26 Desember 2008
Hari ini.. empat tahun yang lalu….
Aku baru terbangun dari tidur, tangan masih mengucek mata, waktu itu 26 desember 2004, hari minggu. Minggu pagi ini memang agak telat bangun. Semalaman ndak bisa tidur, mataku baru bisa terlelap pukul 5.30 wib pagi.
Sedang asyik mengucek mata, getaran mulai terasa, sedikit demi sedikit dan semakin kencang. Aku tak menyangka itu gempa, aku sibuk memegangi kaca lemari buku ku. Aku berpikir pastilah ada truk besar lewat di depan rumah. Tapi aku salah. Itu adalah gempa, awal dari segala kehancuran.
Turun dari lantai dua rumahku, aku sibuk mencari mamak, yang akhirnya kami temui dia terduduk lemas tak berdaya di bawah pohon belimbing di belakang rumahku.
Masih tak percaya, aku pun sibuk menelpon kantor ku elshinta di jakarta untuk membuat live report tentang gempa besar 8,9 scala richter ini.
Masih berbicara di telpon, gempa datang lagi dan lebih kencang, membuat barang-barang disekitarku berjatuhan. Akupun meninggalkan telpon tanpa basa basi. Keluar rumah, sambil menggendong mamakku. Tiba-tiba lautan manusia tumpah ruah dijalan, katanya air laut naik. Kutoleh ke belakang, 100 meter dibelakangku air menghitam sudah mendekat.
Sedemikian penderitaan yang kami lewati, alhamdulillah, aku masih ditemani oleh orang-orang yang kusayang, orangtua dan adik-adikku. Aku yakin, aku tak sanggup jika ditinggal mereka, dan Tuhanpun yakin kalau aku tak sanggup hidup sendiri tanpa mereka.
Ini yang terus aku syukuri.
Hari ini... 26 Desember 2008, pagi ini aku lewati jalan dimana empat tahun lalu kami pernah berlari menyelamatkan diri disana. Aku terpekur.. tak terasa waktu cepat berlalu. Sedikit INGATAN dariNYA, sudah ku rasakan.. dan mudah-mudahan harus terus menjadi ingatan dalam diriku, bahwa HIDUPKU ADALAH MILIKNYA.
Mengenang musibah empat tahun lalu bukan berarti harus meratapinya lagi. Kesedihan itu tak mungkin lekang dari hati dan ingatanku. Tapi jalan didepanku masih panjang. Ada banyak hal yang harus dilakukan selain dari hanya meratapi masa lalu.
Petuah bijak berikut ini, selalu aku ingat, dengar dan baca, jika aku mulai merasa sedih:
” ada banyak hal yang bermanfaat yang sebenarnya bisa kita lakukan. Namun akhirnya menjadi sia-sia karena 2 hal, pertama : meratapi masa lalu, keduanya : khawatir akan masa depan. Ada yang meratapi masa lalu sampai lupa bagaimana caranya tersenyum. Airmatanya kering sia-sia karena menangisi waktu yang tidak pernah kembali. Gairah hidupnya hilang, bahkan hanya sekedar untuk membuka tirai kamar dipagi hari. Tidak ada kata lain yang meluncur dari bibirnya, kecuali : jika saja, andaikan, apabila, kalau saja, dan lain sebagainya. Dan kata yang sebenarnya tidak mengembalikannya ke masa lampau. Hati yang membeku akan sulit merasakan keindahan dan ketenangan. Menyesali masa lalu tidak membuat kenangan buruk menjadi indah. Untuk kesalahan yang pernah kita lakukan, ALLAH tidak pernah menuntut kita untuk tidak pernah melakukannya. Namun Allah meminta agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi.
Orang yang baik, bukanlah yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan orang yang tidak melakukan kesalahan yang sama...”
Untuk semua orang yang saya cintai, terutama keluarga dirumah , ayah, ibu dan adik-adikku : SAYA SAYANG KALIAN SEMUA..
No comments:
Post a Comment