mengelola Acehkita.com
Setiap ada pelatihan jurnalistik, maka materi media online
dan sosial media menjadi santapannya.
Tahun 2015, saya mulai melihat ada banyak perubahan pada
fisiknya. Mengelola usaha laundry yang didirikannya, menjadi seorang jurnalis,
mengerjakan beberapa project penulisan buku, dan bekerja sebagai humas dan PR
yang dikontrak per-event adalah kesibukannya saat itu. Perubahan pada fisiknya,
salahs atunya dalah penurunan berat badan yang drastis, menurut saya kala itu
disebabkan oleh begitu banyaknya aktifitas yang dialkoni. Hingga kemudian kami
mendapatinya harus dirawat dirumah sakit. Dan saat itulah kami diberi tahu
kalau dia memang sakit.
Jika ada laki-laki memiliki sifat peduli, penyayang dan
tegas di dalam keseharian saya, maka dia adalah Radzie. Setelah dia memutuskan
untuk berdomisli di Banda Aceh, anak bungsu dalam keluarganya ini kemudian
menjadi penopang dan panutan bagi hampir semua keponakannya.
Beberapa ponakannya diboyong ke Banda Aceh untuk melanjutkan
sekolah ke jenjang perguruan tinggi. Dan saat itu juga dia mulai menjadi
penjaga sekaligus orangtua bagi para keponakan. Mulai dari mengantar dan
menjemput keponakan ke kampus, hingga meminjamkan laptop agar sang ponakan
lancar mengerjakan tugas kampus. Dan kini, seorang keponakannya bernama Agus
Setyadi, sukses mengikuti jejak sang Cecek (Paman) menjadi seorang jurnalis
muda yang aktif dan rajin.
Sehari sebelum kepergiannya, saya memang tak bersamanya,
seperti dua, tiga, bahkan sepekan sebelumnya kami ada di Sekretariat AJI Kota
Banda Aceh. Beberapa pekerjaan saya membuat kami tak bertatap muka pada hari
Kamis, 10 November 2016. Hingga pada kamis sorenya saya datang ke sekretariat,
kemudian saya mendapat kabar kalau lelaki dengan nama kecil Imran ini, kembali
dirawat di rumah sakit.
Bersama staf sekretariat AJI Banda Aceh, Kak Maisara, kami
memutuskan untuk membezuk Radzie pada hari sabtu dikeesokan harinya. Tapi
Takdir Allah berkata lain. Allah memanggilnya pada Jumat 12 November 2012 pukul
23.30 wib.
Kabar duka ini bak petir disiang bolong. Hanya berselang 30
menit saya tiba dirumah sekembalinya dari Markas AJI Banda Aceh, kabar itu
justru saya dapat dari seorang teman jurnalis di Takengon bernama Iwan Bahagia.
Dia menanyakan kenapa banyak teman di grup messanger Whatrsapp AJI Indonesia
menyampaikan ucapan belasungkawa atas kepergian Bang Radzie.
Saya terhenyak, menyesalkan gadget saya yang berulah dan
henk, sehingga tak membaca pesan-pesan duka yang sudah ramai di pada semua
layanan messanger. Saya menelpon Reza Fahlevi (Jurnalis Analisa di AJI Banda
Aceh) untuk memastikan kabar tersebut. “Iya, Bang Radzie sudah pergi dan kami
juga baru tahu dan baru tiba di rumah sakit,” itu kata Reza.
Tanpa bertanya panjang lagi, saya langsung menuju Rumah
Sakit Pertamedika, dan saya tak bisa menahan kesedihan saya. Rasa kehilangan
begitu mendalam bagi saya.
Hmmm…. Kehilangan ini harus kami lewati, kesedihan ini harus
kami rasakan. Menghadirkan lagi sosok Radzie dalam kehidupan saya dan
teman-teman itu adalah hal yang tak mungkin. Tapi “warisan-warisan” berupa
ilmu, sikap, sifat itulah yang kini harus dijaga dan dipertahankan, sehingga ia terus abadi bersama kami, bersama dunia
jurnalisme di Aceh.
Satu mimpinya yang terus melekat di benak saya, bahwa ia
memiliki keinginan kuat untuk mendirikan sebuah media cetak di Aceh, yang
memiliki nama besar. “ Selain memberikan informasi juga mencerdaskan
masyarakat,” katanya.
Apapun itu, dia tetap sosok misterius bagi saya,
se-misterius dia merahasiakan detil kehidupan pribadinya kepada semua orang
hingga akhir hayatnya. Dalam senyumnya, hanya dia yang tahu apa yang
diinginkannya.
Selamat jalan Bang Radzie, purnama ini kami mendoakanmu,
begitu juga pada purnama-purnama selanjutnya. Doa itu akan terus mengalir,
seperti halnya apa-apa yang sudah engkau bagikan pada semua teman, kerabat dan
sejawat bahkan anggota keluarga, seperti air, akan terus mengalir dan memberi
makna bagi kehidupan yang engkau tinggalkan. ***** (Yayan)
NB : Tulisan ini dimuat pada Surat Kabar Mingguan Berita Merdeka Edisi 16-20 Nov 2016, dan sudah mendapatkan suntingan dari redaksi SKM-BM, termasuk judulnya. Di SKM Berita Merdeka dimuat dengan Judul : Perginya Sang Panutan. Terimakasih untuk SKM Berita Merdeka, khususnya Bang Mohsa El Ramadan, yang sudah memuat tulisan ini.

No comments:
Post a Comment