Saturday, April 4, 2009

Mengutip Sanger yang Terserak

Telah kita lewati banyak riwayat; duplikat monyet ukuran kecil, dua batang lilin kehidupan, saputangan warna hitam (yang kata mitos pertanda perpisahan), cuplikan episode hidup yang terserak diwarung kopi, percakapan hingga dini hari, hingga desiran angin gunung dan uraian rintik hujan.
Aku telah lewati itu, dan telah pula diselingi dengan episode hidup babak lanjutan. Tapi masih kutemui juga rindu yang sama, masih saja kurasakan kisah yang sama, masih kulihat warna yang sama, yang semakin aku mencoba melupakannya, semakin erat melekat dibenakku. Yang semakin kucoba kubur dalam sudut hati yang paling pojok, semakin ia mendesak muncul ke permukaan.
Kucoba putar balikkan kenyataan, dengan menikmatinya, ternyata memberi keresahan yang semakin mendalam. Maafkan aku yang tak bisa hindari ini. Kucoba bertahan, tapi tak tertahankan.
Seandainya boleh bertanya kepada Tuhan, apa sih rahasia dibalik rencanaNya mempertemukan kita dalam sebuah gelas berisikan sanger..
Rasa manis sanger terkadang membuat kita lupa, (kita..????? tepatnya aku..!!) kalau kita (hmm... kita..?? lagi-lagi tepatnya aku) telah menabrak dinding kehidupan yang memberi batasan ruang dan waktu.
Atau kita jalani saja.. dengan segala konsekuensinya.

1 comment:

Asnawi Kumar said...
This comment has been removed by a blog administrator.