Oleh : Daspriani Y Zamzami
Sepintas tak ada yang beda dari tampilan mie instant rebus yang disajikan di hadapan saya. Mie kuah, dengan taburan
kacang goreng, dan potongan cabe rawit. Tapi, kata teman yang mengajak saya ke tempat itu, ini adalah mie instant rebus yang lezat yang bakal tak terlupakan oleh lidah.
Selaku orang aceh, makanan serba asam dan pedas tentu sudah lekat dengan saya. Namun ketika mencicipi mie instant rebus ini, rasa yang cukup khas langsung saja menghampiri indera pengecap saya. Asam dan pedas yang begitu nikmat.
Malam baru saja mulai. Saya dan dua teman mengarahkan kendaraan kami ke kedai mie yang terbilang sederhana ini. Tak banyak pelanggan malam itu. “ Biasanya mereka datang menjelang tengah malam dan menonton pertandingan sepak bola,” kata siempunya kedai.
Dicandai cuaca yang sejuk, maklumlah kota yang dikenal dengan sebutan kota naga ini berada di lingkung bukit dan berbatas pula dengan pantai. Hawa pantai yang hangat berbaur jadi satu dengan hembusan angin gunung yang menjadi kaki dari pegunungan leuser. Gunung tertinggi di Aceh, yang juga merangkap sebagai taman nasional. Kalau sudah begini, menyantap kudapan hangat memang sudah jodohnya.
Si penjaja mie, menyebutnya mie bokhom. Nama yang asing terdengar ditelinga. Istilah bokhom dipakai karena cara memasak mie yang hanya dengan merendam dengan air panas. Sebungkus mie instant direndam dalam secangkir air panas, kemudian setelah mie lembut dimasukkan ke dalam mangkuk, dimana didalam mangkuk sudah disiapkan bumbu dan irisan cabe rawit serta perasan jeruk nipis. Sederhana, tapi menurut beberapa teman yang sudah lebih dulu mencicipi mie bokhom, selalu dirindui.
Kedai jajanan mie bokhom yang terletak di desa Jambo Apa, Kecamatan Tapaktuan, kabupaten Aceh Selatan ini, bisa dikatakan menjadi jajanan favorit bagi warga sekitar. Tak hanya itu, mie bokhom juga menjadi jajanan favorit dikalangan pendatang.
Sebenarnya, jajanan mie bokhom bisa juga ditemui di dua lokasi lain, yang letaknya sangat berjauhan. Satunya di Kabupaten Singkil, lebih dari 200 kilometer kea rah barat Kota Tapaktuan, dan satunya lagi di Kecamatan Teunom, Kabupaten Aceh Jaya, dengan jarak tempuh lebih dari 300 kilometer arah timur dari Kota Tapaktuan.
Di Teunom, mie bokhom ini juga sangat dikenal oleh masyarakat setempat, dan menjadi terkenal juga dikalangan masyarakat pendatang, karena kedai penjaja mie instant rendam ini (memang tak cocok menyebutnya mie rebus) terletak di kawasan pasar dan menjadi singgahan para pengguna jalan raya Calang-Meulaboh.
Disini, mie instant direndam dengan air panas mendidih langsung didalam plastiknya, dan langsung disajikan dihadapan pelanggan. Dalam mangkuknya sudah tersedia bumbu dan irisan cabe rawit. Mie bokhom Teunom ini juga menjadi makanan favorit bagi setiap orang yang singgah di kedai tersebut.
Disingkil lebih unik lagi. Selain menyajikan mie yang sudah direndam air panas, si penjaja juga menyajikan bawang merah dan cabe rawit diatas meja lengkap dengan pisaunya. Mengiris bawang dan cabe beralih menjadi tugas si konsumen sambil menunggu mie lembut dan mengembang.
Selain mie bokhom, kedai dengan ukuran 1x12 meter yang dikelola oleh pasangan suami isteri Sudiwar (46) dan Juraida (41) ini juga memiliki menu unik lainnya, yakni kopi pinang.
Jangan pernah membayangkan anda akan disuguhkan segelas kopi yang sudah dicampur dengan pinang. Kopi pinang adalah sebutan untuk minuman yang terdiri dari buah pinang dan sejumlah akar-akaran lain yang sudah ditumbuk menjadi bubuk halus, ibaratnya bubuk kopi.
“Diseduh air panas, minuman bubuk pinang ini sudah bisa langsung dikonsumsi. Rasanya mirip kopi tapi lebih sepat alias lebih kelat,” ujar Juraida.
Menurut ibu beranak empat ini, minuman bubuk pinang ini memiliki banyak khasiat, diantaranya sangat bermanfaat bagi penderita diabetes, stroke, asma, asam lambung, bahkan hingga meningkatkan vitalitas bagi kaum pria. “Alhamdulillah ada banyak pelanggan yang sakitnya menjadi lebih ringan bahkan sembuh dengan mengkonsumi minuman ini secara rutin. Ini pengakuan dari para pelanggan,” katanya.
Sampai-sampai, Juraida nyaris kewalahan jika harus memenuhi pesanan dari luar kota, Bandung dan Jakarta, misalnya.
Kendati demikian, Juraida masih merasakan kendala yang amat berat bagi usaha yang menopang hidup keluarganya itu. Ketiadaan modal, membuat produksi bubuk kopi pinang racikan Juraida masih dilakukan dengan manual dan sederhana.
“Kini kami sangat membutuhkan modal untuk memperluas usaha dengan membangun tempat produksi yang lebih layak, dan membuat kemasan bubuk pinang menjadi lebih baik, tapi belum ada bantuan modal,” kisahnya.
Usaha kedai Juraida ini sudah dirintis sejak tahun 2002. Kedai ini menjadi sumber penghidupan bagi keluarga mereka. Namun dengan menu yang tak berbeda dengan kedai-kedai pada umumnya, Juraida tak banyak memiliki pelanggan. Hingga akhirnya di tahun 2007 ia menemukan resep racikan turun temurun, yakni bubuk kopi pinang, yang kemudian dijadikan menu andalah bagi kedai sederhananya itu. “Pak gubernur pun sudah pernah minum kopi pinang disini, bahkan sampai dua gelas besar,” kenang Juraida.
Sehari-hari, Juraida bisa menghabiskan 30 kilogram pinang pilihan dan sekitar 3 kilo akar-akaran dari berbagai jenis tanaman berkhasiat, untuk membuat bubuk kopi pinang ini. Akar-akarannya pun berasal dari akar lalang pilihan, akar batang pinang dan beberapa pohon yang hanya bisa ditemui di perbukitan dan hutan.
Juraida sangat berharap kedai kopi miliknya bisa berkembang lebih baik, terutama pemasaran kopi pinang miliknya. “Kami berharap pemerintah daerah bisa memberi perhatian terhadap usaha kami, karena saya sangat berniat untuk memasarkan produk bubuk kopi pinang ini keluar Aceh dan membawa nama besar Aceh Selatan,” sebutnya.
Jika anda ingin membuktikan kedahsyatan rasanya kopi pinang, silakan saja datangi kedai Bu Juraida. Bagi anda pecandu kopi, pastinya anda ditantang untuk mencoba “kopi” yang satu ini. *****
No comments:
Post a Comment