
Mencium jemarimu adalah ritual paling dahsyat yang begitu menggetarkan, sebuah bentuk penghormatan yang menggembirakan dan menyembuhkan, memberi lega dan kepatuhan diri. Tak akan ada kelegaan diri, jika tak mencium jemarimu, sepertinya lain kali, aku akan merasa bersalah bila hanya dapat mencium jemarimu saja.
Pertemuan pertama setelah berselang waktu yang panjang, usai pernyataan penyatuan dua hati saat itu. Ada hangat mengalir dalam relung jiwa, meski dingin memburai malam buta. Sebuah rasa merasuk dalam jiwa dan nuraniku, mempertanyakan apakah ini menjadi labuhan terakhir perjalanan panjang yang tanpa perasaan selama ini.
Karena otak dan hati kemudian mulai menebak-nebak, sepertinya Tuhan mulai mempertemukan dua jiwa yang terpisah, untuk kemudian bersatu dan berjalan di titianNya.
Waktu demi waktu bergerak cepat, kegembiraan dan kegelisahan datang silih berganti. Terkadang membara jiwa namun seringkali kelembutan salju mengakhirinya. Hingga pada suatu saat kemurkaan menjadi pemenang yang hadir tanpa ada pertandingan.
Belum berbilang tahun perjalanan kita, kanda, namun sudah harus kandas tanpa alasan yang jelas. Kedatangan sosok yang melebihiku (mungkin itu menurutmu), mulai mengalahkan keberadaanku.
“Cinta tak mengenal usia,” itu kata yang sering ku simak dalam setiap perjalanan cinta yang dinilai mengalamai distorsi, yang mendobrak dinding pranata sosial dimata manusia.
Distorsi ini tengah melanda kita dan cinta kita. Awal perjalanan yang tidak membuatmu menyadari bahwa ini sebuah kesalahan.
Entah seberapa banyak catatan yang kemudian masuk dan mengisi relung-relung pemikiranmu, yang kemudian membuat arus berpikir menjadi berputar, yang akhirnya mengejutkan ku. Teramat sangat mengejutkan. Padahal aku juga sudah mempersiapkan diri untuk mencoba berdialog tentang distorsi dinding pranata kehidupan, yang sepertinya akan kita lalui. Akan mendialogkan kesiapan dirimu dan diriku. Tapi ternyata waktu terlalu cepat bergerak dan mendahuluiku.
“Lihat saja Nabi dan istrinya Khadijah, jika kamu mempersoalkan usia dalam percintaanmu,” ungkap banyak orang dihadapanku. Tapi entah ada terlintas dipikiranmu akan pernyataan yang sama, atau bahkan akan kisah yang sama, yang sering diceritakan ustad dan guru dalam setiap pelajaran agama saaat dibangku pengajian dan bangku sekolah.
Mungkin ada penyesalan disini, karena punca dari perpisahan ini bukanlah hanya terletak di ujung jari usia yang sudah ditkdirkan Tuhan, melainkan juga lewat sebuah upaya perebutan dan nafsu yang bergelora.
Tak mungkin rasanya Tuhan tega mempermainkan hambaNya, sehingga harus merasakan sebuah penderitaan dan ketersiksaan, karena kehilangan.
Tak ada penjelasan, hingga vonis menjalar dari lisanmu untuk hatiku. Air mata kemudian membawa ku terbang tak tentu arah, sambil terus mencari jawaban yang bisa memuaskan hati. Bahkan sampai kini jawaban itu tak kudapat juga.
Kini lewat terbangan debu, dan hembusan angin ku terbangkan semua rasa yang dulu pernah menggelora, lewat ciuman jemari yang kemudian sempat kita tabalkan menjadi sebuah ritual penyerahan jiwa sepenuhnya antara Adam dan Hawa. Sebuah penghormatan kepada seorang yang diharap akan menjadi imam kehidupan, sebagaimana diintruksikan Tuhan dalam kitabNya.
= untuk mu yang belum bisa hilang dan terhapuskan =
No comments:
Post a Comment